x

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, memborong 10 kg jeruk baby saat berkunjung ke kawasan desa wisata petik jeruk di Desa Selorejo, Kec. Dau, Malang, 27 Maret 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mas Menteri, Menu 'Rasa KPK' Itu Tak Enak Lho...

Muncul isu tak sedap, bahwa pendamping dana desa mayoritas di isi oleh simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Selamat pagi Mas Marwan Jafar. Sae (Baik-kah)? Semoga Mas sehat walafiat. Tidak sedang masuk angin, flu, atau meriang. Tugas Panjenengan berat sebagai Menteri Desa. Jadi, semoga tak sedang di serang penyakit. Karena sampai sakit, tugas untuk memastikan pencairan dana desa bisa terganggu. Jangan sampai begitu.
 
Nuwun sewu Mas, bila saya lancang. Saya hanya ingin tanya, kenapa sampai muncul isu tak sedap, bahwa pendamping dana desa mayoritas di isi oleh simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai asal Panjenengan. Bahkan, kabar makin tak sedap, karena katanya para pendamping mesti setor sekian persen dari gajinya ke pengurus PKB. Benarkah Mas? 
 
Tapi syukurlah, Panjenengan sudah jawab, walau belum memuaskan, bahwa itu fitnah yang ingin hancurkan PKB. Ya, semoga itu benar-benar fitnah. Namun itu Mas, nuwun sewu, isu itu memang menganggu. Tak hanya mengganggu konsentrasi Mas, tapi juga mengganggu Pak Jokowi juga rakyat yang tinggal di pedesaan. 
 
Kalau misalnya Pak Jokowi tahu, dan isu itu benar adanya, ini yang akan berabe. Bagaimana bila kemudian Pak Jokowi marah? Walau saya lihat, Pak Jokowi jarang marah. Sebagai orang Jawa, sepertinya Pak Jokowi tak mungkin memperlihatkan kemarahan dengan vulgar. Marah orang Jawa biasanya adem. Tapi tahu-tahu, orang yang 'membuat marah' keluar atau terbuang. Jangan sampai ya Mas, amit-amit jabang bayi, keluar atau terbuang dari kabinet. Gawat bila itu terjadi. Gawat bukan hanya untuk PKB, tapi lebih penting, gawat bagi Panjenengan. Apalagi, akhir-akhir ini isu reshuffle merebak kuat. Dan kabarnya, PAN, partai yang gabung belakangan bakal masuk kabinet. Sakitnya tuh di sini, bila terbuang lalu diganti oleh orang yang sama sekali tak berkeringat. 
 
Tapi Mas begini. Bicara soal dana desa, ini bicara soal banyanya duit yang akan cair. Satu milyar, satu desa. Dan, di negeri ini ada puluhan ribu desa. Bayangkan, betapa besarnya duit itu. 
 
Dan, semakin besar anggaran yang disediakan, semakin besar pula godaan untuk menyalahgunakannya. Hukumnya selalu begitu. Jadi Panjenengan hati-hati. Jangan sampai, godaan itu memikat Panjenengan. Atau, kalau pun tak memikat Panjenengan, itu menggoda 'orang-orang' di sekitar Panjenengan. Kadang seperti itu. Selalu ada yang coba nyatut, setelah itu nyunat. Jadi tolong pastikan betul, bahwa isu itu memang benar-benar fitnah. Bila itu benar, bukan hanya buat rakyat marah, tapi mungkin para Kyai pun mengurut dada. Atau para Wali Songo, di Alam Baqa, hanya bisa geleng-geleng kepala. 
 
Kasihan, bila kemudian dana desa di sunat sana-sini. Dosa besar. Apalagi bila di sunat lalu di setor ke partai, itu dosa besarnya berlipat-lipat. Dana 'sunatan', tak akan berkah. Bahkan bisa jadi 'bala' dan 'karma'.  Ya, 'karma' bila tak sekarang, mungkin nanti. Tapi, yakinlah 'karma' itu akan selalu bekerja dan dirasakan oleh mereka yang berbuat dzolim. 
 
Semoga Mas Marwan sigap dan cekatan, mencegah ketidakberesan itu. Namun bila benar, duh dana desa tak enak rasanya. Dana desa rasa partai itu, hambar, bahkan kurang enak disantap. Ibaratnya, racikan bumbu banyak yang dikurangi. Garam disunat, porsi gula di korting. Alhasil menu yang terhidang hanya bikin perut mulas. Jika seperti itu, nanti rakyat akan minta menu pengganti. Kokinya pun minta diganti. Jangan sampai ya Mas seperti itu. Jangan sampai, rakyat minta menu dana desa rasa 'KPK'. Ini menu yang kurang disukai politisi.
 
Jadi saya berita tahu saja Mas Menteri, menu 'KPK' itu tak enak lho. Bagaimana mau enak, kalau yang racik itu adalah penyidik, bukan Mas Rudi Choirudin.
 
 
 

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler