Roman Medan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 19 Mei 2019 16:22 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Roman Medan

    Dibaca : 270 kali

    Judul: Roman Medan

    Penulis: Koko Hendri Lubis

    Tahun Terbit: 2018

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: xxi + 322

    ISBN: 978-602-03-9828-0

     

    Sejarah kesusastraan Indonesia belumlah lengkap. Sebab ada bagian-bagian sejarah kesusastraan yang belum diterakan pada lembar sejarahnya. Umumnya, sejarah kesusastraan diawali dengan era Pujangga Lama, kemudian diteruskan dengan Angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 1945 dan Angkatan 1966. Karya-karya setelah tahun 1966 masih diperbincangkan untuk disusun periodisasinya. Rasanya ada yang kurang jika kita meihat periodisasi kesusastraan Indonesia dan karya-karya yang dimasukkan ke dalamnya.

    Jika kita melihat karya-karya yang dimasukkan dalam kategori karya era Pujangga Lama, maka kita akan menemukan dominasi karya dari Pulau Sumatra yang erat dengan nilai moralitas dan agama. Apakah tidak ada karya-karya lain yang membawa suara yang lain di era itu? Tentu saja ada. Namun, karena sering kita mempertimbangkan nilai moral dan keindahan bahasa dalam menimbang karya sastra, maka karya-karya tersebut seringkali tersingkirkan.

    Claudine Salmonlah salah satu orang yang menggugat pemilihan karya sastra di era Pujangga Baru yang didominasi karya-karya Sumatra yang sarat moral dan agama. Claudine Salmon menunjukkan bahwa pada era yang sama karya-karya Melayu-Tionghoa bergitu marak dan mengisi dahaga akan bacaan. Memang ada yang berpendapat bahwa karya-karya Tionghoa yang menggunakan bahasa Melayu pasar dianggap kurang dalam nilai sastranya. Namun Salmon membuktikan bahwa karya-karya tersebut telah menyumbang banyak dalam perkembangan kesusastraan di Indonesia.

    Demikian juga jika kita menelisik era antara Pujangga Lama dengan Angkatan Balai Pustaka. Di era kesadaran akan kebangsaan membuat para sastrawan-sastrawan Indonesia menulis karya yang sarat kritik kepada Pemerintah Kolonial. Kita mengenal Mas Marco Kartodikromo, Semaun, Haji Mukti dan Tirtoadisuryo. Mereka ini adalah para penulis yang menggugat kolonialisme di Hindia Belanda melalui tulisan-tulisannya. Mereka menulis novel yang menunjukkan kesejajaran bangsa Hindia dengan orang Belanda. Mereka menuliskan ketidak-adilan pemerintah Hindia Belanda kepada rakyat dalam novel-novelnya. Mereka menuntut kesamaan hak bumi putera setara dengan orang-orang Belanda. Karena risau dengan karya-karya yang sangat tajam mengkritik pemerintah, maka Belanda mendirikan Balai Pustaka. Namun sayang, dalam periodisasi “resmi” kesusastraan Indonesia, karya-karya mereka ini jarang dimunculkan. Alasan yang pernah saya dengar adalah karena karya-karya mereka itu kurang “nyastra.” Bahasanya terlalu lugas dan menggunakan bahasa Melayu rendah yang bukan bahasa Melayu tinggi yang pada masa itu dianggap lebih bergengsi.

    Kita patut berbangga karena saat ini banyak pihak yang mulai secara serius menekuni sejarah sastra Indonesia. Ada Toyidin yang memasukkan kategori sastra Kuno dalam periodisasinya (Toyidin, 2016. Biografi Singkat Sastrawan Indonesia). Angkatan Sastra Kuno ini membawa karya-karya pujangga-pujangga kerajaan-kerajaan tua di Nusantara. Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Prapanca menjadi punya tempat di lembaran sejarah sastra Indonesia. Karya Toyidin ini memang belum lengkap, sebab karya-karya dalam kategori Sastra Kuno masih didominasi karya-karya dari Jawa. Masih diperlukan penelitian yang lebih mendalam supaya karya-karya dari wilayah lain Nusantara bisa juga muncul.

    Salah satu ledakan karya sastra yang kurang mendapat perhatian dalam sejarah kesusastraan Indonesia adalah karya-karya roman yang muncul di Kota Medan pada tahun 1930-1965. Jumlah karya roman Medan yang terbit berjumlah ratusan dalam periode yang cukup pendek tersebut. Karya-karya ini juga disambut antusias oleh para pembacanya. Bahkan mereka tak segan menunggu di agen buku supaya bisa segera mendapatkan karya terbaru. Koko Hendri Lubis mendokumentasikan Roman Medan dan mencarikan tempatnya dalam sejarah sastra Indonesia.

    Mengapa Roman Medan penting dalam sejarah sastra Indonesia? Karya-karya roman yang tumbuh di tengah kota yang semarak karena perkebunan ini tentu tak lepas dari kritik terhadap kondisi masyarakat Sumatra Timur yang sengsara di tengah-tengah kemegahan dan kekayaan para juragan perkebunan. Seperti kita tahu, Sumatra Timur adalah wilayah yang kaya raya di awal abad 20. Investasi perkebunan besar-besaran oleh pemodal Eropa membuat Kota Medan, sebagai pusat ikut juga menjadi mekar menawan. Gedung bioskop, lantai dansa dan gedung pertunjukan sandiwara tumbuh di mana-mana. Namun perkembangan Kota Medan yang semakin indah itu tidak dinikmati oleh semua pihak. Hanya kaum kaya sajalah yang bisa mendapat manfaat dari berkembangnya Kota Medan. Eropnaisasi masyarakat Medan dan sekitarnya juga terjadi. Banyak dari mereka yang meninggalkan budaya aslinya dan memeluk budaya Eropa. Terjadi ketegangan antara budaya lama dengan budaya modern yang nilai-nilainya banyak bertentangan. Karya-karya Roman Medan mendokumentasikan hal tersebut dan melakukan gugatan.

    Pada masa awal perjuangan kemerdekaan, yaitu tahun 1920 sampai dengan 1930, semangat untuk menulis tentang kekejaman kolonialisme, peersamaan hak antara bumi putera dengan orang Belanda dan semangat membangun pemerintahan sendiri memang marak. Karena Roman Medan lahir di masa tersebut, maka karya-karya Roman Medan juga ikut serta menyuarakan tema-tema di atas. Bersama dengan penerbitan yang juga tumbuh di Kota Medan, Roman Medan memasukkan kisah-kisah masyarakat yang ikut arus modernitas Eropa yang melanda Medan, sehingga mereka meninggalkan nilai-nilai lama yang selama ini dianutnya.

    Selain dari tema yang menggambarkan kekalahan masyarakat kecil, Roman Medan juga berjasa dalam mendokumentasikan perubahan sosial Kota Medan yang sangat laju. Roman Medan menggunakan setting masyarakat Medan, tokoh-tokoh lokal dan persoalan-persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Medan pada masa situ.

    Jumlah terbitan yang sangat banyak, isinya yang menyerempet kebijakan pemerintah kolonial membuat Roman Medan tidak disukai oleh pemerintah. Julukan “roman picisan,” “roman liar,” dan sejenisnya ditambatkan kepada karya-karya ini. Alasan isinya yang seronok dan bahasanya rendah dipakai sebagai alasan untuk menghambat perkembangannya. Meski dihambat, namun perkembangan Roman Medan tidaklah surut. Jenis karya ini berhasil bertahan dari tekanan Belanda, Jepang dan di awal era Kemerdekaan yang penuh dinamika.

    Siapa saja penulis Roman Medan? Koko Hendri Lubis mencatat setidaknya ada 130 penulis Roman Medan dari periode 1930 sampai dengan 1965. Di antara mereka yang menghasilkan karya Roman Medan, nama-nama seperti Joesoef Sou’yb, Aaboe’l Xarim M.S., Surapati, Matu Mona, Mochtar Nasution, Meraju Sukma, Damhoeri, Hamka dan lain-lainnya dianggap sebagai para pelopor oleh Koko Hendri Lubis. Mereka-mereka ini dianggap sebagai pelopor adalah karena merekalah yang menghasilkan karya-karya yang dianggap bermutu, merekalah yang mendanai dan mempromosikannya.

    Roman Medan telah hadir untuk menghibur masyarakat selama lebih dari 35 tahun. Masa kejayaannya dari tahun 1930-1965 membuktikan bahwa karya-karya ini sangat diminati oleh masyarakat. Industri kreatif Roman Medan ini telah memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi para penulis dan mereka yang berkecimpung dalam dunia penerbitan pada masanya.

    Memang harus diakui bahwa tidak semua karya Roman Medan bermutu tinggi. Namun karya-karya Roman Medan tak bisa dibuang begitu saja karena dianggap picisan dan bermutu rendah. Banyak dari karya-karya ini bernilai tinggi dilihat dari sisi sastra dan dokumentasinya terhadap kondisi sosial di masa itu. Sehingga layaklah Roman Medan dicatat dalam periodisasi sejarah sastra Indonesia. Dalam buku ini, Koko Lubis tidak membahas secara khusus mana-mana karya yang menonjol dari sisi sastra dan dari sisi dokumentasi kondisi sosial. Semoga Koko Hendri akan menerbitkan jilid kedua tentang Roman Medan yang berisi tentang analisis dari sisi mutu sastra dan dokumentasi kondisi sosial.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.