x

Kebakaran Hutan

Iklan

Gusrowi AHN

Coach & Capacity Building Specialist
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

'Blaming Approach' Itu Menyesatkan

Cara termudah menyelesaikan masalah adalah dengan mencari "siapa yang bersalah" dan bisa "dipersalahkan". Namun, cara ini tidaklah 'bertanggungjawab'

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sampai hari ini, meskipun berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan titik-titik api di belahan Kalimantan dan Sumatera, bencana kabut asap masih belum bisa terselesaikan dengan tuntas. Satu pertanyaan yang paling populer didiskusikan banyak orang adalah “Siapa yang bersalah?” atas bencana yang terjadi. Eskpektasi-nya jelas, orang yang bersalah-lah yang akan menjadi pihak yang bertanggungjawab atas permasalahan yang ada.

Namun, harus diakui, proses mencari dan menemukan ‘siapa yang bersalah’ seringkali memerlukan waktu dan energi yang tidak sedikit. Padahal, proses penanganan permasalahan tidak boleh ‘berhenti’ ketika pencarian ‘siapa yang bersalah’ dilakukan. Inilah yang seringkali ‘melenakan’. Karena, terlalu banyak energi yang dicurahkan untuk mencari ‘siapa yang salah’, seringkali melupakan pentingnya upaya mengatasi permasalahan ‘nyata’ yang ada di dapan mata.  

Sebagai sebuah pendekatan penyelesaian masalah, mencari kesalahan adalah cara yang paling mudah dilakukan. Berangkat dari kesalahan yang ditemukan, solusi dan siapa yang bertanggungjawab akan mudah ditentukan. Padahal, kenyataannya tidak semudah itu. Ketika pihak-pihak yang bersalah sudah ditemukan, dan bahkan menyatakan kesanggupun untuk bertanggungjawab dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Mereka tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebagai pihak yang harus bertanggungjawab, mereka harus tetap di-engage dan didukung dengan cara yang bertanggungungjawab pula. Kita hendaknya tidak sekalipun menggunakan “pendekatan berbasis kesalahan” (blaming approach) terhadap orang yang kita anggap telah ‘berbuah salah’. Pendekatan penyelesaian model ini hanya fokus pada ‘siapa yang salah’ dan ‘bisa dipersalahkan’. Dan karenanya cenderung digunakan untuk mengamankan dan menghindarkan ‘diri sendiri’, menjadi bagian dari ‘kesalahan’ yang ada.

Dalam hubungan atasan-bawahan, tak jarang para atasan menggunakan pendekatan ini untuk menumpahkan semua kesalahan ke bawahannya. Sehingga, seolah-olah, si Atasan tidak berkontribusi apapun atas ‘kesalahan’ yang dilakukan bawahannya. Biasanya, perlakuan semacam ini akan menyisakan rasa jengkel, marah, tidak nyaman dan bahkan dendam dari si Bawahan.  

Penggunaan pendekatan ini akan membuat ‘pandangan’ kita tentang orang yang bersalah sebagai sumber masalah, dan karenanya ‘pantas’ dan ‘layak’ untuk terus di salahkan. Padahal, jika kita masih ‘percaya’ orang yang bersalah masih bisa diperbaiki dan memperbaiki diri-nya, maka mendukung dan memotivasinya untuk bisa terlepas dari ‘bayang-bayang’ kesalahan yang ia pernah lakukan, akan lebih bermanfaat dibanding menancapkan ‘perasaan bersalah’ di dalam pikirannya.  

Meskipun, melupakan kesalahan itu tidak mungkin dilakukan, saya menduga, tidak ada orang yang akan merasa ‘senang’ atau pun ‘bahagia’ ketika diingatkan akan ‘kesalahan’ yang pernah ia lakukan. Semakin mengingatkannya, bisa membuatnya ‘putus asa’ dan jangan harap ia akan belajar dari kesalahan-kesalahannya. Jika itu terjadi, ketiadaan motivasi untuk berubah, memperbaiki dan mengembangkan diri tentunya menjadi hal yang tak terhindarkan.

Blaming Approach, memang menawarkan jalan pintas terlepas dari sebuah permasalahan. Namun, dampak yang ditimbulkan tidak mendorong adanya kerjasama ke arah perbaikan dan perubahan yang lebih baik. Menggunakannya secara berlebihan hanya akan membuat kita ‘tersesat’ dan tidak bisa melihat sisi-sisi positif dari sebuah kesalahan.  #gusrowi.

Ikuti tulisan menarik Gusrowi AHN lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB

Terkini

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB