x

Iklan

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Dan Biang Kerok Itu Bernama Freeport

Heboh catut nama Presiden pun terkuak setelah Menteri ESDM membeberkannya, lalu bagaimana episode selanjutnya tentang kehebohan di negeri ini ?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Begitu kesimpulan seorang kawan tentang pencatutan nama Presiden dalam diskusi di warung kopi langganan kami, malam ini, dalam guyuran hujan setelah tiga hari kemarin kampung kami mengering kembali, tanpa guyuran air dari langit sama sekali.

“Mengapa malah perusahaan dari Amrik itu yang kamu tuding jadi biang keroknya ?” tanya Kang Atang. “Dalam kasus ini justru Freeport sepertinya layak diberi julukan sebagai Whistler Blower, alias pihak yang berani mengungkap kebobrokan pejabat di negeri ini.”

“Di satu sisi bisa jadi memang Freeport kita anggap demikian. Dengan keberaniannya manajemen perusahaan itu membuka borok elit sekaliber ketua DPR. Lalu sekarang publik pun menjadi semakin jelas, bagaimana ketua sebuah lembaga yang tugasnya melakukan pengawasan, legislasi, dan anggaran telah bertindak diluar tupoksinya. Bahkan konon sampai mencatut nama Presiden. Tapi harap diingat, perusahaan itu sudah 40 tahun menguras perut bumi Papua. Dan mengingat kekayaan isi perut bumi pulau paling timur negeri ini masih melimpah, mereka masih bernafsu untuk memperpanjang kontrak. Konon maunya mereka sampai 2041 mendatang. Maka untuk merealisasikan keserakahannya, perusahaan itu melobi para pejabat, dengan diiming-imingi keuntungan pribadi tentu saja.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tapi karena pihak Presiden jokowi sendiri jauh-jauh hari sudah menyatakan urusan perpanjangan kontrak itu ditetapkan 2019 mendatang,  bisa jadi mereka mencoba menggelitik para elit yang salah satunya dibocorkan Menteri Sudirman Said. Hanya saja dalam pertemuan antara pihak Freeport, Setya Novanto dan seorang pengusaha tersebut, mengapa Freeport merekamnya kalau bukan untuk tujuan di luar lobi itu sendiri.

Itulah masalahnya. Merekam dan membuat transkrip suatu pertemuan tanpa sepengetahuan pihak lain dalam pertemuan itu, sepertinya sudah menyalahi kode etik. Apa wewenang Freeport untuk merekam pertemuan itu kalau kemudian hari diberikan kepada Menteri Sudirman Said kalau tanpa maksud tertentu kalau bukan untuk mengadu-domba  DPR dengan Presiden. Maka hasilnya dapat kita saksikan sekarang ini, kegaduhan di negeri ini pun tak juga reda, perseteruan antara KMP dengan KIH yang tempo hari diganti namanya dengan sebutan parpol pendukung pemerintah pun sepertinya kian menjauhkan dari tugas mereka dalam mewujudkan cita-cita untuk menuju bangsa yang maju, dan adil serta sejahtera.”

Kami manggut-manggut saja. Tak nyangka kawan yang satu ini kali ini bisa bicara seperti seorang analis politik saja laiknya. Tapi semua orang di warung kopi tahu, di kampung kami kawan yang tadi menyebut Freeport sebagai biang kerok, merupakan salah seorang pendukung fanatik pasangan Capres/Cawapres yang kalah dalam Pilpres tahun lalu.

Hanya saja sepertinya Kang Atang belum menerima penjelasan kawan itu. dia pun kembali angkat bicara. “Maap, kawan. Sepertinya sekarang ini masalah kode etik dan segala macam tetek-bengeknya sudah tidak berlaku lagi. Sekarang ini kita sebagai rakyat sudah biasa melihat para tokoh dan elit politik yang loncat pagar, alias melanggar segala aturan dan undang-undang. Apalagi bagi pebisnis macam Freeport sepertinya sudah menjadi suatu hal yang wajar untuk menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan. Lalu karena mereka sudah paham watak dan karakter elit di negeri ini yang rakus dan serakah dalam memperkaya diri sendiri, maka umpan bagi-bagi angpau pun dilakukan Freeport. Dan karena Presiden Jokowi tidak bergeming, Setya Novanto yang disebut media sebagai politikus yang licin seperti belut karena selalu lepas dari jerat hukum yang mengincarnya, dan jago lobi dalam bisnis sejak era Soeharto itu pun didekatinya. Pancingpun disambar ketua DPR. Lalu begitulah yang terjadi sekarang ini. Setelahdihebohkan  kasus pertemuan dengan Donald Trump tempo hari, eh sekarang heboh pula dengan mencatut nama simbol negara.

Kalau saja Setya Novanto sadar, kasus yang menyangkut namanya itu apalagi kalau bukan suatu karma atas perbuatannya yang telah melenceng dari tugas dan wewenang yang sebenarnya... “

Mendengar omongan Kang Atang, kami manggut-manggut kembali. Tapi dalam hati, aku berkata, sebenarnya rakyat sudah lelah menonton panggung yang dilakoni para elit sekarang ini. Dan berharap segera diahiri. Untuk apa rakyat diajari bersilat lidah, sementara perutnya lapar dan hidupnya selalu susah? ***

Serial Obrolan di Warung Kopi

Ikuti tulisan menarik Adjat R. Sudradjat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB