Euro, Copa, Dominasi Eropa - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Suporter cantik timnas Perancis, mengenakan atribut berwarna bendera Perancis saat menyaksikan timnya melawan Rumania di ajang kualifikasi grup A Piala Eropa 2016 di stadion Stade de France, Saint-Denis, Paris, Perancis, 10 Juni 2016. REUTERS

Toriq Hadad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Pilihan
  • Euro, Copa, Dominasi Eropa

    Dibaca : 5.538 kali

    Umat Islam memasuki bulan puasa, tapi penggila bola sudah lebih dulu merayakan "Lebaran": dua turnamen akbar digelar dalam waktu hampir bersamaan untuk pertama kalinya. Euro 2016 diadakan di Prancis mulai 10 Juni. Copa America-yang merayakan ulang tahun ke-100 dan mengundang enam "negara luar", karena itu disebut Copa America Centenario-digelar di Amerika Serikat sejak 3 Juni.

    Untuk yang gila bola, ini jelas hadiah besar. Bagi yang puasa tapi tak suka bola, ini juga berkah: silakan matikan televisi, dan berzikirlah dengan lebih khusyuk.

    Dua "piala dunia mini" itu, ketika Lionel Messi dan Edinson Cavani turun bertanding di Copa America bersamaan dengan dengan Ronaldo dan Ibrahimovic di Euro, pertanyaan yang langsung muncul: mana turnamen yang terbaik? Jurgen Klinsmann, bekas striker Jerman itu, jelas menyatakan Copa America lebih baik. Lebih banyak bintang, lebih banyak superstar, kata dia. Pendapat itu pasti lantaran Klinsmann sekarang menjadi pelatih kesebelasan Amerika Serikat, tuan rumah Copa.

    Lain lagi pendapat Marco Gomez, seorang jurnalis. Ia melihat dari sisi hadiah, Euro jauh lebih hebat. Euro menyediakan hadiah US$ 300 juta, lebih dari 16 kali lebih besar daripada Copa-yang hanya US$ 21,5 juta. Untuk 24 tim yang bertanding di Euro, mereka dapat uang tampil US$ 9 juta. Berarti, seandainya pun kalah di penyisihan grup, hadiah yang diterima tim pecundang di Euro 2016 hampir dua kali lipat ketimbang juara Copa America.

    Tiap kepala punya pendapat berbeda tentang turnamen mana yang terbaik. Bagi saya, Euro dan Copa punya keunggulan masing-masing. Copa jelas penuh bintang. Di Argentina ada Messi dan Di Maria, Uruguay ada Suarez, lalu James Rodriguez di Kolombia. Tapi di Euro 2016 juga banyak rising star. Orang akan menantikan aksi Griezmann dan Anthony Martial di lini depan Prancis, atau Jamie Vardy dan Marcus Rashford yang menjadi ujung tombak Inggris, Muller dan Gomez di tim Jerman, dan tentu saja Robert Lewandowski yang membela Polandia.

    Hampir semua pemain terbaik dunia bermain di dua turnamen ini. Inilah kegiatan pemasaran olahraga terhebat yang pernah saya saksikan. Saya yakin waktu penyelenggaraan dua turnamen yang nyaris bersamaan itu bukan kebetulan belaka. Dua turnamen itu, yang secara totalnya punya anggaran US$ 321,5 juta, pastilah menghasilkan pendapatan luar biasa. Buktinya, perusahaan media Datisa berani membayar uang suap US$ 100 juta untuk empat turnamen Copa sejak turnamen tahun lalu di Cile. Kini Datisa dalam investigasi Departemen Kehakiman AS, menyusul penyidikan atas skandal suap FIFA yang terbongkar tahun lalu. Fox Sports, jaringan televisi, membayar hak siar US$ 15 juta untuk Copa America.

    Sepak bola memang sudah merupakan industri raksasa. Tapi soal mengelola industri ini, Eropa boleh dikata masih nomor satu. Copa America barangkali bisa merebut perhatian dunia, tapi itu hanya sejenak. Sebentar lagi, ketika roda kompetisi Eropa berputar, semua pemain terbaik yang kini bermain di Copa, juga dari setiap sudut Afrika, Asia, dan Australia, akan berduyun-duyun pulang ke klub-klub mereka di Eropa. Kompetisi terbaik dunia masih ada di Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, semuanya di Eropa. Pemain bergaji terbesar ada di Eropa. Pelatih terbaik dunia juga bekerja di Eropa.

    Ini praktek ekonomi biasa. Seperti juga aliran uang, yang mengikuti tempat dengan pendapatan investasi terbaik, pemain-pemain terhebat dunia juga akan mengalir mengikuti bayaran terbaik yang bisa mereka raih dari klub mana pun.

    Sebegitu menggiurkannya bayaran di Eropa, sampai-sampai banyak pemain rela melepaskan kewarganegaraan mereka. Di Euro 2016, ada 101 pemain imigran (dari 552 pemain di Euro 2016) yang bermain untuk negara Eropa. Ada 40 pemain asal Afrika, sembilan dari benua Amerika, seorang dari Asia.

    Nasionalisme sudah digadaikan demi bayaran besar sepak bola? Entahlah. Ketimbang pusing, kita tonton saja dua turnamen itu.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.