Realitas Bukanlah yang Terlihat

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemahaman kita mengenai realitas berubah-ubah sepanjang berabad-abad. Apakah karena realitas memang berubah-ubah?

 

Judul Buku: Reality Is Not What It Seems: the Journey to Quantum Gravity
Penulis: Carlo Rovelli
Penerjemah ke Inggris: Simon Carnell dan Erica Segre
Penerbit: Allen Lane
Edisi: 2016
Tebal: 255 hlm.

 

Ketika sejumlah ilmuwan berhasil meraih Penghargaan Nobel Fisika untuk ‘materi eksotis’ dan Nobel Kimia untuk ‘mesin molekuler’ berkat pengembaraan mereka ke dunia yang amat-sangat-kecil-sekali, peristiwa ini mengingatkan kita kembali tentang betapa banyak misteri alam semesta yang belum mampu kita singkapkan. Bahkan, misteri itu seakan berlapis-lapis; ketika kita mampu membuka lapisan pertama, masih ada lapisan kedua, dan seterusnya.

Kita mungkin merasa sudah tahu tentang rahasia semesta ini, tapi faktanya baru sebagian kecil—amat-sangat-kecil-sekali—yang sudah kita ketahui. Bahkan, mungkin yang kita rasa sudah kita ketahui ternyata di kemudian hari diketahui pemahaman tidak tepat. Apa yang kita lihat dan kita sebut sebagai realitas mungkin hanya fatamorgana.

Karya Carlo Rovelli yang baru saja terbit ini, Reality is not what it seems, adalah sebuah ikhtiar meyakinkan diri bahwa capaian ilmiah yang diraih selama ini belum sampai kepada hakikatnya. Apa yang kita tahu sekarang bisa menisbikan apa yang kita tahu sebelumnya. Semakin canggih mikroskop yang kita miliki, semakin berbeda dunia yang kita berhasil amati—berbeda dari sebelumnya. Namun teknologi memiliki tahap-tahap dalam mencapai kemajuannya. Untuk melihat apa yang disebut ‘batas terluar alam semesta’, kita belum memiliki teleskopnya. Batas terluar yang kini mampu kita jangkau bukanlah batas terluar yang sebenarnya, melainkan batas terluar yang dibatasi oleh kemampuan teknologi yang sudah ada.

Dalam situasi seperti itu, pemahaman kita mengenai rahasia semesta berpulang kepada para matematikawan dan fisikawan teoritis yang bekerja di alam pikiran. Sayangnya, menurut Rovelli, ketergantungan ini jauh dari ideal. Sebab, seperti kata Albert Einstein: “Sejauh hukum (persamaan) matematika merujuk kepada realitas, maka hukum itu tidak pasti; dan sejauh hukum itu pasti, maka hukum itu tidak merujuk kepada realitas.”

Paradoks. Barangkali ini pula kata yang dapat menggambarkan dua teori yang diajukan oleh dua fisikawan hebat: Einstein dengan teori relativitas umumnya dan Erwin Schrodinger dengan mekanika kuantumnya. Kedua teori ini benar, dalam pengertian prediksi keduanya telah dibuktikan dalam banyak eksperimen. Namun, keduanya pasti juga salah. Alasan yang kerap disampaikan ialah karena keduanya saling bertentangan, dan karena masing-masing teori gagal memasukkan yang lain ke dalam dirinya ketika berupaya menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja. “Dua pilar fisika abad ke-20—relativitas umum dan mekanika kuantum—tidak bisa lebih dari berbeda satu sama lain,” tulis Rovelli. “Seorang mahasiswa menghadiri kuliah relativitas umum di pagi hari dan kuliah mekanika kuantum di siang hari, boleh dimaafkan karena ia telah menyimpulkan bahwa para profesornya bodoh, atau para profesor itu tidak berbicara satu sama lain sekurang-kurangnya selama satu abad.”

Alam semesta memang penuh misteri: sekalipun manusia telah mengerahkan segenap ikhtiarnya untuk memahami secara logis melalui matematika dan sains maupun mengobservasinya dengan bantuan peralatan canggih, menjadi semakin jelas bahwa semakin banyak rahasia yang belum kita pahami. Sosok secerdas Einstein dan Schrodinger sekalipun gagal menyatukan kedua teori mereka—kegagalan yang dibawa hingga akhir hayat. Apa yang terlihat boleh jadi hanyalah bagian kecil dari realitas yang sebenarnya bila bukan sesuatu yang berbeda sama sekali. (Sumber foto ilustrasi: kucing naik tangga atau turun tangga/huffingtonpost.co.uk) **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua