x

Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Saran untuk Mbak Puan Maharani

Mbak Puan Maharani, keseleo lidah, lalu menuai kritikan dan cibiran, begitu berita yang saya baca di media online juga di media cetak.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mbak Puan Maharani, keseleo lidah, lalu menuai kritikan dan cibiran, begitu berita yang saya baca di media online juga di media cetak. Mbak Puan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan kita yang wangi dan selalu rapih itu kabarnya keseleo lidah karena menganjurkan rakyat miskin untuk berdiet. Banyak yang kemudian mencibir pernyataan Mbak Puan. Bahkan, ada yang menilai, pernyataan Mbak itu, seperti sebuah penghinaan bagi rakyat miskin yang memang setiap harinya selalu berdiet. 
 
Tapi begini Mbak. Nuwun sewu bila saya lancang menasehati. Sebagai politisi, Mbak mestinya bisa membuat cibiran jadi sebuah keuntungan politik. Asal cerdas, dan pintar meraciknya, saya yakin pernyataan diet bagi orang miskin bakal jadi kapital politik yang akan menguntungkan bagi Mbak juga partai Mbak. Syaratnya, konkritkan diet untuk orang miskin jadi program nasional. Ingat Mbak, bagi orang miskin soal perut adalah yang utama dan pertama. Mereka tak perlu jargon indah dan gagah, cukup perut dengan kenyang. Bahkan, lewat diet untuk orang miskin, Mbak setidaknya punya jembatan komunikasi mendekati orang miskin yang kata badan statistik jumlahnya masih naudzubillah..
 
Jadi langkah pertama yang perlu Mbak lakukan, konkritkan diet untuk rakyat miskin jadi sebuah program pemerintah. Namanya terserah Mbak, apakah program revolusi mental lewat diet nasional, atau apa. Namun program diet nasional itu mesti terukur. Terutama soal menu. Ini penting, agar program itu, tak hanya menyenangkan rakyat, tapi juga menguntungkan Mbak secara politik.  Ini saran saya tentang menu diet untuk orang miskin yang mungkin bisa Mbak pertimbangkan. 
 
Pertama menu diet untuk sarapan pagi. Saya kira menunya, cukup singkong rebus, sedikit taburan keju. Atau kalau tak ada keju, tak apalah siraman gula nira cair. Plus segelas susu.
 
Singkong tahu kan Mbak, adalah makanan khas Indonesia. Ini menu yang juga disukai Mas Yuddy Chrisnandie, kolega Mbak di kabinet. Bahkan Mas Yuddy saking sukanya, sampai memasukan singkong jadi menu wajib PNS. 
 
Kenapa harus singkong, karena ini jadi bahan pangan pengganti terigu. Jadi jangan pakai bahan makanan berbahan terigu, kurang nasionalis rasanya, sebab terigu itu sebagaian besar masih impor. Bila singkong yang dipilih, petani singkong yang bakal girang, bukan produsen mie rebus. 
 
Kedua menu diet untuk makan siang. Nah, untuk makan siang, tak usah mewah. Rakyat yang 'kismin' sudah biasa berdiet. Namun, agar diet berhasil dan punya manfaat bagi tubuh, tentu asupan gizi perlu diperhatikan. Menu diet siang hari, cukup setengah porsi nasi, sekerat daging sapi, ayam atau bebek. Sepotong tempe. Namun jangan lupa jus jeruknya. 
 
Saya kira itu menu ideal. Bila Mbak agak alergi dengan daging sapi impor, saya sarankan pilih daging bebek. Bila ini jadi program dari kementerian Mbak, para peternak bebek pasti bersorak sorai girang. Dengan memasukan program diet dengan daging bebek, saya yakin ini akan menghasilkan multi player effect. Para peternak bakal senang. Pedagang pakan juga ikut girang. Akhirnya roda perekonomian akan bergerak. Dan, yang pasti bebek bakal naik kelas. Secara politik ini juga menguntungkan bagi Mbak, juga mungkin partai Mbak. Karena pasti peternak bebek bakal balas budi. Di 2019, boleh jadi mereka bakal berbondong-bondong mendukung panjenengan juga partai Mbak. 
 
Jangan lupa juga menu ikan. Ingat Mbak, Indonesia kaya akan ikan. Kombinasikan menu daging dengan menu ikan. Gandeng Ibu Susi Pudjiastuti untuk mendukung program diet nasional. Saya yakin para nelayan akan senang, bila ikan-ikan mereka diambil untuk program nan mulai tersebut. Dan lagi-lagi, ini bisa jadi peluang bagi investasi politik Mbak. Akan ada tambahan dukungan dari para nelayan. 
 
Bagaimana dengan makan malam? Karena ini program diet, para pakar gizi biasanya menganjur kala malam jangan mengkonsumsi 'makanan berat'. Buah-buahan sangat dianjurkan. Nah, saran saya, pilih buah-buahan aseli Indonesia alias buah lokal. Jangan buah impor apalagi dari Tiongkok. Cukup kereta cepat saja yang diurus Tiongkok. 
 
Lagi-lagi ini secara politik bisa menguntungkan Mbak. Coba data berapa petani buah di Indonesia. Jumlahnya sangat signifikan. Jika buah lokal dipakai jadi menu diet malam rakyat miskin Indonesia, pasti mereka, para petani buah akan sangat berterima kasih. Nama Mbak akan diingat. Begitu juga asal usul partai Mbak. Yakinlah, ucap terima kasih petani buah akan terasa pada 2019 nanti. 
 
Jadi, harus pintar dan cerdas mengolah kritikan dan cibiran. Olah itu dengan pintar biar jadi kapital politik di masa datang. Pergunakan momentum diet untuk rakyat miskin sebagai alat politik yang efektif. Karena rakyat miskin itu, sebenarnya tak begitu kenal dengan istilah diet. Namun yang mereka tahu, tak ada uang, makan berkurang. Tak ada penghasilan, jatah perut dipangkas. 
 
Jadi, ketika diet untuk rakyat miskin jadi program nasional, wah itu hal baru dan terobosan yang cerdas. Rakyat miskin akan biasa dengan pola makan yang diatur secara terstruktur, massif dan sistematis. Mereka akan jadi pribadi-pribadi yang jelas pola makannya. Dan, ini juga jalan mewujudkan revolusi mental yang didengung-dengungkan pemerintah. 
 
Mungkin itu saja Mbak saran dari saya. Salam diet nasional...
 
 

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB