Obrolan tentang Kesia-siaan yang Paripurna

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kalau Sobary menyatakan alasannya mulai merokok di usia senja adalah ideologis, Bang Yando menyatakan bahwa dia berhenti merokok karena alasan ideologis.

 
 
Jalal
Reader on Political Ecology and Corporate Governance
Thamrin School of Climate Change and Sustainability
 
 
Saya punya daftar panjang orang yang saya hormati dan kagumi dalam hidup ini. Mereka bisa yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Bisa merupakan tokoh terkenal, bisa saja orang yang tak dikenal publik. Bisa benar-benar telah saya temui secara langsung, bisa pula saya hanya kenali lewat karya-karyanya. Tapi mereka semua jelas punya jejak pengaruh pada cara saya berpikir, bersikap dan bertindak.
 
Kali ini saya mau bertutur tentang R. Yando Zakaria, salah satu orang yang berada dalam daftar itu.  Kami bertemu ketika tahun 1997 saya mulai tertarik pada gerakan keberlanjutan hutan. Dia adalah guru saya dalam memahami rimba aspek sosial kehutanan. Dia mengajari saya tentang penghormatan kepada masyarakat adat, pluralisme hukum, dan soal bagaimana konflik tenurial dipahami dan (seharusnya) diselesaikan. Tapi lebih daripada sekadar mengajari saya soal detail teknis, dia—lewat pendekatan antropologisnya—jelas membuat saya takzim dan kagum kepada masyarakat desa.
 
Bang Yando, begitu sapaan saya kepada dia, tinggal di Yogyakarta.  Walau dia cukup kerap ke Jakarta dan sekitarnya, hanya terkadang kami bertemu. Kebanyakan karena kebetulan saja. Jadual perjalanan kami memang padat. Tapi, beberapa bulan lalu kami dikumpulkan lagi lewat sebuah WhatsApp Group yang (maunya) mengurusi soal sertifikasi hutan. Saya bersyukur bisa menyambung lagi silaturahmi dengan dia, dan rekan-rekan lain yang masih punya perhatian terhadap kelestarian hutan.
 
Sama saja dengan WAG lain, pesan-pesan out of topic alias OOT bersliweran masuk. Termasuk, isu yang kembali marak belakangan ini, soal rokok.  Awalnya Mas Dwi Rahmad Muhtaman, sang punggawa WAG itu, mem-posting tulisan Mohamad Sobary yang membela rokok dengan segala alasan (atau dalih, bila dilihat dari kubu seberangnya). Lalu, seperti cerminan masyarakat Indonesia pada umumnya, para pendekar kelestarian hutan pun seakan terbelah.  Tak saya sangka, Bang Yando sangat jelas menunjukkan posisinya bahwa dia ada di kubu pro pengendalian tembakau.
 
Mengapa tak saya sangka?  Terus terang karena dalam ingatan saya dia merokok. Dan, walaupun ada figur-figur perokok seperti Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan yang tegas pembelaannya pada pengendalian tembakau, sebagian besar perokok tampaknya ingin bebas merokok tanpa menghiraukan konsekuensinya terhadap orang lain.  Tanggapan Bang Yando sendiri kepada tulisan Sobary sangat singkat. Kalau Sobary menyatakan alasannya mulai merokok di usia senja adalah ideologis, Bang Yando menyatakan bahwa dia berhenti merokok karena alasan ideologis.  Mungkin di kepala siapapun yang membacanya terbersit pertanyaan: apakah ideologi yang dimaksud oleh keduanya itu berbeda sehingga Sobary memutuskan merokok sementara Bang Yando memutuskan berhenti.
 
Saya sendiri menuliskan urun rembug saya pada polemik soal rokok ini—kali ini dipicu oleh hasil penelitian tentang ambang psikologis/ekonomis bagi majoritas orang berhenti merokok, yaitu Rp50.000—sambil menanggapi tulisan Sobary itu di forum Indonesiana, Tempo.  Saya melihat Sobary tak begitu fasih soal ideologi, dan karenanya malah mendasarkan sikapnya yang katanya anti-Kapitalisme itu pada buku Nicotine War yang sesungguhnya dituliskan penganjur Kapitalisme ekstrem dan Neoliberalisme, Wanda Hamilton.  Pada tulisan yang saya beri tajuk Membela Rokok itu, saya menyatakan bahwa sejak lembar-lembar pertama buku itu, corak ideologi ekstrem kanan itu telah terbaca.
 
Karena saya tahu bahwa Bang Yando adalah orang yang memiliki pembacaan yang sangat komprehensif dan hati-hati soal ideologi, saya mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya.  Saya menyatakan ingin ngobrol tentang ideologi yang dinyatakannya merupakan alasan ia berhenti merokok.  Saya menyatakan kepada dia “Saya sering bingung sama orang ngrokok yg bilangnya ideologi.  Kalo ngrokok klobot sih ngerti.  Lha kalo ngrokok pabrik gede, mau lokal atau asing, tetep aja jadi antek kapitalis.” Jawabannya sungguh menyentak saya, “Yg ngerokok klobot pun tidak bisa ditolerir. Ybs mengambil hak sejahtera/ekonomi dan sehat istri dan anak-anaknya.”
 
Saya kemudian menyatakan persetujuan.  Alasan saya menyatakan soal klobot itu adalah karena dalih anti-Kapitalisme yang sering dipergunakan oleh para pembela (industri) rokok. Bang Yando kemudian meneruskan “Aku ikutin gerakan credit union yg untuk jadi anggotanya di kel-nya tidak boleh ada yg merokok. Pengaruhnya pd ekonominya rt sangat signifikan.” Dalam percakapan kami kemudian, sangat jelas Bang Yando mengetahui persis dan detail mengenai apa yang terjadi pada rumah tangga miskin yang kepalanya merokok.  Sebagai orang yang menggeluti pengembangan masyarakat, dia sangat tahu bahwa hak atas nutrisi, kesehatan, dan pendidikan istri dan anak tidak dipenuhi oleh sang kepala keluarga yang merokok.  Hak yang tak dipenuhi itu, menurut Bang Yando, adalah bentuk kekerasan dan perampasan yang tak bisa ditoleransi.
 
Ketika saya minta dia mengomentari tulisan saya, dia menulis “Ringkasnya, yg belum dibahas di tulisan itu adalah daya rusak kapitalisme pada kelas bawah cq. petani tembakau, buruh pabrik rokok dan pihak konsumer orang miskin.”  Dengan pernyataan tersebut, saya tahu bahwa alasan tidak merokoknya Bang Yando adalah sikapnya yang anti-Kapitalisme.  Tapi, saya ingin tahu lebih lanjut bagaimana ia sampai ke posisi itu, dan karenanya saya kemudian meminta kesempatan untuk meneleponnya.
 
Pertanyaan pertama saya kepada Bang Yando adalah soal bagaimana dia akhirnya memutuskan berhenti merokok. Dia pun bercerita bahwa anak dan istrinya lah yang pertama kali meminta dia berhenti.  Demi mencari momen yang pas, dia berjanji untuk berhenti merokok ketika mereka semua tinggal di Inggris untuk studi.  Dia memenuhinya, namun hanya mampu bertahan pada janji itu enam bulan.  Dia merasa berat melawan godaan, lalu dia pun kembali merokok, hingga mereka sekeluarga kembali ke Indonesia.  Jelas, ini bukan penjelasan ideologis mengapa dia berhenti.
 
Ketika sudah kembali ke Indonesia, dia merenungi lagi soal rokok itu.  Dia menyaksikan betapa kesejahteraan masyarakat miskin benar-benar terhambat oleh konsumsi rokok.  “Bayangin, Lal, rokok itu cuma kalah sama beras.  Buat beli macam-macam lauk kalah jauh sama rokok.  Nggak ada investasi buat gizi sama pendidikan yang bener.  Gimana mau keluar dari kemiskinan?”  Memang begitulah faktanya, seperti yang terus-menerus kita dengar dan baca dari laporan berkala BPS.  Buat seorang pegiat pengembangan masyarakat, fakta tersebut tentu adalah sebuah tragedi.
 
Dia kemudian menambahkan, “Rokok itu adalah contoh kesia-siaan yang paripurna.  Bukan cuma mbakar sesuatu  yang nggak ada manfaatnya, tapi malahan merusak diri dan orang lain.  Jelas bikin konsumennya rugi. Udah kayak gitu, yang bikinnya malah kaya raya.  Sebelum gue berenti itu, coba deh cek tahunnya, 7 dari 10 orang Indonesia paling kaya kan yang bikin rokok.”  Rokok, karenanya adalah masalah keadilan ekonomi.  Bagi Bang Yando, mereka yang memang mampu jelas punya hak untuk merokok, walaupun mereka tetap bersalah merugikan kesehatan diri dan orang-orang di sekitarnya.  Tapi membiarkan, apalagi mendorong orang miskin untuk merokok, seperti yang dilakukan oleh kapitalis rokok benar-benar tak bisa diterima.
 
Dengan pemikiran itu, dia kemudian tak bisa lagi meneruskan kebiasaannya.  “Gue ngajarin orang tentang pemberdayaan masyarakat, gue ngajarin orang kritik atas Kapitalisme, masak gue nerusin make produk mereka?  Masak yang ada di tangan gue nggak konek sama omongan gue?  Yang bener kan harusnya konsisten.”  Maka, dia pun berhenti.  Bukan karena alasan kesehatan, bukan karena tuntutan anak-istri, tapi karena menuntut diri untuk bersetia kepada sikap anti-Kapitalisme dan pembelaan kepada kelompok miskin.  Ketika itu, konsumsinya minimal 1 bungkus, terkadang 2 bungkus per hari.  Tapi tak ada sakau sama sekali, menurut penuturannya, tak seperti ketika berhenti karena tuntutan anak-istri tempo hari.
 
Tentu, sikapnya itu bukan tanpa tantangan.  Rekan-rekannya di gerakan sosial melancarkan kritik: kalau benar bersikap anti-Kapitalisme mengapa masih menggunakan produk kapitalis seperti telepon selular.  Menurut Bang Yando, itu sama sekali tak sebanding.  Telepon selular membuatnya produktif, membawa manfaat yang tidak sedikit, termasuk membantunya dalam pemberdayaan masyarakat.  Kalau dipergunakan dalam jangka waktu yang lama, dampak lingkungannya menjadi relatif kecil.  Rokok, di sisi lain, benar-benar destruktif kepada konsumennya.  Jadi, walaupun produsen telepon selular dan rokok sama-sama kapitalis, tetapi produsen telepon selular memberi produk yang bermanfaat, bukan mudarat candu dan racun seperti rokok.
 
Di titik diskusi ini saya kemudian menyatakan kepada Bang Yando bahwa konsumsi memang adalah pilar Kapitalisme.  Tanpa konsumen yang menahan diri dari konsumsi yang eksesif, apalagi yang merusak diri, masyarakat dan lingkungan, kita sesungguhnya tak bisa menunjuk hidung perusahaan sebagai satu-satunya pihak yang bersalah.  Tapi dia kemudian mengingatkan bahwa pengobaran konsumsi juga sengaja dilakukan oleh kapitalis, termasuk dan terutama kapitalis rokok.  Iklan yang luar biasa massif adalah cara kapitalis memengaruhi kehendak mengonsumsi.  Dan begitu mereka terjerat candu, maka sulit bagi mereka untuk keluar.         
 
Kelas menengah atas yang merokok masih bisa dia pahami.  Mereka bisa masih memenuhi kebutuhan keluarganya, dan menanggung biaya bila sakit.  Tapi orang miskin yang dijerat candu rokok—yang penjeratannya memang dilakukan dengan sengaja—benar-benar rusak kondisinya.  Karena itu, kalau ada rekan-rekannya yang membela (industri) rokok atas nama rakyat kecil, dia menyatakan bahwa itu sesungguhnya karena mereka belum melihat destruksi yang diakibatkan oleh rokok.
 
Tetapi, mengapa retorika pembelaan itu muncul?  Menurut Bang Yando, itu karena para aktivis pengendalian tembakau sangat jelas mewakili kelas menengah-atas.  Maka, antitesis dari pengendalian tembakau akan menjadi efektif kalau mengatasnamakan kelas bawah.  Dan ini bisa menjadi efektif lantaran orang Indonesia belum mengetahui secara persis bahwa perwujudan Kapitalisme di industri ini sungguh menyengsarakan petani tembakau dan buruh pabrik rokok.  Dia menyatakan bahwa sampai kenyataan tentang kedua kelompok yang disengsarakan oleh industri rokok itu dipahami masyarakat luas, dan gerakan pengendalian tembakau dipandang masih merupakan isu yang dibawa kaum elit, pengendalian tembakau akan sulit memenangkan hati majoritas publik.
 
Saya kemudian bertanya soal mereka yang membela (industri) rokok itu.  Saya bertanya apakah mereka punya kepentingan ekonomi yang sedemikian kuatnya ataukah mereka tak membaca apapun yang objektif hingga tak punya daya kritis lagi kepada karya tak bermutu macam yang dibuat oleh Wanda Hamilton itu.  Bang Yando bilang bahwa yang dia pahami adalah bahwa mereka semua adalah pembaca yang rakus bahkan akut—dia bilang “Sama lah kayak kita, Lal.”—tapi begitu terkait dengan rokok, mereka kehilangan daya kritisnya karena ingin membenarkan posisinya.  Tampaknya teori Leon Festinger tentang disonansi kognitif—yaitu bahwa orang cenderung menyaring informasi agar sesuai dengan sikapnya yang sudah terbentuk—memang bisa menjelaskan sikap para pendukung industri rokok itu.  Dia bercerita bahkan ketika mereka tersudutkan dalam perdebatan soal Kapitalisme itu, tanggapannya adalah “Lebih baik kapitalis lokal lah daripada kapitalis asing.”  Saya dan Bang Yando sepakat, dalam industri ini, tak ada bedanya para kapitalis itu.      
 
Pembicaraan lewat telepon kami harus diakhiri karena malam semakin larut.  Saya meminta nasihat Bang Yando untuk urusan ini ke depannya.  Dia bilang bahwa para pembela rokok dan aktivis pengendalian tembakau sesungguhnya sangat kurang menaruh perhatian kepada kelompok-kelompok petani, buruh dan konsumen miskin itu.  Oleh para pendukung industri rokok, petani tembakau dan buruh adalah kartu yang dimainkan untuk membawa citra kepahlawanan.  Itu adalah citra yang penting, mungkin sepenting nasionalisme (sontoloyo) seperti sikap “biar kapitalis yang penting bangsa sendiri.” 
 
Sangat penting buat gerakan pengendalian tembakau untuk bersungguh-sungguh membantu para petani tembakau, buruh pabrik rokok dan konsumen miskin keluar dari jebakan Kapitalisme industri ini.  Dan ini adalah soal peta jalan 30 tahunan, bukan urusan jangka menengah apalagi pendek.  “Kalau elu punya energi lebih, elu bantuin mereka lah. Bikinin peta jalan, keluarin petani, buruh dan konsumen miskin dari penghisapan.  Itu yang paling penting.” Demikian pesan Bang Yando pada saya, menutup pembicaraan kami.
 
 

Jakarta, 26 Agustus 2016

Bagikan Artikel Ini
img-content
Jalal

Keberlanjutan; Ekonomi Hijau; CSR; Bisnis Sosial; Pengembangan Masyarakat

0 Pengikut

img-content

Wicked: Babak Ketiga dari Babad John Wick

Sabtu, 18 Mei 2019 15:15 WIB
img-content

Menebak Hasil Pilpres 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua