Lebih Baik Diasingkan Daripada Mendukung Tukang Gusur

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kenapa sejarah penindasan terhadap kaum lemah terus terjadi di negeri ini, meski sudah banyak aktivis yang menjadi pendukung kekuasaan?

Satu lagi ungkapan dari Gie yang masih relevan dengan kondisi politik saat ini yang carut marut. Ungkapan itu adalah,  "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan".

Ungkapan Gie itu muncul saat teman-temannya aktivisnya berbondong-bondong masuk dalam gerbong kekuasaan Orde Baru setelah Soekarno dijatuhkan. Masuknya mantan aktivis itu ke gerbong kekuasaan Orde Baru ternyata tidak membuat rejim kekuasaan menjadi baik. Sebaliknya, rejim semakin hari semakin korup. Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) juga dibiarkan terus berjalan dengan skala yang lebih luas dan mengerikan.

Hal yang sama nampaknya juga terjadi saat ini. Beberapa aktivis HAM dan lingkungan hidup berbondong-bondong menjadi pembela Gubernur DKI Jakarta non-aktif Ahok untuk maju ke bursa cagub 2017. Atas nama HAM, dalam kasus dugaan penistaan agama, para aktivis HAM itu mengungkapkan bahwa Ahok adalah korban kriminalisasi. Anehnya, mereka para aktivis HAM tersebut, seperti terdiam saat Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta melakukan penggusuran secara brutal terhadap warga miskin kota. Mereka seperti menutup mata bahwa menurut kaidah HAM, penggusuran warga harus diawali dengan dialog yang setara, tanpa kekerasan dan intimidasi, dan tempat yang baru menjamin kehidupan sosial-ekonomi korban penggusuran lebih baik.

Sebagian aktivis lingkungan hidup juga mendukung Ahok dengan alasan bahwa sang gubernur telah berhasil merivitalisasi sungai. "Atas nama sungai yang tidak bisa bicara," kata sebagian aktivis itu. Tapi, lagi-lagi para aktivis lingkungan hidup itu diam saja saat Ahok berencana membangun 6 tol dalam kota yang akan memperparah kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Ibukota. Para aktivis lingkungan hidup pendukung Ahok tidak mengatakan "Atas nama udara bersih".

Bukan hanya pada kasus dukung mendukung Ahok. Sebagian besar aktivis, setelah pemilu 2014, juga merapat ke kekuasaan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ada harapan baru saat para aktivis itu merapat ke jantung kekuasaan. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata tidak banyak perubahan yang muncul dari model pembangunan meskipun para aktivis telah merapat ke jantung kekuasaan. Lihat saja, reklamasi pantai yang menyingkirkan para nelayan, hampir terjadi di setiap kota pesisir terus terjadi, penyingkiran petani masih terjadi bahkan sebagian dari mereka dikriminalisasi dan mengalami tindak kekerasan saat mempertahankan tanah mereka.

Situasi seperti inilah mungkin menjadi saat yang tepat untuk kembali membaca karya-karya Gie. Bukan untuk mengkultuskannya, tapi untuk menarik pembelajaran. Kenapa sejarah penindasan terhadap kaum lemah terus terjadi di negeri ini, meski sudah banyak aktivis yang menjadi pendukung kekuasaan?

Sekali lagi mari kita renungkan ungkapan Gie, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan"

sumber gambar: http://news.okezone.com

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua