Dari Dosen Kembali Jadi Dosen

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Puncaknya, dia jadi Sektretaris Jenderal, sebuah posisi birokrat tertinggi di kementerian. Bisa dikatakan Sekjen, adalah orang nomor dua setelah menteri.

"Saya tak tertarik masuk politik. Bukan alam saya," kalimat itu diucapkan Yuswandi Arsyad Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri di ruang kerjanya, Senin malam, 19 Juni 2017. 
 
Malam itu, Pak Yus- demikian panggilan akrabnya- mengajak saya ngobrol ngalor ngidul. Di ruangan, selain dia ada salah satu stafnya, Agus Fatoni. 
 
Saya lihat mejanya sudah bersih. Tak ada berkas. Tapi di belakang mejanya, tampak dua buku tebal dengan judul bahasa Inggris. Saya tengok lemarinya pun sudah tak ada barang. Rak buku juga telah kosong. 
 
"Bulan Juli ini saya pensiun. Jadi ini, semua buku sudah saya angkut ke rumah," ujarnya sambil menengok ke rak atau almari buku di sampingnya. 
 
 
"Setelah pensiun, kegiatannya apa pak?" Tanya saya. 
 
Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Kemudian ia menjawab," Saya ingin ngajar saja." 
 
Pak Yus pun kemudian bercerita. Kata dia, dulu sebelum menjadi pegawai di Kementerian Dalam Negeri, ia sebenarnya sudah diterima menjadi salah satu staf pengajar di Universitas Lampung. Bahkan katanya, sudah disediakan pula kavling rumah dosen untuknya. 
 
Ia mengaku, sempat menjalani profesi dosen hingga beberapa waktu di Universitas Lampung. Ia sempat mengajar mahasiswa. Tapi jalan nasib kemudian merubah hidupnya. Ia diterima bekerja di bagian Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri. Di Litbang itulah, ia mulai merintis karir sebagai birokrat. 
 
" Bagi sebagain pegawai kerja di Litbang itu membosankan. Bahkan dianggap buangan," katanya. 
 
Tapi baginya, kerja di Litbang juga menyenangkan. Mungkin karena basicnya sebagai seorang dosen, ia menikmatinya.  Bahkan di Litbang, ia merasa bisa mengembangkan diri. Tidak hanya itu, di Litbang, setidaknya dia dapat kesempatan mengembangkan serta meningkatkan kemampuan dan pengetahuan. 
 
Dan kesempatan belajar ke luar negeri pun akhirnya datang. Ia dapat tawaran bea siswa melanjutkan S2 di universitas luar negeri. Pak Yus sendiri lulusan Universitas Dipanegoro, Semarang, Jawa Tengah. Gelar insinyurnya, ia dapatkan di Undip, perguruan tinggi yang juga jadi almamaternya bosnya di Kemendagri, Tjahjo Kumolo. 
 
 
Awalnya, kata Pak Yus, pemberi beasiswa menyarankan dia untuk menempuh pendidikan di universitas yang ada di Kanada. Tapi, ketika itu ia mengincar Cornell University, salah satu universitas bergengsi di Amerika Serikat. Dan, ia bersyukur, akhirnya dapat diterima di universitas terkenal itu. 
 
Di Cornell, akhirnya ia meraih gelar MSc atau Master of Science. Ketika itu juga ia dapat tawaran untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, studi doktoral. Tapi ternyata ia mesti menjalani tes dan harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Karena studi S3 yang diincarnya di bidang  regional science, ia harus memenuhi syarat mendapat gelar Master of Arts atau MA. Kembali kata Pak Yus, ia kuliah lagi untuk mendapat gelar MA yang jadi syarat untuk melanjutkan S3-nya. 
 
 
Gelar MA pun akhirnya diraih. Setelah itu baru ia menempuh studi doktoralnya. Hingga ia lulus dan dapat gelar PhD. " Setelah itu kembali ke Kemendagri, jadi birokrat," ujarnya. 
 
 
Karirnya sendiri mulus-mulus saja. Bahkan bisa dikatakan jalan karirnya moncer. Beberapa posisi penting di Kemendagri sempat ia duduki. Sampai akhir, ia diangkat jadi Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah.  Puncaknya, dia jadi Sektretaris Jenderal, sebuah posisi birokrat tertinggi di kementerian. Bisa dikatakan Sekjen, adalah orang nomor dua setelah menteri. 
 
" Saya jadi Sekjen lewat lelang jabatan yang dilakukan terbuka. Alhamdulillah terpilih," ujarnya. 
 
Kini, masa pensiun sudah di depan mata. Bulan Juli ini, ia pensiun dari jabatan strukturalnya. Kata dia, banyak suka suka jadi birokrat. Tapi yang lebih penting, bekerja sesuai aturan. Tak usah neko-neko. 
 
" Tertarik jadi politisi pak?" Tanya saja. 
 
" Enggak tertarik," jawab Pak Yus pendek. 
 
" Kalau ada yang mencalonkan jadi calon kepala daerah bagaimana pak, apa akan diterima?" Kembali saya bertanya. 
 
" Ha.ha.ha, politik bukan alam saya. Saya tak punya potongan jadi politisi. Jadi dosen saja, sudah cukup," kata dia. 
 
Ya, dari dosen, kembali jadi dosen, itulah jalan yang dipilih Pak Yus. Selamat pensiun, selamat jadi pengajar lagi pak...
 
 
 
 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua