Tragedi di Senayan, Guyonan di Istana

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dua peristiwa berlangsung bersamaan: di Istana dan di Senayan. Yang satu guyonan, yang satu lagi ‘serius’.

 

“Ada garis tipis yang memisahkan tawa dan kepedihan, komedi dan tragedi, humor dan kesakitan.”
--Erma Bombeck (1927-1996)

 

Ketika sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) berlangsung di Gedung DPR, Senayan, di Istana Negara, Presiden Joko menjadi tuan rumah bagi sejumlah pelawak. Mereka diundang untuk makan malam sambil berbincang santai. Pendeknya, ger-geran sebab di ruang perjamuan makan hadir Butet, Parto, Andre, Sule, Nunung, Cak Lontong, Aziz ‘Gagap’, Tarzan, JK alias Jarwo Kwat, Cici Panda, Mpok Atik, Indra Bekti, Rico Ceper, Fitri Tropica, dan Dorce plus Slamet Rahardjo.

Meskipun para pelawak itu suka bikin kejutan yang membuat orang tertawa terbahak-bahak, nyatanya mereka kaget juga ketika tiba-tiba diundang Presiden. Bayangkan, yang ngundang Presiden, makan malam pula, di Istana pula. Ini yang membuat Aziz ‘Gagap’ susah tidur semalaman—entah ia mengatakan yang sebenarnya, atau mendramatisasi.

Apa yang membuat orang tertawa ialah kecerdasan para pelawak untuk mengulik saraf tawa sehingga beresonansi. Saraf tawa bereaksi karena para pelawak mampu bermain logika. Menciptakan lawakan yang mampu meledakkan tawa, seperti mereka, butuh kecerdasan tersendiri—Psikolog Howard Gardner semestinya menambahkan kecerdasan tawa ini ke dalam teori kecerdasan majemuknya.

Kabarnya, ketika Aziz diminta Pak Joko untuk berbicara, ia terlihat bingung mesti ngomong apa dulu. Parto, tanpa sungkan-sungkan, menyabet peluang ini untuk nge-kick: “Kalau dibayar, dia gagap. Kalau tidak dibayar, gagu.” Presiden, yang didampingi Pak Teten dan Pak Pratikno, dan para tamunya terpingkal-pingkal.

Nah, soalnya kemudian, saya bertanya-tanya mengapa ya Pak Joko mengundang para pelawak bersamaan waktunya dengan berlangsungnya sidang MKD di DPR? Di Senayan, kabarnya, sidang berlangsung serius dan tertutup. Masing-masing anggota dan pimpinan MKD menyampaikan pendapatnya mengenai ‘apakah Ketua DPR Setya Novanto’ melanggar etika atau tidak, apakah pelanggarannya ringan, sedang, atau berat. Rakyat banyak tak bisa menyaksikan langsung apa yang terjadi di ruang sidang, sebab pintu ditutup rapat-rapat.

Beberapa media online tadi malam melaporkan pendapat masing-masing Yang Mulia itu dalam format skor antara pelanggaran sedang dan berat. Ini tak ubahnya permainan sepakbola antara dua kesebelasan. Disebutkan misalnya skor sedang dan berat sudah berbanding 7 dan 5. Rakyat banyak, yang bisa menonton di komputer dan gadget, dibuat deg-degan. Kira-kira apa yang akan terjadi.

Nah, keterkejutan pertama benar-benar terjadi ketika wakil Golkar dan Gerindra berpendapat bahwa Ketua DPR sudah melakukan pelanggaran berat. Wow, kok bisa? Sebelumnya mereka menghendaki persidangan tidak perlu diteruskan dan membela Ketua DPR habis-habisan, tiba-tiba kok berubah haluan 180 derajat. Pilihannya berat, bukan sedang pula.

Orang awam seperti saya baru ngeh ketika ada yang mencerahkan pikiran dengan pengetahuannya. Kata beliau ini, seperti dikutip media, jika keputusannya pelanggaran sedang, Ketua DPR dapat langsung dicopot dari jabatannya. Kalau pelanggarannya dianggap berat? Akan dibuat panel yang melibatkan masyarakat, tapi anggota dari warga ini dipilih oleh MKD. Panel ini akan mengkaji lebih dalam kasusnya dan setelah itu masalah dibawa ke paripurna. Di sini, situasi bisa berubah drastis.

Ketika Pak Joko dan para pelawak tengah guyonan di Istana, muncul kejutan kedua: Setya Novanto mengirim surat pengunduran diri dari jabatan Ketua DPR. Tapi ia tidak menyinggung sama sekali soal pelanggaran etika yang disangkakan. Begitu surat selesai dibacakan oleh pimpinan MKD (yang berpose bareng-bareng di hadapan wartawan dengan surat di tangan mereka), sidang pun ditutup. Lho? Keputusan akhir MKD apa: pelanggaran sedang atau berat? Jika melanggar, sanksinya apa?

Dalam hemat saya, lelucon di MKD itu—menyikut kiri-kanan, menyudutkan pelapor, mengganti-ganti anggota, hingga menjelang akhir sidang berubah sikap 180 derajat terkait pelanggaran—kalah lucu dibandingkan gurauan para pelawak di Istana. Mengapa? Karena para pelawak itu bermain logika, sedangkan para Yang Mulia mempermainkan logika.

Tapi ada hal lain yang membuat saya bertanya-tanya: “Mengapa Pak Presiden mengundang para pelawak bersamaan dengan berlangsungnya sidang pengambilan keputusan MKD? Apakah Pak Joko sedang menyindir permainan logika yang melecehkan akal sehat rakyat banyak itu?” Entahlah, barangkali Cak Lontong bisa menjawab. (Foto: Presiden Joko menikmati tawa lepas, tempo.co) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler