Mengapa 2015 Tahun Cahaya

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dunia internasional merayakan 2015 sebagai Tahun Cahaya, dengan tonggak historis penerbitan Kitab Optika karya Ibn al-Haytham seribu tahun yang silam.

Mengapa 2015 disebut Tahun Cahaya?

Penisbatan ini terkait dengan peristiwa yang terjadi seribu tahun yang silam, ketika karya terpenting Ibn al-Haytham terbit: Kitab al-Manazir atau Kitab Optika. Karya yang terbit pada 1015 Masehi ini dianggap telah memberi sumbangan ilmiah yang fundamental terhadap pemahaman manusia mengenai penglihatan (visi), optik, dan cahaya. Lewat karya ini, Ibn al-Haytham juga dianggap merintis metode keilmuan dengan mengedepankan eksperimen untuk menguji pemikirannya.

Melalui penerjemahan Kitab al-Manazir ke dalam bahasa Latin dengan judul De Aspectibus, Ibn al-Haytham telah memengaruhi para sarjana Barat, baik di dalam pengetahuan mengenai cahaya maupun dalam metodologi ilmiah. Sosok-sosok penting seperti Roger Bacon, René Descartes, dan Christian Huygens terpegaruh pemikiran Ibn al-Haytham. Sebagai penghormatan terhadap Ibn al-Haytham, salah satu kawah di bulan dan asteroide 59239 dinamai Alhazen—julukan Latin Ibn al-Haytham.

Dari perkiraan 96 buku yang ditulis Ibn al-Haytham, hanya 55 judul yang dapat ditemukan. Topik-topik yang dibahas antara lain cahaya bulan, cahaya bintang, pelangi dan halo, beberapa jenis cermin, pembentukan bayangan, diskursus tentang cahaya, serta karya terbaiknya mengenai optika.

Ada sejumlah momen historis yang dianggap dunia internasional sebagai tonggak pencapaian ilmiah manusia dalam ikhtiar memahami cahaya. Ini dimulai dari penerbitan karya Ibn al-Haytham, Kitab al-Manazir, lalu melompat delapan ratus tahun kemudian (1815) kepada karya Fresnel yang mendiskusikan cahaya sebagai gelombang.

Momen historis berikutnya ialah ketika Maxwell menyampaikan teori elektromagnetik untuk menjelaskan penjalaran cahaya. Albert Einstein turut berkontribusi lewat teori efek fotolistrik (1905) dan teori relativitas umum (1915). Setengah abad kemudian, Penzias dan Wilson menemukan gelombang mikrokosmis dan Charles Kao menorehkan prestasi berkaitan dengan transmisi cahaya dalam serat untuk komunikasi optik.

Tonggak-tonggak bersejarah itulah yang diperingati oleh UNESCO, salah satu badan Perserikatan Bangsa-banngsa, dengan mencanangkan International Year of Light and Light-Based Technologies. UNESCO merasa berkepentingan untuk meningkatkan kesadaran global mengenai bagaimana teknologi berbasis cahaya mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan menyediakan solusi terhadap tantangan global dalam bidang energi, pendidikan, pertanian, dan kesehatan.

Siapapun sukar menampik kenyataan bahwa cahaya memainkan peran vital dalam kehidupan kita sehari-hari dan digunakan dalam berbagai disiplin sains pada abad ke-21. Teknologi berbasis cahaya telah merevolusi kedokteran, meningkatkan komunikasi internasional melalui Internet, dan semakin penting dalam menghubungkan aspek-aspek budaya, ekonomi, dan politik masyarakat global.

Dimulai sejak 19 Januari 2015, di markas UNESCO di Paris, perayaan Tahun Cahaya digelar berupa kampanye global bertema “1001 Penemuan dan Dunia Ibn al-Haytham”. Kegiatannya mencakup serangkaian pameran interaktif, workshop, dan pertunjukan mengenai pencapaian al-Haytham dalam optika, matematika, dan astronomi, serta peran petingnya dalam meletakkan fondasi bagi metode eksperimental ilmiah yang digunakan hingga hari ini.

Perayaan Tahun Cahaya berlangsung di puluhan negara, termasuk Indonesia yang akan berlangsung di Jakarta dan di kampus ITB Bandung. Minggu lalu, 14-15 September 2015, UNESCO menggelar konferensi internasional di Paris serta di Hyderabad. Yang menjadi fokus konferensi adalah pencapaian peradaban Islam pada masa keemasan (abad 8-15 Masehi) serta kehidupan dan karya Ibn al-Haytham.

Menarik bahwa perayaan Tahun Cahaya ini digagas pula oleh begitu banyak perhimpunan sarjana dan institusi, seperti The American Institute of Physics (AIP), The American Physical Society (APS), The Deutsche Physikalische Gesellschaft (DPG), The European Physical Society (EPS), The Abdus Salam International Centre of Theoretical Physics (ICTP), The IEEE Photonics Society (IPS), The Institute of Physics (IOP), The International Society for Optics and Photonics (SPIE), maupun The Optical Society (OSA).

Perayaan Tahun Cahaya, pendeknya, adalah perayaan manusia dalam ikhtiar memahami fenomena alam yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya, setiap detik sekalipun. **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua