x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Di Bawah Trump, Akankah AS Kian Rapuh?

Mampukah Donald Trump mengimbangi Vladimir Putin yang jauh lebih berpengalaman?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Runtuhnya sebuah negara, atau malah suatu kebudayaan, tak mesti mensyaratkan serangan dari luar. Catatan sejarah memperlihatkan, betapa banyak bangsa dan negara yang ambruk karena keropos dari dalam. Bukan serangan militer yang menghancurkan suku Maya, yang berhasil membangun peradaban tinggi, melainkan pertikaian internal di antara mereka.

Di zaman modern, ambruknya Uni Soviet dapat disebut sebagai contoh negara besar yang runtuh dari dalam. Sebelum Mikhael S. Gorbachev tampil sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet pada 1987, negara mana yang tak gentar mendengar nama Soviet? Raksasa yang berada di ujung timur benua Eropa ini bagaikan momok yang menakutkan, yang siap menghantam negara manapun yang menentang kehendaknya. Bahkan, individu pun bisa menjadi musuh negara Soviet dan kapan saja bisa dimusnahkan dari muka Bumi. Dinas Rahasia KGB adalah mesin rahasia yang sangat ampuh untuk menghancurkan orang-orang yang tidak disukai Polit Biro Partai Komunis Soviet.

Situasi berubah ketika Gorbachev tampil, seiring dengan masa pemerintahan kelompok konservatif di Barat: Ronald Reagan di Amerika Serikat dan Margareth Thatcher di Inggris. Reagan dan Thatcher adalah pasangan di benua yang berbeda, yang mewakili pikiran-pikiran yang sama: konservatisme. Ide pembaruan yang diusung Gorbachev meluncur bagai bola salju yang menggelinding tak tertahankan, kian lama kian besar, dan semakin besar hingga akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (pembaruan) disambut dengan suka cita, khususnya oleh negara-negara “satelit” yang selama puluhan tahun berada di bawah cengkeraman Soviet dan tak kuasa untuk melepaskan diri dari kungkungan negara Tirai Besi itu. Bagi para elite politik negara-negara ini, penampilan Gorbachev di puncak kekuasaan Uni Soviet adalah peluang untuk melepaskan diri dari kekuasaan Moskow.

Yang sangat menonjol ialah pergolakan di Polandia yang digerakkan oleh kaum buruh industri galangan kapal dalam kelompok Solidarnosc (Solidaritas), dan dipimpin oleh Lech Wawenca. Partai komunis Polandia, yang akhirnya dikuasai oleh militer dengan tokohnya Jenderal Jaruzelski, tumbang dan situasi yang kacau mengubah Polandia jadi negara demokrasi. Sebagian negara yang tergabung dalam Uni Soviet mulai berani melepaskan diri dari kekuasaan Moskow. Georgia layak disebut, sebab negara ini kemudian dipimpin oleh Eduard Shervanadze, mantan menteri luar negeri Soviet di era pemerintahan Gorbachev.

Sejumlah negara yang semula berada di orbit Uni Soviet melepaskan diri dan bergabung ke orbit Barat. Hungaria, Polandia, dan beberapa negara lain dalam waktu tidak lama bergabung dengan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ketika negara-negara yang tak mau terpenjara untuk kedua kalinya dalam rezim Uni Soviet ini berniat melebur ke dalam Uni Eropa, negara-negara Barat dengan senang hati menerimanya.

Yang terjadi kemudian ialah peristiwa bersejarah yang niscaya sulit dilupakan orang: tembok Berlin diruntuhkan. Tembok yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur ini, dan menandai terpisahnya dunia bebas dan dunia terbelenggu, akhirnya roboh pada September 1989 menyusul ambruknya negara Jerman Timur yang komunis.

Yang juga terimbas dan konfliknya telah menimbulkan korban manusia yang luar biasa ialah pecahnya Yugoslavia. Kendati tidak pernah tunduk kepada Uni Soviet, setidaknya di bawah kepemimpinan Josef Broz Tito, negeri ini mengalami perpecahan yang paling mengerikan dibandingkan dengan negara-negara yang menjadi satelit Uni Soviet. Yugoslavia pecah menjadi tiga: Bosnia-Herzegovina, Serbia-Montenegro, dan Kroasia. Konflik di bekas Yugoslavia ini berlangsung berkepanjangan.

Para ahli menyebut sejumlah faktor yang membuat Uni Soviet pecah. Pertama, isu pembaruan dan demokratisasi yang merebak dari satu wilayah geografi ke wilayah lain di muka Bumi. Gemanya menjalar ke berbagai penjuru dunia dan memantik perubahan di banyak tempat, tak terkecuali Uni Soviet. Kedua, ketidakmampuan internal Uni Soviet untuk menanggung beban yang terus meningkat untuk mempertahankan pengaruhnya terhadap negara-negara satelitnya.

Selepas Perang Dingin, dunia dikuasai oleh dua raksasa yang bersaing keras, yakni Uni Soviet dan Amerika Serikat. Negara-negara lain hanya mempunyai satu pilihan: bersekutu dengan Uni Soviet atau berkawan dengan Amerika Serikat. Ketika persekutuan Uni Soviet dan negara-negara satelitnya ambruk, tinggallah Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya--posisi yang membuat Amerika merasa bisa mendikte negara-negara lain dan lembaga internasional, serta mengabaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar tunduk kepada kehendaknya.

Namun menjadi negara adidaya tunggal terbukti bukan posisi yang menyenangkan. Bukan hanya banyak musuh, tapi Amerika juga harus menanggungkan beban yang luar biasa besar untuk mempertahankan pengaruhnya. Pengerahan kekuatan militer di Afganistan, Irak, Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lain membutuhkan dukungan ekonomi. Tentu saja, ini menjadi beban yang berat, di samping di dalam negerinya sendiri Amerika menghadapi persoalan serius dengan tingkat pengangguran yang tinggi, biaya beragam asuransi yang mahal, defisit perdagangan dengan banyak negara yang semakin besar, dan nilai dolar yang kian merosot.

Perlawanan terhadap hegemoni AS merebak di banyak tempat. Di Iran, sejak Khomeini mengambil alih kekuasaan dari Shah Iran, sejak itu pula AS menjadi lawan Iran. Di Afganistan, pengaruh AS terus ditentang. Di Amerika Latin, mendiang Hugo Chavez dari Venezuela menjadi tokoh terdepan yang menebarkan pengaruh di kawasan itu untuk menentang kekuatan dominan AS. Di wilayah konflik Timur Tengah, AS mendapat perlawan tanpa henti dari kubu-kubu anti-Israel di Palestina maupun Libanon.

Amerika Serikat semakin kehilangan "soft power"-nya (istilah yang digunakan oleh Joseph Nye untuk menggambarkan kemampuan AS untuk menarik negara-negara lain berkat legitimasi kebijakan-kebijakannya maupun nilai-nilai yang mendasari kebijakan-kebijakan tersebut. Dari hasil jajak pendapat Gallup International di 29 negara diketahui, kebijakan-kebijakan yang diambil Washington telah menimbulkan efek negatif terhadap pandangan mereka tentang Amerika Serikat. Mayoritas orang Eropa meyakini bahwa Washington telah merintangi upaya-upaya untuk memerangi kemiskinan global, melindungi lingkungan, dan memelihara perdamaian.

Untuk mempertahankan pengaruhnya, AS banyak menggunakan kekuatan militernya. Padahal, seperti ditulis Immanuel Wallerstein dalam The Decline of American Power: The US in the Chaotic World, "Dalam sejarah dunia, kekuatan militer tidak pernah cukup untuk memelihara supremasi. Legitimasi itu esensial, sekurang-kurangnya legitimasi yang diakui oleh belahan dunia yang signifikan. Dengan preemptive war, elang-elang Amerika telah menggerogoti secara amat mendasar klaim legitimasi AS. Dan, karena itu, mereka telah melemahkan AS di arena geopolitik."

Todd menulis (hlm. 87): "Bagi siapapun yang tertarik pada globalisasi ekonomi yang digalakkan Amerika, perbandingan persamaan dan perbedaan dengan model-model kuno ini sangat membantu. Baik diungkapkan dengan preseden Athena ataupun Romawi, terbukti bahwa kekuasaan ekonomi di sebuah wilayah membutuhkan sokongan politik dan militer untuk mengukuhkannya."

Alhasil, Amerika Serikat pada masa sekarang lebih menyerupai Uni Soviet pada 1970-an dan 1980-an, yang memiliki cukup senjata nuklir untuk menghancurkan dunia namun tidak mempunyai kekuatan ekonomi yang memadai untuk terus menopang kemampuan nuklirnya. Amerika Serikat, sebagaimana Uni Soviet pada akhir 1980-an, tengah menghadapi masa suramnya: melemahnya kekuatan ekonomi, militer, dan memudarnya pengaruh Amerika di luar negeri. Sejumlah negara telah memperlihatkan kedigdayaannya untuk mampu bersaing dengan AS. Cina, India, dan Uni Eropa adalah kekuatan-kekuatan yang ingin menyatakan bahwa era AS sudah waktunya surut.

Sanggupkah Donald Trump mewujudkan jargon politiknya, Make America Great Again? Ataukah AS justru akan berteman baik dengan Rusia dan karena itu semakin tidak berdaya lantaran kenaifan Trump di hadapan Vladimir Putin yang jauh lebih berpengalaman? (Putin dan Trumpo, sumber foto: bostonglobe.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB