Sikap MUI Jatim Berlebihan Terhadap Tuhan dari Banyuwangi

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sikap ini semakin membuat MUI terkenal dan dikenal hanya mengurusi hal yang sepele, lembaga yang semakin diremehkan saja fatwa-fatwa-nya.

Membaca sikap MUI Jatim terkait nama Tuhan, tukang kayu asal banyuwangi (Tempo) terlihat berlebihan. MUI harusnya membaca terlebih dauhulu tentang asal dan usul munculnya kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, mempelajari terlebih dahulu kenapa kata Tuhan menjadi terjemahan dari Sang Maha Pencipta.

Seperti disebut dalam wikipedia tentang sejarah atau asal-usul kata Tuhan, berasal dari kata tuan (Melayu). Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976). Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik.

Ahli bahasa Remy Sylado menemukan bahwa perubahan kata "tuan" yang bersifat insani, menjadi "Tuhan" yang bersifat ilahi, bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leidjdecker yang terbit pada tahun 1733. Kata yang diterjemahkan oleh Brouwerius sebagai "Tuan"—sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, inggris Lord, Belanda Heere, melalui Leijdecker berubah menjadi "Tuhan" dan kemudian, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang awalnya ditemukan oleh Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani dan ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.

Jadi sebetulnya kata Tuhan  sendiri dalam ranah keyakinan Islam tidak dikenal, Tuhan hanya menjadi terjemahan lain atau penyebutan lain untuk Yang Maha Pencipta yang muncul di dalam bahasa terjemahan Indonesia.

Maka bila MUI mempermasalahkan pemberian nama Tuhan pada tukang kayu asal Banyuwangi sebetulnya amat dan sangat berlebihan, karena itu bukan hal yang mendasar dalam pemaham Islam. Dalam Islam sendiri sedari awal sudah memperkenalkan atau menyebut sang Pencipta dengan sebuatan Alloh (ditulis dengan huruf latin).

Sikap MUI ini akan semakin membuat lembaga ini terkenal dan dikenal hanya mengurusi hal yang sepele, lembaga yang semakin diremehkan saja fatwa-fatwa-nya.

Sumber gambar : http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/24/058694443/heboh-lelaki-kelahiran-banyuwangi-saya-memang-tuhan

Bagikan Artikel Ini
img-content
BedjoSL

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua