x

Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook, tertawa disela-sela pidatonya dalam pertemuan KTT Internet.org di New Delhi, India, 9 Oktober 2014. REUTERS/Adnan Abidi

Iklan

Burhan Sholihin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Blusukan Way

Para menteri berlomba melakukan blusukan seperti halnya Presiden Jokowi. Apa efektif?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Ada sejuta harapan masyarakat yang menggantung di kabinet baru Presiden Joko Widodo. Kalangan buruh, misalnya, sudah sejak jauh hari minta upah buruh naik lagi. Kalangan nelayan meminta agar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tak menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Begitu tinggi harapan masyarakat, sampai-sampai banyak akademikus yang cemas. Kabinet Jokowi dianggap bisa cespleng menyelesaikan semua persoalan.

"Inflasi harapan sudah demikian besar. Bila dibiarkan, akan terus menggembung dan meletus… darr… seperti balon," kata kawan saya yang bergelar doktor dari sebuah universitas di Australia itu.

Para menteri pun bingung menghadapi inflasi harapan yang begitu besar. Sebagian dari mereka pun berlomba melakukan blusukan. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri, contohnya, sampai lompat pagar saat melakukan inspeksi pada sebuah kantor penampung tenaga kerja Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga turun ke lapangan dan menyemprot kapal-kapal ikan yang memakai bahan bakar minyak bersubsidi tapi hasil tangkapannya sedikit.

Blusukan way sudah menjadi tren, bahkan dianggap kelewatan oleh beberapa politikus. "Saya ingin muntah lihat pejabat yang sering blusukan," kata Nurul Arifin.

Memang, tak semua blusukan para menteri itu menyelesaikan masalah. Misalnya, ke mana Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara blusukan? Apakah programnya itu menghasilkan langkah yang penting?

Pada 5 November lalu, mantan bos di PT Excelcomindo (XL) ini berkunjung ke rumah Samuel Franklyn di Jalan Asem 4, Tanjung Duren, Jakarta Barat, pada Rabu malam, 5 November 2014. Samuel adalah programmer bahasa Java yang berjuang melawan kelumpuhan.

Menurut Rudi, semangat Sami-panggilan Samuel-dalam dunia informasi dan teknologi perlu dijadikan panutan. Alasannya, keterbatasan tidak menjadi halangan bagi Samuel untuk bekerja. "Dengan kondisi yang demikian, Sami bisa melakukan banyak hal. Masak kami yang normal tidak bisa?" ujar Rudi.

Samuel mengalami kelumpuhan sejak 2010. Samuel lumpuh setelah terjatuh dalam perjalanan menuju tempat kerja. Empat bulan sejak kejadian tersebut, dua pertiga tubuhnya lumpuh. Samuel merupakan tokoh dari komunitas Java.

Kira-kira, apakah blusukan Rudiantara itu penting? Mungkin itu bisa saja dikategorikan penting untuk menumbuhkan semangat anak-anak muda membuat karya di dunia digital. Namun banyak "pekerjaan rumah" yang menanti Rudiantara untuk segera dirampungkan.

Soal kecepatan Internet, contohnya. Selama ini pemerintah masih belum serius mengurusnya. Tak mengherankan bila Indonesia berada di urutan ke-101 soal ini. Nyaris sejajar dengan Filipina (103) atau India (115). Kecepatan rata-rata Internet Indonesia maksimal cuma 2,5 megabit per detik (Mbps). Bandingkan dengan raja broadband seperti Korea Selatan dan Hong Kong yang mencapai kecepatan 24,6 Mbps dan 15,7 Mbps. Negeri jiran Malaysia dan Thailand pun sudah meninggalkan kita dengan kecepatan 4,3 Mbps dan 6,3 Mbps atau berada di urutan ke-69 dan 47.

Membangun infrastruktur Internet itu seperti membangun jalan. Sekali jalan terhampar, ekonomi akan tumbuh berlipat-lipat. Nah, blusukan way model seperti ini yang kita nantikan dari Menteri Rudiantara. (*)

Ikuti tulisan menarik Burhan Sholihin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu