x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Memikirkan Kembali Akar Pembangunan

Kerusakan lingkungan dan sosio-kultural terjadi karena 'pembangunan' berakar pada pandangan hidup yang mekanistik-atomistik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saat berpidato di hadapan Kongres Amerika Serikat, 14 Maret 1961, untuk menggalang Aliansi bagi Kemajuan, Presiden John F. Kennedy berbicara ihwal peran sentral sains modern (Otto Ullrich, ‘Technology’, 1992). “Di seluruh Amerika Latin, jutaan orang berjuang untuk membebaskan diri dari belitan kemiskinan dan kebodohan,” kata Kennedy, “Ke arah Utara dan Timur mereka menyaksikan kelimpahan yang mampu dibawakan oleh sains modern.”

Sudah lama, memang, sains dan teknologi dianggap sebagai “alasan bagi superioritas Utara,” ”kunci menuju kemakmuran,” dan ”alat untuk meraih kemajuan.” Seiring dengan berjalannya pembangunan, sains dan teknologi dipandang sebagai ”jaminan bagi janji-janji pembangunan.” Sains dan teknologi dianggap sebagai daya penggerak (driving force) yang menghela pembangunan dan membawa manusia kepada kesejahteraan. Negara-negara Dunia Ketiga ikut mengamini keyakinan ini.

Sembilan puluh tahun yang silam, Bertrand Russell—matematikawan dan filosof—sudah memperingatkan bahwa kencenderungan pandangan itu akan mendatangkan kerusakan. Dalam bukunya, The Prospect of Industrial Civilization, yang terbit pada 1923, Russell menyoroti efek merusak yang ditimbulkan oleh pemanfaatan sains bagi tiga tujuan: meningkatkan produksi total komoditas, menjadikan perang semakin destruktif, dan memekanisasi aktivitas budaya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Melanjutkan peringatan Russell itu, Ullrich (1992) menyatakan bahwa hampir seluruh energi masyarakat industri difokuskan secara lebih intensif pada produksi, pemasaran, penggunaan, dan pembuangan limbah ’barang-barang esensial’ dari segala jenisnya. Menurut Ullrich, bagi masyarakat Eropa modern yang terobsesi oleh satu gagasan, yaitu bahwa melalui produksi barang-barang material, kondisi yang diperlukan bagi kehidupan yang baik telah diciptakan; bahwa melalui kerja, sains dan teknologi, ’jalan rahasia menuju surga’ telah dibentangkan, sebagaimana dirumuskan oleh Francis Bacon, salah seorang pendiri teori modernitas, sekitar 300 tahun yang lampau.

Pembangunan yang bertumpu pada kemajuan sains dan teknologi Barat itulah yang kemudian dikritik telah menyebabkan kerusakan lingkungan, perubahan iklim global, serta merosotnya keragaman hayati. Isu-isu lingkungan kemudian menjadi perhatian masyarakat luas dan dicoba ditempatkan pada posisi penting dalam pembangunan, sehingga muncul istilah ”pembangunan berkelanjutan”. Persoalannya ialah apakah istilah itu benar-benar menjadi ruh baru yang membongkar gagasan modernisme yang jadi akar pembangunan sebelumnya.

Richard B. Norgraad (1994), dalam buku Development Betrayed, menyatakan bahwa gagasan tentang kemajuan telah dikhianati oleh realitas yang justru merupakan buah dari gagasan itu. Ia menyebutkan setidaknya tiga hal. Pertama, hanya sedikit orang yang menikmati kelimpahan material, namun penipisan sumberdaya dan degradasi lingkungan telah membahayakan banyak pihak dan mengancam harapan semua orang. Kedua, sektor-sektor publik pada bangsa-bangsa kapitalis dan sosialis, otoritarian dan demokratis, serta berkembang dan terbelakang, dalam keadaan tak berdaya. Ketiga, jumlah orang yang mendeklarasikan bahwa modernisme sebagai budaya hanya tampaknya saja bagus kian bertambah.

Bagi Norgraad, modernisme bukan hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan, tapi sekaligus kultural. Individualitas yang berlebihan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial adalah sebagian contohnya. Modernisme juga menganggap bahwa perbedaan budaya akan menghilang begitu orang menemukan efektifnya budaya rasional Barat. Norgraad mengritik ”peran dominan keyakinan modern,” yang hanya menerima cara ilmiah tertentu dan mengesampingkan cara lain yang dianggap tradisional dan tidak ilmiah. Teknologi, bentuk-bentuk organisasi sosial, sistem nilai, dan kondisi lingkungan yang ada saat ini mencerminkan dominasi yang tidak tepat ini, serta menolak alternatif yang mungkin lebih dapat berjalan secara kultural dan lingkungan.

Dalam pandangan Norgaard, modernisme menghancurkan sistem-sistem kultural dan biologis karena lima premis epistemologis yang saling berkaitan dan mencirikan pikiran Barat. Lima premis itu ialah atomisme, mekanisme, universalisme, obyektivisme, dan monisme. Atomisme memandang sistem sebagai terdiri atas bagian-bagian yang tidak berubah dan sistem tersebut dapat dibayangkan sebagai penjumlahan bagian-bagiannya. Mekanisme adalah premis bahwa relasi di antara bagian-bagian sistem tidak berubah. Universalisme adalah keyakinan bahwa bagian-bagian sistem dan relasi di antara bagian-bagiannya memiliki sifat yang sama di manapun dan kapan pun. Obyektivisme ialah keyakinan bahwa sistem-sistem alam dan sosial dapat dipahami dan diperlakukan secara obyektif, seolah-olah manusia dapat memahami dan bertindak serta tidak menjadi bagian dari sistem yang sedang mereka pahami. Keyakinan bahwa sains bebas-nilai dan bahwa realitas dapat dipahami terpisah dari realitas adalah sangat penting bagi konsepsi Barat mengenai sains. Monisme adalah keyakinan bahwa hanya ada satu cara terbaik untuk memahami sistem.

Tak berhenti pada kritik, Norgraad menelusuri akar pandangan modernisme itu dan meyakini bahwa paham itu berpulang kepada pandangan mekanistik Newtonian. Pandangan Newtonian itu antara lain diwujudkan dalam pemisahan sains (sains-sains alam dan sains-sains sosial) ke dalam disiplin-disiplin dengan tanggungjawab yang terpisah, yang, menurut Norgraad, telah mempromosikan tidak adanya tanggung jawab bersama. Masing-masing memperoleh kredit terpisah bagi keberhasilannya dan memetik kritik secara terpisah pula akibat kesalahannya.

Kritik terhadap pandangan mekanistik juga disampaikan oleh fisikawan Fritjof Capra dalam bukunya, The Turning Point: Science, Society and the Rising Culture(1982). Capra menyebutkan bahwa pandangan mekanistik itu tak hanya bertumpu pada Isaac Newton. Modernisme, menurut Capra, tak lepas dari perubahan radikal yang terjadi di Barat pada abad keenambelas dan ketujuhbelas, tatkala pengertian tentang alam semesta yang organik, hidup, dan spiritual digantikan oleh pandangan yang melihat dunia sebagai mesin, dan mesin-dunia menjadi metafor dominan bagi era modern. Perkembangan ini diusung oleh perubahan revolusioner dalam fisika dan astronomi, yang memuncak pada pencapaian Copernicus, Galileo, dan Newton. Sedangkan sains abad ketujuhbelas didasarkan atas metode pencarian yang dianjurkan oleh Francis Bacon, yang melibatkan diskripsi matematis tentang alam dan metoda penalaran analitis yang digagas Rene Descartes.

Pandangan-dunia (world-view) yang mekanistik itu sedemikian luas dan memasuki, sebagaimana diuraikan oleh Capra, wilayah biologi, kedokteran, ekonomi, dan bahkan psikologi. Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi dicirikan oleh pendekatan yang terfragmentasi dan reduksionis, sehingga para ekonom gagal memahami bahwa ekonomi hanyalah salah satu aspek dari keseluruhan kehidupan yang unsur-unsurnya saling berinteraksi. Tatkala pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran kemajuan pembangunan, sisi-sisi gelapnya pun memperlihatkan wajahnya dalam rupa udara yang tercemar, sungai yang penuh sampah dan limbah, kemacetan lalu-lintas, kontaminasi zat-zat kimia, dan berbagai tekanan fisik dan psikologis, yang menjadi santapan kita sehari-hari.

Kritik relatif lebih mudah, rekonstruksi lebih sukar dari itu. Kendati lebih sukar dari mengritik, baik Norgraad maupun Capra merumuskan alternatif bagi pandangan-dunia yang bersifat mekanistik itu. Pandangan baru terhadap realitas ini didasarkan atas kesalingterhubungan dan interdependensi yang esensial di antara seluruh fenomena—fisik, biologis, psikologis, sosial, dan kultural. Pandangan ini mentransendenkan disiplin-disiplin dan batasan-batasan konseptual yang ada saat ini dan menghimpunnya dalam satu institusi baru. Tatkala The Turning Point ditulis dan diterbitkan pertama kali, akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Capra menyebutkan belum ada konsep atau institusi yang sudah terbentuk, namun garis-besar kerangkanya sedang dibangun (saat itu) oleh individu-individu, kelompok-kelompok, masyarakat, dan jaringan yang sedang mengembangkan cara berpikir baru dan mengorganisasi diri menurut prinsip-prinsip baru.

Dalam perkembangannya, gagasan Capra menemukan sosok yang lebih tegas seperti yang ia tuangkan dalam buku berikutnya, The Web of Life. Untuk memahami kehidupan secara utuh, menurut Capra (1996), pemahaman atas pola, menjadi hal penting yang krusial. Yang dimaksud dengan pola organisasi sistem adalah konfigurasi hubungan di antara komponen-komponen sistem yang menentukan karakteristik esensial sistem. Di samping itu, struktur—yang menggambarkan komponen fisik aktual sistem—juga penting untuk dimengerti. Yang ketiga, proses—keseluruhan aktivitas yang berlangsung di dalam sistem.

Capra tidak meletakkan ketiga hal penting untuk memahami realitas kehidupan itu secara terpisah-pisah, melainkan saling terkait dan saling bergantung—karena itu ia menggunakan istilah ’jejaring kehidupan’. Pendekatan ini mirip dengan tawaran Norgraad yang ia istilahkan sebagai paradigma koevolusioner, yang memotret pembangunan sebagai suatu ko-evolusi antara sistem (sosio)kultural dan sistem ekologis.

Norgaard mengembangkan penjelasan alternatif pembangunan yang menghubungkan sains Barat, sumberdaya, dan lingkungan, bukan dalam bentuk kontrol yang satu terhadap yang lain, namun sebagai coevolving system yang berinteraksi secara mutual. Kita adalah bagian sistem yang sedang kita coba pahami, karena itu apa yang kita lakukan mempengaruhi sistem tersebut. Pengamat dan yang diamati saling berhubungan.

Pendekatan konvensional cenderung memandang sains, nilai-nilai, dan sumberdaya sebagai input eksogenus bagi sistem teknologi-organisasi sosial yang dipersepsikan berubah karena pembangunan. Sementara itu, skema pembangunan ko-evolusioner melihat bahwa segala sesuatunya saling berhubungan. Tidak ada yang eksogenus. Pendekatan koevolusioner memandang proses perubahan berlangsung evolusioner dan tidak deterministik, ini berbeda dari pandangan dunia modern. Selanjutnya, watak masing-masing subsistem—nilai-nilai, pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, dan lingkungan—dan relasi di antara mereka berubah seiring dengan perkembangan subsistem.

Dengan membandingkan dua pandangan dunia ini—yang mekanistik ala Newtonian-Cartesian dan yang sistemik, kita dapat melihat dengan lebih jelas bagaimana pembagian antara yang alamiah dan tidak-alamiah melekat dalam pemahaman modern kita mengenai alam dan pembangunan ketimbang, namun sesungguhnya tidak terwujud dalam realitas. Dalam penjelasan ko-evolusioner, transformasi lingkungan dapat menguntungkan manusia dan sekaligus dapat dilakukan dengan cara yang meningkatkan keragaman spesies. Perpaduan ini sukar dicapai bila kita menggunakan pandangan dunia yang membagi dunia alam dan dunia sosial serta mengasumsikan bahwa manusia hanya dapat membuat dunia alamiah menjadi kurang alamiah.

Bila modernisme menganggap bahwa rasionalitas Barat adalah satu-satunya jalan menuju kesejahteraan, pendekatan ko-evolusioner justru memandang pluralisme sebagai kekayaan yang akan membuka banyak jalan menuju kesejahteraan. Pluralisme sekaligus membantu kelangsungan keragaman biologis dan budaya. Keragaman budaya tetap eksis karena keragaman cara berpikir.

Banyak jalan keluar yang ditawarkan terhadap berbagai persoalan yang kita hadapi di zaman kita. Namun semua jalan keluar itu mensyaratkan pergeseran radikal dalam persepsi kita, cara berpikir kita, maupun nilai-nilai kita. Tekanan-tekanan fisik, sosial, psikologis yang kian berat tidak lagi cukup dihadapi dengan pendekatan yang bersifat parsial dan instan. Pendekatan Norgraad maupun Capra, yang mengkristalkan pandangan berbagai pihak dalam separo abad terakhir mengenai persoalan umat manusia, merupakan tawaran yang bukan sekedar untuk didiskusikan tanpa aksi. (foto: tempo) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB