Akibat Jumlah Celana Terbatas

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saat masih meliput di Komisi Pemilihan Umum (KPU), terutama saat hiruk pikuknya persiapan pemilu 2009, saya punya kawan liputan yang lumayan akrab.

Saat masih meliput di Komisi Pemilihan Umum (KPU), terutama saat hiruk pikuknya persiapan pemilu 2009, saya punya kawan liputan yang lumayan akrab. Namanya Kholil, lengkapnya Kholil Rokhman. Saat itu dia bekerja di Koran Seputar Indonesia atau Sindo, koran punyanya Pak Hary Tanoesoedibjo, konglomerat media yang juga menjadi pemilik RCTI serta sejumlah stasiun televisi lainnya. 
 
Saking akrabnya, saya kerap main ke kosan Kholil di bilangan Kebon Sirih, dekat dengan markas Sindo. Kholil, lelaki asal Kendal itu, orangnya senang humor, bahkan kerap jahil mengerjain para wartawan. 
 
Nah suatu ketika, saya ingat saat itu musim hujan sedang mendera Jakarta. Nyaris tiap hari turun hujan. Suatu hari saya tiba agak pagi. Karena kantuk masih tersisa, saya pun ngopi di dekat gerbang masuk gedung KPU. Tukang kopi langganan yang suka keliling pakai sepeda sudah nongkrong dari tadi.
 
Sedang asyik-asyiknya mereguk kopi, tiba-tiba masuklah sebuah motor Honda Grand. Pengemudinya sudah saya kenal, Kholil Rokhman si wartawan jahil. Ia pun segera memarkirkan motor dan tergesa menghampiri saya. Lalu langsung duduk, dan tanpa permisi menyerobot begitu saja gelas kopi saya. " Ngantuk pak," katanya tanpa rasa bersalah. 
 
Saya hanya nyengir saja. Kelakuan Kholil seperti itu sudah biasa. Tiba-tiba dengan mimik wajah serius, dia bertanya. " Pak, yang jual celana dekat sini dimana yah?"
 
Saya pun kaget, pagi-pagi Kholil menanyakan yang jual celana. Biasanya yang ditanyakan, apakah sudah dapat berita atau belum. " Nanya penjual celana memangnya ada apa Lil?" saya balik bertanya. 
 
 
Ia pun beringsut mendekati saya. Lalu, ia memperlihatkan celananya tepat dibagian selangkakan dia yang dari tadi dia tutupi pakai tasnya. " Ini pak, celana saya robek, saya mau beli celana," katanya dengan wajah agak memerah, mungkin menahan malu. 
 
Saya setelah melihat itu tak kuat menahan tawa. Terlihat celana Kholil robek tepat di selangkakannya. Pantesan dia malu. Tapi yang saya heran, kenapa dia tak berganti celana, bukan justru pakai celana robek. Ini mau beli celana baru pula.
 
" Emangnya enggak ada celana lain Lil?" kembali saya bertanya. 
 
"He.he.he celana saya terbatas. Yang lain belum saya cuci, lagi direndam. Ini celana saya satu-satunya yang tersisa, eh malah robek lagi. Jadi saya mau beli celana dulu. Titip berita yah, takutnya saya lama," katanya. 
 
Saya pun mengiyakan Kholil. " Ya udah, saya jagain berita. Kau beli saja celana. Di Senen, banyak yang jual celana bekas, kau beli saja di sana," kata saya.
 
Kholil pun mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia pamit dan bergegas menuju parkiran motor. Dan, setelah motor menyala, ia langsung meluncur keluar gedung KPU, sepertinya menuju ke Senen untuk beli celana baru. 
 
" Terima kasih pak, titip berita, nanti saya agak siangan ke sini lagi," kata Kholil dengan setengah berteriak. 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler