Apresiasi juga Dengki Iringi Kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia

Sabtu, 2 Juli 2022 06:25 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia merupakan pengejawantahan dari amanat UUD untuk ikut menciptakan ketertiban dunia dan perdamaian abadi, bukan semata mata teks. Melainkan aksi nyata. Tapi kenapa di sini masih juga ada kelompok yang seperti kebakaran jenggot, dan nyinyir penuh benci?

Tentunya kita masih ingat, sebagaimana telah dilakukan oleh Presiden Soeharto di tahun 1995, saat pembantaian etnis Bosnia oleh Serbia masih berkecamuk.  Ketika itu dengan menggunakan kendaraan lapis baja dan fasilitas keamanan pasukan perdamaian PBB, Soeharto menembus Sarajevo, dan menjadi berita dunia di saat pemimpin dari negara lain tidak ada yang berani ambil risiko, padahal bahaya senantiasa mengancam. 

Bahkan jauh sebelum itu, Presiden RI yang pertama, Soekarno, pun pernah juga melaksanakan amanat UUD tersebut. Bung Karno telah mengambil inisiatif menghadirkan negara negara Asia dan Afrika di Bandung, yang sebagiannya masih dijajah kaum kulit putih, untuk berkumpul pada April 1955. 

Pun saat ini, Jokowi yang oleh para pembencinya disebut sebagai Presiden yang planga-plongo, di tengah pemimpin negara lain masih berhitung untung dan rugi, bahkan ada di antaranya yang justru malah mengompori, mantan Walikota Solo ini yang didampingi istri setianya, Iriana, seakan tak peduli bahaya yang mengancam, berupaya untuk melaksanakan amanat UUD, dengan melakukan kunjungan ke negara yang tengah berseteru - Rusia dan Ukraina.

Dengan kata lain, inisiatif Presiden Joko Widodo sebagai pemimpin negara Indonesia adalah untuk perdamaian dunia dan mengakhiri tragedi kemanusiaan.

Sebagaimana diulas kantor berita Reuter, Jokowi yang tahun 2022 ini menjabat sebagai Ketua G20 akan mendesak Rusia dan Ukraina untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai, dan mencari cara untuk membebaskan ekspor gandum ke pasar global. Disampaikan pula bahwa, Jokowi adalah salah satu dari enam pemimpin dunia yang sudah ditunjuk PBB sebagai "juara" dari Global Crisis Response Group (GCRG).

Adapun GCRG dibentuk untuk mengatasi ancaman gelombang kelaparan dan kemelaratan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat dari perang di Ukraina.

Tindakan Jokowi kali ini, di satu sisi telah mengundang apresiasi yang tinggi dari banyak negara, termasuk Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang menyebut Jokowi sebagai kepala negara pertama di Asia yang mau berkunjung ke negaranya yang tengah dibombardir Rusia.

Demikian pula dengan di Indonesia sendiri. Warga yang masih mampu berpikir waras, memberikan apresiasi atas tindakan Jokowi tersebut, dan mendapatkan sambutan yang positif, disertai doa agar misi yang diembannya berjalan dengan lancar dan sukses sebagaimana yang diharapkan.

Akan tetapi di sisi lain, ternyata kita masih saja menemukan kelompok yang nyinyir, bahkan seperti kebakaran jenggot. Seakan tidak senang dengan sikap Jokowi tersebut.

Bagaimana komentar mereka di media sosial yang menunjukkan sikap penuh kebencian, atau komentar politikus yang selama ini berseberangan, terkesan mengada-ada, dan sama sekali di luar nalar yang sehat.

 

Meskipun mereka berlindung dengan atas nama kebebasan mengeluarkan penndapat di negara demokrasi, sesungguhnya hal itu sudah melewati batas. Baik ditinjau dari sudut pandang etika, maupun adab sopan-santun berbangsa dan bernegara.

 

Bisa jadi Jokowi faham dengan puisi Jalaluddin Rumi: “Cinta dan kelembutan adalah sifat manusia, amarah dan gairah nafsu adalah sifat binatang.” Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu. Amanat harus segera dilaksanakan.

 

Sementara mereka yang memusuhinya jangankan memahaminya,membacanya pun bisa jadi tidak pernah sama sekali. ***

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler