Bibit Kebencian itu Media sosial?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setiap agama itu selalu mengajarkan kebaikan, kalau ada agama yang mengajarkan bagaimana caranya mencaci berarti bukan agama yang ada di Indonesia

Sekali membuka facebook kepalaku langsung pusing saat melihat artikel provokatif yang dishare dan dikomentari banyak orang. Itu artikel best Seller dunia maya. Aku sendiri pernah menulis dan dilihat lebih 10 ribu kali. Ada rasa bangga juga berarti tulisanku diapresiasi. Tapi prinsip menulisku bukan untuk memprovokasi orang untuk memaki, saling berujar kotor atau melemparkan gosip murahan sehingga muncul polemik.

Herannya, kenapa pengguna media sosial itu senang dengan “udur”, “padu” yang kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia berarti bertengkar di media sosial. Manfaate opo!Apalagi dengan mengarang bebas mereka menulis dengan bahasa ndakik-ndakik mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Padahal-ujung-ujungnya hanya ingin menyebar kata-kata kasar. Kata orang pinter sebutannya Ujaran kebencian.

Kenapa orang –orang menikmati sebuah pertengkaran, kenapa orang senang dengan komentar-komentar jorok, provokatif, norak dan sok suci. Aku pernah terpancing untuk berkomentar, saat menanggapi komentar orang yang ingin berusaha memecah - belah  kaum beragama dengan membanding-bandingkan ajaran agama.  Aku agak emosional karena kebetulan agamaku dilecehkan. Tapi ngapain harus emosi, itu hanya pendapat dan aku tidak perlu emosional, suka-suka saja ia menjelekkan agama lain itu hak dia. Aku tidak harus marah cukup tersenyum saja. Agamaku ya agamaku, agamamu ya agamamu. Setiap agama itu selalu mengajarkan kebaikan, kalau ada agama yang mengajarkan bagaimana caranya mencaci berarti bukan agama yang ada  di Indonesia yang aku kenal. Meskipun di negaraku mayoritas muslim, tapi secara tegas kukatakan pergaulan disini masih aman-aman saja. Meskipun satu dua oknum masih mencoba mengajarkan tentang kedengkian, kebencian pada agama lain, tapi itu hanya oknum bukan mewakili ajaran inti agamanya yang pasti agama mengajarkan tentang bagaimana membuat bumi menjadi damai, tidak ada perang, tidak ada makian dan tidak ada silang sengketa keimanan.

Lalu mengapa konstruksi manusia era digital sekarang ini senang dengan artikel provokatif, artikel abal-abal yang isinya hanya sebuah gosip murahan? Mungkin karena mereka lagi suka-sukanya mencet Gadget baru dengan fasilitas internet yang “kenceng”: hingga perlu menyalurkan hasrat misuhnya, di media sosial. Ini bisa dinamakan selfie. Ya, Selfie marah-marah, Selfie bikin ujaran, atau selfie kentut dalam bentuk kata-kata sampah.

Harusnya jika membaca berita itu mbok ya o diendapkan dulu, ditelaah dulu tidak langsung dikomentari, atau ditanggapi langsung dengan otak seperti dibakar dendam, nyinyir dan merasa tercabik-cabik harga dirinya. Anggap saja yang komentar “jorok” dan saru itu tidak mengerti caranya menyusun sebuah tulisan yang cocok untuk menggelar kritik atau protes. Mungkin saja si komentator itu sedang terpesona dengan isi toilet hingga spontan punya ide untuk menuliskannya di media sosial.

Aku sendiri heran sudah begitu parahkah pikiran orang hingga harus tersalurkan menjadi sebuah tulisan yang bisa saja dibaca oleh jutaan orang. Tidak terpikirkah oleh kita(aku ikut saja karena ternyata kadang-kadang masih sering latah ikut misuh-misuh).

Di sini di negara Indonesia Agama menjadi pilar keimanan, menjadi simbol ketaatan pada ajaran Nabi, Rasul, Ulama, pemuka agama. Kitab –kitab suci menjadi pedoman dan hampir setiap hari berdoa, tapi mengapa masih terlontar kata-kata kotor dan jorok yang bagi ukuran bangsa timur sudah bisa dibilang kebablasan.

Kalau misuh tidak perlulah ditampilkan menjadi sebuah tulisan, kasihan para penulis dan pengarang buku yang sudah belajar lama untuk menyusun kata-kata indah harus terjungkal hanya gara-gara artikel-artikel sampah yang disusun dengan tujuan hanya “Bikin ramai” dunia maya. Kasihan Kahlil Gibran, Kasihan Jalaludin Rumi yang lama membuat puisi dan syair dengan mengendapkan seluruh energinya untuk meresapi betapa dalamnya filsafat kehidupan dengan membaca, tahajud, Berdoa, Lelaku dan meresapi kehidupan dengan berpuasa, menyesap inti ajaran kehidupan dan mengorbankan hidupnya untuk memberi pencerahan hingga sampai tahap hidup seorang sufi dan santo bagi yang beriman kristiani . Kehidupan Budha Suci yang mempertaruhkan nyawa untuk mengambil inti ajaran kebaikan.

Sekarang media sosial telah menjadi ajang pembantaian, menjadi agama baru yang lebih mengedepankan individualism, bukan sosial. Ketika jari-jari lebih sibuk menuduh orang bejad diri sendiri seharusnya sadar jari lainnya mengarah ke dirinya. Tunjuk dan tonjok dulu diri sendiri sebelum mengatakan orang lain salah. Bernafas dalam-dalam dulu sebelum menulis agar setiap orang sadar bahwa masih banyak hal yang bisa dilakukan daripada menebarkan kata-kata sampah di media sosial.

Pemilihan wakil rakyat, Pemilihan Presiden,Pilkada menjadi ajang empuk sang petualang kata-kata. Portal-portal berita ramai memberi informasi kepada netizen tentang profil tokoh, calon-calon kepala daerah calon wakil rakyat, calon Presiden.Ada yang sengaja membuat berita bohong dengan tujuan menjatuhkan pamor sang tokoh, ada portal yang bekerja tidak berdasarkan prinsip-prinsip jurnalistik yang mengedepankan obyektifitas dan kejujuran informasi. Para jurnalis dadakan itu bermanufer untuk mengobok-obok emosi massa hingga tercipta khaos di dunia maya dan menggambarkan seakan-akan dunia atau negara tengah dalam keadaan darurat dan diambang perpecahan.

Netizen, bekali segera pikiran kita dengan prinsip kewaspadaan. Jangan cepat percaya dengan berita bahkan oleh portal ternama sekalipun, Buat cek dan recek, cari referensi seluas-luasnya sebelum komentar. Miliki hati, miliki nurani, mari kembalikan marwah media sosial dan dunia maya sebagai  jagad sosial yang memberi kesempatan untuk tiap pribadi saling peduli dan saling membantu. Fungsi sosial adalah adalah kepedulian bukan menebar kebencian. Sudahi berita Hoax. Mari berdamai dengan diri sendiri. salam damai.  

Bagikan Artikel Ini
img-content
Pakde Djoko

Seni Budaya, ruang baca, Essay, buku

0 Pengikut

img-content

Sidang MK Panggung Para Ahli Hukum

Senin, 24 Juni 2019 12:37 WIB
img-content

Kritik dan Menghina Dua Hal Berbeda

Minggu, 16 Juni 2019 05:55 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua