Kita Pun Bisa Gagal dalam Hal Terbaik Kita

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apapun bisa menjadi penyebab kegagalan kita, termasuk dalam hal-hal yang kita merasa 'sangat ahli', 'Sangat Baik", dan 'Sangat Menguasai' sekalipun.

“Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga”. Ungkapan ini sangat terkenal dan bahkan sudah menjadi semacam keyakinan, sehingga dipercaya kebenarannya. Ini juga yang sering kita yakini, ketika melihat tingkah polah yang berbau ‘arogan’, ‘semena-mena’ dan mentang-mentang sedang ‘berkuasa’, kita pun bergumam ‘tunggu saja kapan hari kejatuhannya.’

Di era Orde Baru, kita melihat betapa kekuasaan Soeharto yang begitu mencengkeram dan seolah-olah tak bakal bisa dikalahkan, dan bahkan dihancurkan. Namun, apa kenyataannya? Seoharto bisa juga ditumbangkan, dan perubahan besar pun terjadi. Kehancuran dan kejatuhan yang terjadi sebenarnya tidak semata berasal dari apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan Soeharto dalam berkuasa. Justru sebaliknya, penyebab kejatuhannya berasal dari hal-hal yang sebenarnya ia adalah ahli di bidangnya.

Dikenal sebagai bapak pembangunan, yang membawa kejayaan ekonomi Indonesia di tahun 80-an, Seoharto jatuh justru disebabkan oleh hal-hal terkait perekonomian. Kesenjangan ekonomi pusat dan daerah, kesenjangan si kaya dan si miskin, ternyata tidak berhasil di kelola dengan baik oleh Soeharto. Akibatnya, ia pun mendapatkan perlawanan sengit dari rakyatnya, dan akhirnya tumbang.

Sekarang, coba kita tarik ke ranah pengembangan personal diri kita. Bagaimana mungkin, dalam hal-hal yang kita merasa sangat menguasai, dan bahkan terbaik, kita masih mengalami kegagalan? Kira-kira apa yang menjadi pemicu dan penyebabnya?

Setidaknya ada hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, rasa percaya diri yang berlebihan. Ketika rasa ini muncul, hal pertama yang mendominasi pikiran kita adalah absen-nya rasa khwatir dan takut, dan hanya menyisakan perasaan ‘semua akan teratasi dengan baik’ sebagaimana yang sudah terjadi. Rasa ini juga akan menyurutkan gairah kita untuk mempelajari hal-hal baru yang potensial menjadi penghambat dan tantangan. Akibatnya, kita pun akan sangat terlena, sehingga kehilangan fokus dan kontrol dalam mengantisipasi apa yang mungkin akan terjadi.

Kedua, merasa puas dengan apa yang dimiliki. Ketika ini terjadi, keinginan-keinginan untuk melakukan perubahan, pengembangan, inovasi dengan men-challenge kembali hal-hal yang sudah ‘mapan’ pada diri dan pikiran kita menjadi sirna. Sehingga, kita lebih sering bersikap ‘reaksioner’ terhadap perubahan yang terjadi, yang mengancam ke-mapan-an kita. Akibatnya, kita mengalami ‘kekalahan’ karena kegagalan kita meng-adaptasi perubahan yang terjadi.  

Sebaliknya, jika kita tidak ingin mengalami kegagalan dan atau kekalahan pada hal-hal yang kita merasa “sangat baik” melakukannya, maka seyogyanya kita tidak merasa percaya diri secara berlebihan, dan juga tidak cepat ‘puas’ dengan apa yang kita miliki. Kita harus tetap terbuka dengan berbagai opsi pengembangan. Terbuka dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi. Dan, harus terus kreatif dan inovatif agar bisa adaptif dengan perubahan yang sedang, telah dan akan terjadi.

Cerita Soeharto, dan cerita-cerita lain yang sejenis adalah contoh nyata. Kita memiliki pilihan, mau mengalaminya atau tidak. #gusrowi

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Gusrowi AHN

Coach & Capacity Building Specialist

0 Pengikut

img-content

Mengenali Bahasa Penaklukkan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Fleksibel Kan Membawamu Ke Tujuanmu

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler