x

Iklan

TEMPO INSTITUTE Indonesia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mengenal Opini di Hari Pertama

Klinik Menulis Opini bersama Yos Rizal, Redaktur Opini Tempo pada pertemuan pertama.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mengenal Opini di Hari Pertama

“Penulis opini harus gaul dan tren,” kata Yosrizal, Redaktur Opini Tempo ketika membahas modal yang dibutuhkan seorang penulis opini pada pertemuan pertama, Klinik Menulis Opini yang diselenggarakan Tempo Institute, Selasa,15 Maret 2016 lalu.

Modal gaul dan tren penting untuk membuat sebuah opini yang faktual dan aktual. Karena opini merupakan pendapat, pikiran, pendirian, atau pandangan seseorang tentang suatu peristiwa. Jika tidak gaul dan mengikuti tren, tulisan akan kaku dan datar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sejak 2009, Tempo Institute konsisten menggelar berbagai klinik menulis. Sesuai dengan fokus kegiatannya ‘yaitu pengembangan jurnalistik secara luas’, tahun ini ada beragam menu klinik menulis yang dapat diikuti oleh siapapun sesuai minatnya (kunjungi www.tempo-institute.og). Salah satunya adalah Klinik Menulis Opini.

Klinik Menulis Opini tahun 2016 dibagi ke dalam empat angkatan, dan angkatan pertama sedang berlangsung sejak 15 Maret lalu. Klinik menulis yang diadakan setiap hari Selasa ini akan berakhir 12 April mendatang, untuk angkatan pertama.

Pada pertemuan pertama, angkatan pertama di tahun 2016, sebelum masuk materi, Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute membuka kelas. Mardiyah memulai dengan kata sambutan ringkas. Setelahnya, para peserta dicairkan dengan sesi perkenalan.

Metode perkenalan yang digunakan cukup unik. “Medote ini bisa mengukur kemampuan menulis teman-teman,” ujar Mardiyah ketika menjelaskan teknisnya. Sambil menjelaskan teknis, panitia membagikan metaplan kepada setiap peserta. “Silahkan tulis ciri-ciri kalian pada metaplan tersebut, tidak usah menuliskan nama,” katanya.

Seorang peserta angkat tangan, “seberapa panjang Mbak?”

“Cukup tiga kalimat, satu kalimat juga bisa tapi minimal tujuh kata,” ujar Mardiyah menjawab. Peserta pun mulai khusyuk menulis. Suasana hening sebentar.   

Setelah semua peserta menuliskan ciri-ciri dirinya, Mardiyah pun membacakan beberapa. “Saya seorang dokter, berkacamata, tinggi seratus delapan puluh centimeter, dan memakai kaos,” demikian salah satu bunyi tulisan peserta. “Hm, ini pasti pak Adil, jelas. Karena cuma pak Adil di sini dokter, benar kan? Haha…,” Mardiyah menebak, diikuti tawa para peserta. Sebelumnya Mardiyah sudah mengenal Adil Pasaribu. Tulisan itu memang benar milik pak Adil Pasaribu, dokter bedah di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Pak Adil pun memperkenalkan diri secara langsung yang diikuti peserta lain.  

“Jika orang yang saya tebak melalui apa yang dituliskan di sini benar, artinya sudah mampu menuliskan dirinya ke dalam tulisan agar mudah dipahami orang, jika salah berarti belum mampu,” kata Mardiyah menjelaskan makna metode dalam perkenalan itu.

Mardiyah memang berhasil menebak beberapa nama peserta. Dengan itu, menurutnya ada peserta yang sudah memiliki kemampuan menulis yang mudah dipahami, tetapi ada juga yang belum. “Di klinik menulis ini, semoga kemampuan menulis teman-teman bisa lebih tajam,” kata Mardiyah menutup sesi perkenalan dan mempersilahkan Yosrizal.  Yosrizal merupakan Redaktur Pelaksana Tempo. Ia akan mengampu klinik menulis opini hingga pertemuan akhir. Dan pada pertemuan ketiga juga keempat, ia ditemani oleh dua redaktur lain; Iwan Kurniawan dan Idrus F. Shahab.

Sebagai pertemuan awal, Yosrizal meleburkan peserta yang berjumlah 15 orang itu dengan materi pengenalan rubrik opini; baik secara teoritis juga praktik di berberapa media cetak.

Di Koran Tempo, rubrik opini disebut Pendapat. Sedangkan di Kompas, Media Indonesia dan Republika disebut Opini. Panjang artikel setiap media juga beda-beda, “Kalau kita di Tempo maksimal lima ribu karakter, itu dengan spasi. Yang lain bisa sampai enam atau tujuh ribu karakter,” kata Yosrizal.

Opini adalah pendapat, pikiran, pendirian, atau pandangan seseorang tentang suatu masalah dan bisa dipertanggungjawabkan dengan berdasar dalil-dalil ilmiah yang disajikan dalam bahasa populer. “Dalam opini, pastinya sudut pandang pribadi penulis sangat dimungkinkan,” kata Yos, sapaan akrabnya. Karena opini adalah pendapat, maka penulisnya harus menguasai apa yang ditulis. Penulis harus mampu meyakinkan pembaca bahwa apa yang dia tulis memang bidang yang benar-benar ia kuasai, maka latar belakang penulis penting diketahui pembaca. “Seorang sarjana hukum menulis tentang kesehatan, siapa yang percaya? Meski ia menguasai, tapi pembaca akan sulit percaya,” kata Yos Rizal menjelaskan materi tentang modal yang dibutuhkan untuk menulis opini.

Selain harus kompeten terhadap isu, penulis opini juga harus mampu menulis secara terstruktur. “Argumentasinya harus runut, jelas, logis, dan kaya referensi. Maka, membaca memang suatu kewajiban,” katanya menambahkan.   

Dimulai dari Ide

Modal utama menulis opini adalah ide. “Ide adalah harta paling berharga yang dimiliki penulis,” demikian kata Yos. Opinilah yang membedakan antara satu penulis dengan penulis yang lain.

Kadang kita bingung, dia kok bisa punya ide itu ya? Sebenarnya ide ada di mana-mana. Dari peristiwa, dari fakta, dari bacaan, dari riset, dari pengalaman orang lain, dan mana-mana. “Tinggal bagaimana kita melihat segala sesuatu, kepekaan kita harus diasah melihat segala sesuatu,” kata Yos  mengupas sumber ide.

“Saat ide sudah ditemukan, langsung tuliskan! Karena kadang kita lupa” kata Yos menegaskan.

Tentu tidak berhenti disitu saja. Menurut Yos, setelah ide ditemukan, penulis harus merumuskan angle. “Dari sisi mana kita mau menulis? Tentukan, agar tulisan fokus,” katanya.

“Apa angle mas,” tanya Mohamad Shihab, peserta yang berprofesi sebagai dosen Ilmu Komunikasi Presiden University, Jakarta.

Angle adalah sudut pandang. Setiap permasalahan memiliki aneka ragam sudut pandang, bisa positif, negatif, bisa juga netral. Tergantung dari arah mana melihatnya. “Misalnya, melihat seekor gajah. Jika Anda diminta mendeskripsikannya, bagaimana Anda melakukannya? Pasti Anda kesulitan jika tidak menentukan sisi mana yang akan Anda deskripsikan. Apakah ekornya? Kakinya? Belalainya? Atau gadingnya?,” demikian Yos memberi contoh menentukan angle. Agar mudah mengeksekusi angle, sebaiknya ditulis dengan kalimat tanya, misalnya Bagaimana bentuk belalai gajah?

Tapi, menentukan angle juga gampang-gampang susah. Karena sebuah isu dapat dilihat dari berbagai angle. Namun demikian, seorang penulis harus dapat melihat angle yang menarik dari isu tersebut. “Itu memang sejatinya penulis opini,” kata Yos lagi sebelum mempersilahkan peserta istirahat selama 15 menit.

Setelah istirahat peserta kembali ke kelas. Yos Rizal menjelaskan tentang outline dan judul sebuah angle…

Tunggu ulasan selanjutnya…

Sumber Tempo Institute

Ikuti tulisan menarik TEMPO INSTITUTE Indonesia lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan