Jalan-Jalan ke Batu (Bagian 2) - Travel - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Jalan-Jalan ke Batu (Bagian 2)

    Batu punya kebun bunga, air terjun, bahkan olah raga paralayang yang bisa jadi sarana wisata.

    Dibaca : 2.545 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sekitar 2010, ketika Jawa Timur Park 2 banyak diiklankan di televisi menjadi tujuan liburan para pesohor dari Jakarta, saya kira ini proyek pemerintah provinsi melihat besar, luas area, juga namanya. Ternyata bukan, ini murni usaha lokal sehingga mungkin kita sependapat jika menilai Batu bekerja keras mewujudkan label Kota Wisata.

    Jawa Timur Park 2 diresmikan 2009, atau delapan tahun setelah Jawa Timur Park 1, yang dulu sebenarnya bernama Jawa Timur Park saja. Dua objek wisata ini masing-masing kekhasannya. Jika Jawa Timur Park 1 memiliki kolam renang, beberapa wahana permainan air, dan Galeri Nusantara yang mengenalkan keragaman budaya nusantara, Jawa Timur Park 2 adalah kerajaan hewan dan wisata edukasi tentang melestarikan alam.  

    Dua tujuan wisata yang beda tema ini tidak berjauhan, pun dari keduanya menuju Museum Angkut yang baru diresmikan 2015 dan dibangun oleh pengembang yang sama. Letak objek wisata terkenal yang berdekatan, keunggulan tersendiri menurut saya karena mempermudah jangkauan, sehingga dari luar kotapun, pengunjung dapat mengandalkan angkutan umum yang banyak tersedia di Kota Batu.

    Masih dibangun pengusaha yang sama, ada Batu Night Spectacular (BNS) yang tidak jauh. Menurut saya, ide BNS adalah pasar malam karena sebagian besar wahana berupa permainan, seperti trampoline, slalome test, sepeda udara super tinggi, ada juga rumah hantu. Menariknya, BNS dibangun skala besar dilengkapi sirkuit go kart, panggung untuk pentas musik, bahkan dancing fountain alias air mancur menari dengan tata lampu menarik. Daya tarik lain, dari area BNS yang di ketinggian, kita bisa menyaksikan pemandangan Kota Batu kala malam, dari hamparan lampu-lampu di lembah.

    Selain objek buatan, Batu mengembangkan modal alam untuk wisata. Batu beruntung diapit banyak gunung sehingga tanahnya demikian subur. Tidak sulit menemukan penjual bibit maupun tanaman di Batu dan saya beruntung menjumpai salah satu pusatnya. Tidak terencana sebenarnya, karena mulanya saya melihat-lihat berkeranjang mawar segar yang dijual pertangkai di sekeliling alun-alun. Tanpa saya minta, sang penjual menyarankan saya ke Gumur, Bumiaji, untuk melihat kebun mawar.

    Berbekal petunjuk penjual mawar, saya nekat pergi ke Bumiaji yang ternyata mudah dijangkau. Selain beberapa penanda arah, jika anda berhenti bertanya pada orang Batu, kebanyakan mereka tahu kebun bunga mawar yang telah jadi tujuan wisata ini. Bumiaji ada di bagian Utara Kota Batu, perlu kira-kira lima belas menit berkendara dari alun-alun.

    Sampai di Bumiaji, dari segi bangunan tidak nampak ini tujuan wisata karena tidak ada gerbang apalagi loket penjualan tiket masuk. Tapi jika kita menyampaikan maksud melihat mawar, akan segera ada pengantar, kelihatannya para pemilik perkebunan. Mawar ternyata mempunyai masa mekar masing-masing tiap pohon sehingga tiap hari ada saja kelopak bermekaran. Sangat menyenangkan melihat bunga-bunga dipanen bagi saya, dan kita bisa memetik sendiri mawar-mawar yang kita inginkan dengan harga tiga ribu rupiah pertangkai.

    Perkebunan mawar Bumiaji ternyata dikelola oleh para petani sendiri. Mereka bersatu dan membuat perkumpulan dinamai Gabungan Kelompok Tani Gunungsari Makmur akhirnya sering disebut wisata kebun mawar Gumur. Kebetulan perkebunan ini ada di sepanjang jalan Gunungsari, di Bumiaji.

    Dari petani di Bumiaji, saya baru tahu ternyata tempat mereka dekat saja dengan sentra kebun bunga Sidomulyo. Saya langsung ingat sempat membaca gapura bertulis “Masuk Kawasan Wisata Bunga Sidomulyo” dan dari pengarahan para petani mawar, saya menemukan gapura itu kembali dan siap menjelajah kebun bunga.

    Kebun bunga Sidomulyo lebih luas dibanding Gumur, mencakup lima dusun. Di sini, bukan saja mawar, tapi banyak jenis bunga dan tanaman hias. Kebun ini ada di lereng gunung sehingga sebagian kontur tanahnyapun lereng landai. Kita tidak perlu membayar apapun kecuali kita membeli bunga-bunga yang telah tersedia di kios-kios terpisah.

    Dari kebun bunga, saya kembali ke rencana yang teragenda melihat air terjun. Banyak objek air terjun di Batu. Yang saya tahu saja ada tiga yaitu Coban Rondo, Coban Talun, dan Coban Rais. Saya memilih yang pertama karena paling dekat dengan tempat saya istirahat jadi tidak perlu jauh saat pulang.

    Di tengah jalan, saya melihat parasut warna-warni melayang-layang di angkasa. Ternyata dari Gunung Banyak wisatawan bisa berolah raga paralayang. Meski ekstrem dan mahal, karena kabarnya perlu sekitar empat ratus ribu rupiah untuk paket standar, paralayang punya penggemarnya sendiri. Kalau musim libur bisa antri panjang dan sebaiknya membuat janji, saran seorang kenalan.

    Jalan menuju Coban Rondo sudah sangat bagus dibanding puluhan tahun lalu ketika pertama saya berkunjung. Dari gerbang yang mengharuskan kita membayar sepuluh ribu rupiah per orang, kita masih perlu berkendara lumayan jauh, kira-kira satu kilometer. Meski kondisi jalan beraspal tergolong bagus menurut ukuran saya, kasihan juga beberapa pengunjung yang saya temui berjalan kaki. Karena tidak ada penanda jelas, mungkin mereka mengira air terjun telah dekat sehingga memilih memarkir kendaraan dekat gerbang.

    Di lokasi wisata Coban Rondo tersedia pilihan kegiatan rekreasi. Ada outbond, river tubing, rafting, tracking bahkan night tracking, bersepeda gunung, dan agrowisata. PT. Perhutani Alam Wisata, anak Perhutani, yang mengelola Coban Rondo, menyediakan paket-paket wisata untuk perorangan maupun kelompok. Tempat ini ternyata juga dilengkapi penginapan untuk menampung para tamu pembeli paket wisata.

    Coban Rondo sendiri tidak banyak berubah. Masih bergermuruh mengantarkan air tercurah dari tebing vertikal setinggi 84 meter. Coban Rondo ada di lereng Gunung Kawi.

    (Bersambung)

     

    Sumberfoto : www.malang-guidance.com

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.