x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Ingin Kreatif? Berlatihlah!

Kreativitas dapat diasah dengan beragam cara agar warisan genetik itu tidak luntur sepenuhnya: bertanya, bertemu banyak orang, berbuat, berlati

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejak lama orang berdebat apakah kecakapan bermain bola, berbicara dalam beberapa bahasa, maupun kepiawaian menggesek biola merupakan bakat semata atau buah latihan beratus bahkan beribu jam?  Begitu pula, apakah kecerdasan menjadi wirausaha atau entrepreneur itu diwariskan secara genetik, sehingga sseorang anak pebisnis akan jadi pebisnis?

Munculnya isu genetik dalam kewirausahaan mendorong Hal Gregersen, guru besar di sekolah manajemen dan bisnis INSEAD, Prancis, untuk menggunakan metafor DNA inovator. Meski begitu, Gregersen berpendapat bahwa entrepreneur yang inovatif itu bukan dilahirkan. Mereka membentuk diri, berlatih, mengembangkan diri, hingga memiliki mindset atau cara berpikir dan bertindak inovatif. Tak cukup hanya mengandalkan warisan genetik untuk jadi entrepreneur yang handal.

Dalam bahasa Gregersen, “Kita masing-masing mempunyai DNA fisik yang tetap dan unik,” kata Gregersen, “tapi dalam kaitan kreativitas, kita masing-masing mempunyai serangkaian keterampilan yang dapat dipelajari dan bersifat unik yang jadi tumpuan kita untuk memperoleh ide-ide segar.”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untuk mendukung pandangan bahwa entrepreneur inovatif itu dicetak, Gregersen mengutip riset yang melibatkan kembar identik. Para peneliti dalam riset ini menyimpulkan bahwa hanya sekitar 20-25 persen dari kemampuan kreativitas kita yang dihela faktor genetik (genetically driven). “Ini berarti bahwa 75-80 persen lainnya berasal dari dunia tempat kita hidup,” ujar Gregersen. Maksudnya, hasil dari interaksi kita dengan lingkungan: sesama manusia, alam, tempat kerja, tempat bermain, pasar, dan sebagainya.

Riset itu meneliti apa efek yang diperoleh pada kembar identik bila ditempatkan dalam lingkungan yang berbeda. Salah seorang kembar tinggal di rumah, menonton televisi, tidak melakukan aktivitas yang membangkitkan gagasan bisnis baru, sedangkan kembar yang seorang lagi bertemu dan berbicara dengan 10 orang yang berlainan dengan 10 perspektif yang berbeda. Siapa di antara keduanya yang melihat dunia dengan bergairah, membuat catatan dan gambar, menulis tentang apa saja yang ia amati, dan terus-menerus mengajukan pertanyaan seperti bagaimana seandainya begini, mengapa tidak begitu, bagaimana mungkin?

Menurut Anda, kembar identik mana yang cenderung memperoleh gagasan kreatif yang kaya? Jawabannya, kata Gregersen, “Dia yang pergi keluar rumah dan melakukan tindakan-tindakan kreatif. Mereka mungkin terpengaruh oleh faktor genetik, tapi itu bukan inti dari apa yang mereka hasilkan.” Warisan genetik dari orang tua yang kreatif adalah bahan dasar yang masih memerlukan pengasahan agar jadi cemerlang. Keterampilan kreativitas bukan sekedar warisan genetik yang dibawa sejak lahir, tapi dapat dikembangkan. 

Studi paling komprehensif yang mengonfirmasi hal itu dilakukan oleh sekelompok peneliti, yakni Merton Reznikoff, George Domino, Carolyn Bridges, dan Merton Honeymon. Mereka mengkaji kemampuan kreatif 117 pasangan kembar identik. Dengan menguji kembar berusia lima belas hingga 22 tahnun, mereka menemukan bahwa hanya sekitar 30 persen kinerja kembar identik dalam 10 tes kreativitas yang dapat diatribusikan kepada faktor genetik.

Sementara itu, sekitar 80-85 persen kinerja kembar dalam tes kecerdasan umum (IQ) dapat diatribusikan kepada genetik. Jadi, kecerdasan umum secara mendasar merupakan warisan genetik, tapi kreativitas tidak. Faktor lingkungan berpengaruh lebih besar. Bertemu dengan orang yang bermacam-macam perspektifnya, gagasannya, impiannya, perilakunya, maupun apa yang sudah ia kerjakan sangat memengaruhi perkembangan ‘warisan genetik’ itu.

Lingkungan, tempat kita hidup dan berinteraksi, dapat mengasah warisan genetik itu jadi semakin hebat atau meredupkannya. Banyak keterampilan yang cenderung naluriah semakin menghilang dari perbendaharaan kita begitu kita beranjak semakin dewasa. Kita kehilangan rasa ingin tahu masa kanak-kanak kita: mengapa begini, mengapa begitu, hiii kok bisa bagus sekali ya.... Banyak hal menggerus rasa ingin tahu kita, padahal ini diperlukan agar kreativitas terus tumbuh. Tapi, kabar baiknya, kreativitas ini dapat diasah kembali dengan beragam cara agar warisan genetik itu tidak luntur sepenuhnya: bertanya, bertemu banyak orang, berbuat, berlatih. (foto: tempo.co) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu