x

Iklan

Naufil Istikhari Kr

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Tuhan di Sekitar 17 Agustus 1945

Mengapa anak-anak muda seperti Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni menginginkan Indonesia merdeka tepat tanggal 17 Agustus? Ada apa dengan angka 17?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pagi itu, 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta diculik. Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh melarikan dua proklamator ini ke Rengasdengklok. Mereka, para penculik itu, mendesak Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi keesokan harinya: 17 Agustus 1945. Mengapa anak-anak muda itu menginginkan Indonesia merdeka tepat tanggal 17?

Mungkin itu terjadi secara kebetulan, tetapi mungkin juga memang telah dipersiapkan. Tetapi mari kita coba lupakan soal kebetulan. Dalam kepercayaan orang Jawa kuno, angka yang memiliki elemen fonetis “tu” begitu sakral, esoteris—sama seperti kata Tuhan—dan itu hanya terdapat pada dua angka: satu dan tujuh.

Kombinasi angka satu-tujuh (1-7) mendorong imaji kolektif pada ruang kebermaknaan yang bersumbu di titik religiositas, juga spirit lokalitas. Sayangnya, lokalitas acapkali tersungkur ke dalam selokan-selokan modernitas kemudian mengalir menjadi comberan pengetahuan yang dianggap menjijikkan. Rasionalisme membungkus lokalitas jadi kerdil, lalu ejekan-ejekan penuh sentimen terhadap kearifan lokal (local wisdom) dianggap ilmiah. Oleh karenanya, mitos-mitos dan laku mistis dianggap mengencingi akal sehat.   

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Padahal, tulis Lévi-Strauss, dalam The Structural Study of Myth (1958), mitos memiliki struktur mirip bahasa yang berupa pesan dan memiliki makna-makna. Sakralitas angka satu dan tujuh, misalnya, merupakan kepercayaan yang dianut masyarakat Jawa kuno, namun memantulkan seonggok kearifan yang terlalu berharga dilupakan.

Masyarakat Jawa kuno tersebut memiliki sistem keyakinan (agama) yang disebut Kapitayan. Agama Kapitayan mempunyai konsep teologis yang ritmis. Terma Tuhan, menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (2012), berasal dari agama ini. Mereka memuja sesembahan tertinggi Sanghyang Taya (dalam bahasa Kawi: Taya-Suwung, hampa) yang dimaknai "tan keno kinoyo ngopo", tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu, tak terdefinisikan.

Taya yang tidak terdefinisikan itu diyakini memancar sebagai pribadi Ilahi yang disebut Tu, yakni kekuatan gaib Yang Tunggal dan meliputi segala. Tu diyakini memiliki dua sifat utama, baik dan tidak baik. Yang baik disebut Tu-Han dan yang tidak baik disebut Han-Tu. Demikianlah, bagi orang Indonesia Tu-Han selalu dimaknai baik dan Han-Tu selalu dimaknai tidak baik. Jadi sebutan Tu-Han itu asli kosa kata Nusantara polinesis.

Penganut Kapitayan percaya, Tu dapat dihampiri, sebab ia sesungguhnya memanifestasi diri. Manifestasi Tu dapat ditemukan pada nama-nama yang dalam bahasa kuno mengandung unsur bunyi “tu”—watu (batu), tugu, tuban (berarti air terjun dalam bahasa Jawa kuno) yang dipercaya memiliki kekuatan gaib.

Nah, untuk mendekati sang Tu, Yang Mahasegala, diperlukan sarana melalui persembahan—tumpeng. Memberikan sesaji di tempat-tempat tertentu dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada kekuatan manifes sang “Tu” tersebut. Begitu juga dengan angka satu dan tujuh. Di dalamnya tersembunyi sakralitas, kekuatan tak kasat mata. Itu juga dimaksudkan sebagai sarana menyembah Sanghyang Taya (dari sini asal kata “sembahyang” diambil): suatu sistem teologi yang mirip agama monoteis (Sunyoto, 2004: 215).

Satu merupakan simbol Sanghyang Taya yang Esa. Ini jelas semacam agama monoteis, bukan animisme maupun dinamisme seperti yang disebut Kolonial Belanda. Kita, kata Agus Sunyoto, secara suka rela menerima begitu saja istilah yang dipakai Belanda walaupun sebenarnya salah. Pemerintah kolonial cenderung menganggap rendah tradisi setempat kemudian menyimpulkannya secara simplifistis (Baso, 2013: 91-93).

Menurut KH. Said Aqil Siradj, agama Kapitayan disebut nihlah dalam teori agama-agama. Sebutan untuk sistem keyakinan yang masih belum sempurna kadar konsep teologisnya. Selain nihlah, ada millah dan ad-din. Apa pun bentuknya, agama Kapitayan bukan sembarang kepercayaan.

Tujuh dianggap bernafas Ilahi. Kita sampai sekarang masih dapat menyaksikan upacara tujuh bulan usia kehamilan; tujuh hari upacara kematian dan sebagainya. Tujuh dapat dikaitkan pula dengan tata langit yang berlapis tujuh. Kita tahu, langit juga disimbolisasi sebagai singgasana Sanghyang Taya.

Angka 17 memiliki makna filosofis yang sama. Soekarni dan Wikana lahir dan besar di Jawa. Chaerul Saleh, meski orang Sumatera, tapi ia paham budaya Jawa. Orang-orang ini, yang berani menculik Soekarno-Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan, paham bagaimana munyalakan spirit lokalitas. Angka 17 mengandung unsur magis, gaib, sakral.

Orang paling rasional dan ilmiah pun boleh menertawakannya sebagai mitos. Tapi jangan lupa, pemikir sekaliber Lévi-Strauss menghargai kepingan-kepingan mitologis. Terkadang kita terlalu pongah meninggalkan warisan yang tampak tak masuk akal hanya karena bergagah-gagah dan sok akrab dengan makhluk bernama rasionalisme, empirisme dan positivisme: musuh mistisisme itu.

Sejarah mencatat, Soekarno-Hatta tak memiliki imajinasi apa pun untuk memproklamirkan kemerdekaan secepat itu. Mereka berdua kaget dan setengah terpaksa kala tiga orang tadi mendesaknya untuk segera mengambil keputusan. Kalau saja tiga orang itu tidak memiliki—dalam istilah Jung—ketidaksadaran kolektif mengenai sakralitas angka 17, dapatkah sejarah memastikan Indonesia merdeka 17 Agustus 1945?  Mungkin kita masih akan lama terjajah. Mungkin juga kita semakin kesulitan menjangkau arah.

Lokalitas dapat memberikan petunjuk tentang hakikat Yang Terbatas. Kita perlu sedikit membuka hati, mengasah intuisi, melarung diri ke dalam jagad subtil misteri yang tersembunyi. Merdeka di tanggal 17 bukan semata ketercatatan dalam sebongkah prasasti atau tugu proklamasi. Angka 17 menyimpan kekuatan yang tak layak disebut nisbi. Semacam ledakan spirit yang membangunkan anak-anak bangsa dari tidur panjang penuh mimpi. Sebab dalam angka 17 itu, ada Tuhan (Taya) yang menyendiri.

Ikuti tulisan menarik Naufil Istikhari Kr lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler