x

Iklan

Kamaruddin Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Surabaya Kini, Bagaimana dengan Kotamu?

Testimoni supir taksi dan pegawai hotel sudah lebih dari cukup bertutur tentang Walikota Risma, Gang Dolly, hingga Surabaya yang semakin nyaman kini

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mari berkisah tentang Kota Surabaya kini. Setidaknya saat tulisan ini dibuat di bulan September 2014. Dari kawasan Gubeng, dari lantai 9, Hotel  Santika, jam digital menunjuk angka 6 pagi. Di atas Kota Pahlawan yang masih diselubungi kabut tipis itu, matahari menyapa malu-malu. Parasnya merah jambu.

Meski diserang flu, badan meriang, saya memilih beringsut dan bergegas membuka jendela. Selebar mungkin. Dari ketinggian Gubeng, dari jendela persegi, saya membiarkan gelombang cahaya menerobos di sela selimut dan pikiran.

Di pagi yang menyemburatkan harapan itu, pikiran saya nangkring ke lokasi istimewa yang ditunjukkan sopir taksi yang memboyong kami dari bandara Juanda ke lokasi hotel di kawasan Gubeng ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Inilah taman Bungkul itu.” pak sopir memulai obrolan saat kami memutar, melewati median jalan. Lelaki paruh baya yang kumisnya keperakan itu berkisah. Saya melihat sisi taman hanya sebagian kecil.

“Inilah taman yang bikin marah ibu Risma saat ada pembagian es krim.” lanjutnya. Saya hanya bilang ‘wah’ meski di pandangan saya tiada yang istimewa. Trotoar di samping taman seperti trotoar di kota lain di Indonesia.

Lalu? “Keterlaluan juga itu kalau orang seenaknya merusak taman.” lanjutnya. Walikota Risma, lengkapnya Tri Rismaharini, memang berbeda, begitu kata orang-orang dan diamini sang supir.

Bersih (foto: Kamaruddin Azis)

Bersih (foto: Kamaruddin Azis)

“Dia sangat sayang kotanya.” tutur lelaki yang mengaku berdarah Jogja ini. “Sayang kota?” kataku. Maksudnya, masa lebih sayang kota ketimbang warganya. Saya coba memancing.

“Pastilah mas, sayang warganya. Coba tengok itu Gang Dolly yang meski berat diurus akhirnya kelar juga.” imbuhnya.   Dia meyakinkan saya bahwa sayang kota dan warga tak melulu berkaitan dengan urusan kemajuan, modern dan ekonomi belaka. Mental dan ketegasan amat penting.

Demo nan aman (foto: Kamaruddin Azis)

Demo nan aman (foto: Kamaruddin Azis)

“Warga Surabaya sejak dulu kesulitan akan ruang terbuka hijau. Mungkin karena itu ibu Risma marah sekali kalau ada yang rusak.” terngiang kalimat sang sopir itu.

Ini kunjungan kedua saya ke Surabaya, kunjungan pertama, tepatnya transit adalah dalam tahun 1998 saat menumpang pesawat Mandala tujuan Jakarta. Saya hanya berputar dalam bandara. Pada kunjungan ini saya dapat kesempatan menghabiskan waktu hingga 5 hari di Surabaya dan 5 hari di Malang.

Pagi itu, di Santika Gubeng, saya beringsut ke jendela dan menyapu pandangan ke sisi kiri hotel, sejauh mungkin. Dari lantai 9 ini saya bisa menyaksikan kali atau kanal yang membentang dari belakang hotel. Jaraknya sekitar 200 meter.

Cahaya pagi bulan September 2014 memantul dari tipis dari air kali di kawasan Gubeng. Di kiri kanan jalan lempang. Tak terlihat rumah-rumah atau gubuk-gubuk yang mengangkangi kali itu seperti yang sering terlihat di Jakarta.

Tak puas dengan suasana lantai 9, saya naik ke puncak hotel. Ditemani salah seorang kru hotel yang sangat santun, saya memutar pandangan dan menyisir empat penjuru mata angin. Lelaki muda yang menemani saya itu pun mengutarakan hal positif tentang kotanya.

“Surabaya makin bersih sekarang, mas.” katanya tenang. Tersungging senyuman sembari menunjukkan bentang kali yang membelah kota.

“Ini jika saya bandingkan kota-kota lain di Indonesia, terutama yang pernah saya kunjungi.” imbuhnya.

Jembatan penyeberangan yang polos (foto: Kamaruddin Azis)

Jembatan penyeberangan yang polos (foto: Kamaruddin Azis)

Di ketinggian itu, saya terdiam. Merenung. Melepaskan pandangan sejauh mungin. Testimoni sang supir taksi dan pegawai hotel ini sudah lebih dari cukup tentang siapa Walikota yang amat berapi-api itu kalau bicara, termasuk apa yang telah berubah di Surabaya. Dalam perjalanan ke Kota Malang, demi menjawab hasrat ke Gang Dolly, kami memohon ke supir kami untuk setidaknya melintas di Gang fenomenal tersebut.

“Tuh sana mas, terlihat bersih kan sekarang?” kata sang supir. Gang Dolly yang terkenal selama berpuluh-puluh tahun sebagai spot bisnis prostitusi di Surabaya kini tiada lagi. Dolly telah berubah menjadi kawasan yang manusiawi.

Pada kesempatan yang lain, dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, hati saya berdetak kencang. Penerbangan sore itu mungkin akan terhambat. Pasal? Dari kejauhan saya melihat iring-iringan massa membawa bendera merah.  Akankah mereka tutup jalan seperti di kota-kota lain?

Oh tidak, Alhamdulillah taksi terus melaju tanpa halangan, rupanya para pendemo ini memilih satu jalur tanpa mengambil jalur pengendara lain. Takjub. Di bagian lain, sembari mengkhayalkan kampung halaman, saya menyempatkan mengambil gambar yang menurutku luar biasa. Suasana jembatan penyeberangan yang terlihat lengang, bersih, jauh dari penguasaan dan kerubutan pedagang kaki lima.

Apa yang terpapar di atas memberi saya keyakinan bahwa Walikota Risma telah berhasil membangun Surabaya, berhasil memperoleh penghargaan atas prestasinya melalui trofi dan piagam penghargaan dalam pengelolaan kota. Apa tipsnya? Menurut Risma, sederhana saja, “Kuncinya komunikasi. Yang penting masyarakat ngerti, jadi kita perbaiki komunikasi dengan warga dan ajak mereka berpartisipasi. Komunikasi yang baik itu dengan melibatkan semua elemen birokrasi, hingga yang paling bawah, Camat hingga ketua RT/RW.” katanya seperti dikutip media.

Bagaimana dengan kotamu?

Ikuti tulisan menarik Kamaruddin Azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler