Pos Indonesia, Potensi Mati

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

PR besar bagi PT Pos Indonesia saat ini adalah kembali membuka diri mengambil kepercayaan publik serta mulai belajar jemput bola mengembangkan usaha yang berbasis sistem marketing online.

”Hari ini ku gembira, melayang di udara, pak pos membawa berita, dari yang ku damba...”

Sayup lagu lawas si burung camar, Vina Panduwinata diputar di radio. Yup, lagu itu memang lagu lawas, selawas profesi bapak tukang pos yang ada di penggalan lirik lagu tersebut.

Pos, Kantor Pos, kapan terakhir kali anda mengunjungi kantor pos di kota anda? Kemarin, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, setahun yang lalu, atau, mungkin sudah lupa, saking lamanya sudah tak mempergunakan jasa pos. Atau mungkin bahkan anak-anak anda pun tidak mengenal apa itu perangko, wesel pos? Padahal, jasa pos saat ini, tak hanya terbatas pada pengiriman surat atau barang saja. Dan dengan kantor lebih dari 3.800 unit kantor, juga dilengkapi 1.811 Mobile Pos di kota-kota besar yang juga sudah dilengkapi dengan teknologi system online. Seharusnya kantor pos bisa menjadi raja di bidang jasa saat ini.

Apalagi, mengingat, sekarang ini, jasa penjualan online bak cendawan di musim hujan. Yang, pastinya membutuhkan jasa pengiriman dari dan untuk semua daerah, hingga ke pelosok negeri. Tapi, entah kenapa, Pos Indonesia tidak mengambil kesempatan ini. Alih-alih mereka yang mengambil kesempatan ini, justru lahan empuk ini diambil oleh jasa pengiriman swasta. Padahal, jasa pengiriman swasta, rerata hanya ada di kota-kota besar, tidak menjangkau hingga ke kota kecamatan maupun desa seperti kantor pos. Dan anehnya pula, para pelaku bisnis pun lebih mempercayai jasa pengiriman swasta ketimbang jasa pos, padahal, charge barang terhitung lebih murah per kilogramnya dibanding dengan jasa pengiriman swasta.

Sepertinya pr besar bagi PT Pos Indonesia, untuk membuka diri, mengambil kembali kepercayaan publik dan untuk mulai belajar jemput bola, sistem marketing saat ini. Sudah tidak jamannya lagi sistem tunggu bola, alias menunggu para pelaku bisnis datang kepada kantor pos untuk memanfaatkan jasanya. Karena jika sistem tersebut yang terus-terusan dipakai, defisit BUMN yang satu ini akan bertambah drastis stiap tahunnya. Bukankah sangat disayangkan?

Seharusnya PT Pos Indonesia mulai mencontoh BUMN lain, seperti PTPN yang sudah mulai berbenah. Sistem marketing mereka sudah mulai jalan, bukan hanya sebagai pelaku ekonomi pasif saja. Mereka juga sudah mulai aktif mengelola aset yang dipercayakan pada mereka. Sebagai sesama BUMN, perkembangan PTPN saat ini, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Pos Indonesia. Beberapa PTPN sudah membuat terobosan baru, dengan membuka area wisata, rest area atau bahkan wisata edukatif bagi anak-anak sekolah. Contohnya PTPN IX yang merupakan gabungan dari PTPN XV-XVI dan PTPN XVIII, mereka sudah merambah bidang agrowisata beberapa tahun belakangan ini. Mulai dari agrowisata Kampoeng Kopi Banaran hingga Agrowisata Kebun Teh Kaligua, juga Gondang winangoen, Semugih, Sondokoro hingga Banyuwoto. Agrowisatanya meliputi penginapan, kolam renang, play ground area, outbound arena, gedung pertemuan hingga cafe digarap dengan total, hingga mampu menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung.

Sepertinya memang BUMN-BUMN yang ada harus mulai berbenah, dengan tidak hanya mengandalkan support dari APBN. Dengan melayani masyarakat, bukan berarti pula mereka memberlakukan sistem ekonomi pasif terhadap masyarakat. Toh pada akhirnya, seharusnya, pamasukan dari mereka juga dikembalikan pada masyarakat dalam bentuk lainnya, perbaikan infrastruktur, misalnya.

Saya masih percaya, PT Pos Indonesia masih mampu mengakomodir kebutuhan akan jasa pengiriman hingga ke pelosok desa. Dan dengan market yang ada sekarang ini, amat sangat disayangkan, saat mereka tutup mata terhadap kesempatan menjadi leader jasa pengiriman. Bukankah dalam prinsip ekonomi, manfaatkanlah kesempatan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, dengan modal sekecil-kecilnya?

Jadi, modal sudah ada, kesempatan pun ada di depan mata, lalu kenapa keuntungan tak jua diambil?

Bagikan Artikel Ini
img-content
margaretha diana

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler