Kepada Siapa Gie Memihak? - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kepada Siapa Gie Memihak?

    Keberpihakan Gie terhadap kemanusiaan dan menentang kesewenang-wenangan

    Dibaca : 4.348 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Soe Hok Gie adalah perlawanan. Goresan penanya yang terbit pada sejumlah surat kabar, secara cadas dan cerdas, mengorek praktik kesewenang-wenangan rezim penguasa. Tak hanya rezim Soekarno, rezim pengganti di bawah Soeharto yang mengidentikkan diri sebagai Orde Baru, tak luput dari serangannya. Lalu, kepada siapa Gie memihak?

    Lahir, 17 Desember 1942, ketika berkecamuknya Perang Pasifik dan segera diikuti oleh terbelahnya dunia ke dalam faksi Barat dan Timur era Cold War, Gie, begitu sapaannya, sedari kecil tak suka dengan praktik ketidakadilan. Menempuh pendidikan di SMP Strada, ketika duduk di bangku kelas II, ia dipaksa mengulang karena prestasinya yang buruk. Akan tetapi, ia menolak karena merasa diperlakukan tak adil oleh gurunya. Ia pun memutuskan untuk pindah ke sekolah Kristen Protestan dan naik ke jenjang berikutnya tanpa harus mengulang

    Ketertarikannya dengan dunia sastra mendarah daging dari garis keturunan ayahnya, Soe Lie Piet, yang seorang penulis. Pasca merampungkan studi menengah atas, di jurusan sastra SMA Kanisius, Gie lantas menggembleng kemampuan sastranya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah.

    Semasa kuliah, Gie aktif menyuarakan keprihatinannya terhadap absolutisme kekuasaan rezim, yang cenderung tiran dan represif, dalam karya tulisan dan mengaktualisasikannya dalam aksi demonstrasi. Ia tak tertarik untuk bergabung dengan organisasi yang mengatasnamakan golongan dan ditunggangi kepentingan politik. Gie malah berjasa dalam pembentukan MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) UI untuk mengakomodasi kegemarannya naik gunung, tempat di mana ia belajar dari alam dan menghembuskan nafas terakhirnya, Semeru, Desember 1969. Perlawanan menuju perubahan ialah gaung dari perjuangannya. 

    Dalam pandangannya, Soekarno merupakan diktator yang masih memegang teguh nilai-nilai usang bak raja-raja Jawa terdahulu. Soekarno adalah perwakilan Tuhan yang memiliki kekuasaan politik (Kawula ing tanah Jawi), militer (Senapati ing ngalaga), agama (Syekh Ngabidin Abdul Rahman), serta beristeri banyak. Demokrasi Terpimpin tak ubahnya sebuah kepalsuan yang mewujud dalam krisis, korupsi, manipulasi, dan legitimasi pribadi yang berlebihan. Manifesto politik Soekarno, Manipol-USDEK, yang meliputi UUD 1945, Sosialisme, Demokrasi, Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, serta Kepribadian Indonesia, tak berhasil menghadirkan keadilan sosial bagi setiap lapisan masyarakatnya. Naskomisme (Nasionalisme, Agama, Komunisme) adalah trik Soekarno untuk mengakomodasi kekuatan signifikan di sekitarnya, demi kekalnya kekuasaan.

    Melemahnya kekuasaan Soekarno yang mulai menua dan sakit-sakitan, coba dilirik oleh kedua kekuatan terkuat, komunis dan militer. Meletusnya G 30 S, 1965, yang akhirnya berhasil menyingkirkan PKI (Partai Komunis Indonesia) dari pusaran kekuasaan, membawa Indonesia ke masa tirani di bawah rezim Orde Baru. Meski secara tak langsung Gie turut berjasa melunturkan kekuasaan Soekarno, tetapi Soeharto tak luput dari serangannya.

    Pembunuhan besar-besaran anggota dan simpatisan PKI di Bali, menurut Gie, adalah kejahatan kemanusiaan terparah sepanjang sejarah era modern. Penyembelihan secara tak wajar telah menghadirkan luka mendalam bagi negeri ini. Gie pun memilih tak turut ambil bagian dalam tubuh rezim Orde Baru, seperti rekan-rekan seperjuangannya yang menikmati posisi penting dalam skema politik rezim. Independensi sikap Gie untuk tetap melawan dan mengkritisi tak pudar, meski rezim berganti.

    Layaknya lirik lagu “Donna Donna” besutan Joan Baez yang Gie sukai, “Calves are easily bound and slaughtered, Never knowing the reason why, But whoever treasures freedom, Like the swallow has learned to fly”, ia tak ingin pasrah menerima nasib buruk sebagai sebuah takdir dan harus berani terbang tinggi demi kebebasan. Gadjah mati meninggalkan gading, sejarawan mati meninggalkan tulisan. Keberpihakan tulisan-tulisannya ialah terwujudnya keadilan atas dasar kemanusiaan dan nilai luhur humanisme serta menolak kesewenang-wenangan.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.