x

Pengunjung mencoba aplikasi dari produk terbaru Samsung Galaxy Note 4 di Senayan City, Jakarta, 31 Januari 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

Iklan

Burhan Sholihin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Raja Impor Gadget

"Bang, apakah ada ponsel made in Indonesia?" Saya melihat penjual ponsel itu gelagapan sebelum menjawab, "Di sini tak ada buatan Indonesia. Semua buatan Cina."

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sore itu, saya bersama Gus Mar mau mencari udara segar dengan jalan-jalan ke mal. Sesekali, kami ingin melupakan sejenak hiruk-pikuk politik sekaligus membeli ponsel untuk Gus Mar. Ponsel jadul kiai kampung itu mati gara-gara kecebur kolam saat wudu. 

Saat langkah kami sampai di sebuah lantai yang semua toko menjual beragam ponsel, Gus Mar kaget bukan kepalang. Maklum, di pesantrennya, di pelosok Cikampek, tak ada satu kios pun yang menjual ponsel.

Di toko-toko ponsel itu, para penjual berlomba menyodorkan keramahan. Gus Mar pun leluasa mengobrol dengan penjual. "Bang, apakah ada ponsel made in Indonesia?" Saya melihat penjual ponsel itu gelagapan sebelum menjawab, "Di sini tak ada buatan Indonesia. Semua buatan Cina."

Gus Mar melanjutkan, "Kalau begitu, bangsa ini bisa bangkrut kalau semua diimpor?" Sang penjual bingung, "Bangkrut bagaimana? Saya sudah lebih lima dari tahun jualan ponsel Cina, malah untung, kok."

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Gus Mar tertawa, tapi pasti bukan mengejek. "Maksud saya, kalau semua impor, devisa kita juga bisa habis untuk membayar barang impor." Sang penjual makin tak paham. "Urusan devisa, saya tidak mengerti. Biar itu diurus para menteri saja. Mereka kan pintar-pintar, tak semua Tedjo (istilah yang sedang tren untuk yang bermakna 'tak jelas')," ujarnya setengah bercanda.

Saya lalu teringat iklan kipas angin di televisi yang memajang direktur utamanya dan berkata dengan sedikit cadel, "Cintailah ploduk-ploduk Indonesia." Terasa sekali, itu jauh panggang dari api.

Kenyataan di mal dengan seribu penjual ponsel itu benar-benar menampar saya. Sungguh berbeda dengan omongan Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks DPR Senayan, Selasa lalu. Dia berjanji, pada masa mendatang, pemerintah tak ingin Indonesia melulu menjadi konsumen. "Kita juga harus mampu menjadi produsen."

Entah ini janji kosong atau sungguh-sungguh bakal diwujudkan. Kata dia, pemerintah sedang menggodok regulasi guna memperketat masuknya ponsel 4G asing ke Indonesia. Hasil yang telah disepakati, tiga kementerian tersebut menetapkan syarat 40 persen Tingkat Kandungan Dalam Negeri bagi tiap perangkat smartphone 4G asing yang ingin menyasar pasar Indonesia. Aturan ini mulai berlaku awal 2017.

Omongan Pak Menteri itu mungkin sementara menjawab kegundahan Gus Mar. Selama ini, impor ponsel dan komputer Indonesia terus membengkak. Pada 2012, nilai impor itu mencapai Rp 23 triliun. Setahun kemudian, naik menjadi Rp 27 triliun.

Konon, sudah ada enam vendor asing yang berencana membuka pabrik di Indonesia, yakni Huawei, Asus, Lenovo, LG, ZTE, dan Xiaomi.

Gus Mar manggut-manggut saat saya mengutip janji Pak Menteri Rudiantara. "Mudah-mudahan saja ini bukan pepesan kosong," katanya. "Kita sudah keterlaluan dijajah barang impor." Bahkan casing ponsel yang gampang dibikin saja impor. "Ke mana saja para insinyur ITB, UGM, UI, atau ITS? Mengapa hal-hal amburadul ini tak diselesaikan dari dulu?" ujarnya kesal.

Ikuti tulisan menarik Burhan Sholihin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu