Pariwisata Vs Mahalnya Harga Keramahan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Membangun industri wisata bukan mudah tanpa diiringi dengan membangkitkan rasa keikutsertaan seluruh warga

DENGAN senyumnya yang ramah, seorang petugas bandara menyambut saya dengan ramah dalam sebuah lawatan beberapa waktu yang lalu. Walaupun baru sekali itu bertemu, seorang petugas yang berdiri di konter check in pesawat American Airline itu menunjukkan kehangatan seolah bertemu kawan lama. Dengan perawakan tinggi besar, bermata biru dan rambut Blonde, ia menunjukkan perannya sebagai pelayan. 
 
Sesekali ia sempat melempar Joke sehingga rasa letih hampir tidak terasa. Entah sedang berbasa-basi atau memang pernah ada, petugas di bandara St. Louis Lambert International Airport (STL) di Missouri, Amerika Serikat itu juga mengaku pernah bekerja disebuah proyek infrastruktur di Jawa Barat. Itu terjadi puluhan tahun silam ketika si-bapak masih muda dan belum berkeluarga. Saya semakin nyaman dengan kondisi itu. Perasaan tegang seketika berubah menjadi lebih santai. Sayapun merasa tersanjung karena mendapatkan 'layanan prioritas' walaupun tercatat sebagai penumpang ekonomi.
 
Peristiwa tadi membuat saya memahami betapa pentingnya keramahtamahan atau hospitality dan dibarengi dengan pelayanan maskimal. Sebagai buktinya, saya masih mengingat peristiwa itu dengan jelas meskipun peristiwanya sudah berlangsung beberapa tahun silam. Ada rasa ingin kembali ke tempat yang sama dengan harapan mendapatkan layanan lebih baik lagi.
 
Dibanyak negara dibelahan dunia manapun, keramah-tamahan sudah menjadi industri penopang dari bisnis inti kepariwisataan. Mereka tidak sekedar menjual keelokan pantai berpasir putih ataupun sewa hotel yang diobral sepanjang tahun. Pihak industri semakin sadar saat ini bukan lagi perkara sulit untuk menemukan destinasi yang sesuai dengan keinginan. Yang terpenting bagi pelancong, mereka harus mendapatkan layanan yang lebih dari sekedar jalan-jalan ke gunung misalnya atau berbelanja di factory outlet akan tetapi mereka dapat merasakan keramahtamahan penduduk setempat. 
 
Destinasi Wisata Vs Kesiapan Kita
 
Sumatera Selatan (Sumsel) sedang berbenah untuk meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan lokal hingga asing. Kabar terbaru, kampung Al-Munawara yang berada di 13 Ulu, Palembang telah ditetapkan sebagai destinasi wisata religi. Sementara itu pihak pengelola Bandara SMB II melakukan perluasan area pelayanan penumpang. Memajukan pariwisata bertujuan tidak lain untuk meningkatkan pendapatan diluar minyak dan gas serta produk pertanian yang sering bergejolak. Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah daerah setempat menggandeng konsultan pemasaran, Markplus Inc sebagai mitra strategis dalam menjual alam, budaya, seni dan olahraga serta kearifan lokal Sumsel. Logo, brand dan tagline-pun sudah disepakati agar nilai jual kepariwisaataan semakin tinggi.
 
Berbicara tujuan wisata, tidak salah bila Gubernur Alex Noerdin berani menyebut bila daerah ini punya segalanya. Bahkan daerah dengan lebih dari 8 juta penduduk dan 17 kabupaten/kota ini ia sebut memiliki destinasi yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Kita mulai dari kota Palembang: sebagai ring 1 industri pariwisata, Palembang memiliki objek wisata pulau kemarau, benteng kuto besak, jembatan Ampera, taman wisata punti kayu, wisata air Amanzy water park, hingga kawasan sport tourism di Jakabaring sport city. Selain itu Palembang telah dilengkapi dengan Bandara internasional, hotel berbintang 3-5 serta sarana transportasi yang lengkap. 
 
Berikutnya ring 2 yang meliputi kota-kota penyangga ibukota provinsi yaitu Taman Nasional Berbak Sembilang-suaka margasatwa dangku di Banyu Asin, pengembangbiakan Kerbau Rawa di Ogan Ilir serta perkebunan Nanas di Prabumulih. Bisa jadi Taman Sembilang yang disebut Alex Noerdian objek wisata yang jarang dimiliki oleh daerah lain karena di Sembilang terdapat spot berlabuhnya burung migran asal Siberia pada setiap penghujung tahun.
 
Sedangkan ring 3 yang meliputi kota-kota yang agak lebih jauh dari kota Palembang. Kota Pagar Alam memiliki Gunung Dempo dan perkebunan teh serta air terjun yang masih alami, Lahat menyajikan kampung seribu megalite dan budaya tradisional yang memikat, Muara Enim sudah sangat akrab dengan air terjun Bedegungnya Serta kabupaten Empat Lawang dengan trak arum jeram yang menantang serta pelancong dapat menikmati hamparan ribuan kebun kopi yang terdapat hampir seluruh di daerah itu. 
 
Langkah pemerintah memasarkan produk wisata secara masif adalah baik karena sebuah produk tidak akan laku keras tanpa  ditopang oleh tim pemasaran yang mumpuni. Sehingga kita pantas mengacungkan dua jempol untuk itu. Hanya saja langkah tersebut belum sepenuhnya tuntas masih diperlukan banyak tindakan nyata agar kita bisa mengimbangi pariwisata yang jauh lebih maju seperti Yogyakarta, Bandung, Bali, Lombok dan Raja Ampat. Yang lebih penting lagi adalah membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya hospitality. 
 
Dulu sekali, Indonesia secara umum dan Sumatera Selatan khususnya dikenal dengan keramatamahan penduduknya. Waktu itu tentu belum ada internet, smart phone apalagi social media semacam facebook, Instagram, WhatsUp. Singkat kata pengaruh budaya dari luar sangat sedikit. Sehingga penjajah sekalipun betah hingga berabat-abat lamanya "berteman" dengan pribumi. Belakangan ini apakah kearifan lokal tersebut masih ada, tentu perlu riset untuk membuktikannnya. Tetapi sekali ini saja, kita boleh berfikir negatif bahwa keramahtamahan itu sudah luntur. Ini diperlukan agar kita mampu menanggulangi nya secara cepat dan berfikir fositif. Itu perlu dilakukan untuk menyambut sebanyak-banyaknya wisatawan dan juga merupakan cara agar kelak mereka akan kembali ke Sumsel. 
 
Soal hospitality sudah menjadi kegalauan banyak pihak, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 Safta Nirwandar pernah mengeluhkan persoalan keramahan ini. Menurutnya masyarakat diharapkan bisa memperbaiki perilakunya saat menghadapi turis lokal dan mancanegara. Persoalan keramahan masyarakat merupakan salah satu penyebab lambanya perkembangan dunia pariwisata di Indonesia. Ia juga pernah berujar seringkali turis mengeluhkan perilaku masyarakat atau pun pedagang di sekitar destinasi pariwisata. Karena bernafsu menjual produk industri kreatif kepada turis, seringkali pedagang maupun masyarakat lokal justru mengganggu kenikmatan para turis.
 
Pariwisata Yang Menyejahterakan
 
Kementerian pariwisata telah menetapkan target yang akan dicapai di tahun 2019, untuk target makronya meliputi: Kontribusi Pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto nasional meningkat menjadi 8% di tahun 2019. Posisi tahun 2014 adalah 4%, Devisa yang tercipta dari kunjungan wisman ditargetkan mencapai Rp. 240 triliun di tahun 2019. Posisi tahun 2014 adalah Rp. 120 triliun, penyerapan tenaga kerja mencapai 13 juta di tahun 2019. Posisi tahun 2014 adalah 11 juta tenaga kerja.
 
Masih dikutip dari laman resmi kementerian pariwisata menyebutkan, target mikro meliputi: Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) meningkat menjadi 20 juta wisman di tahun 2019. Posisi tahun 2014 adalah 9 juta wisman, Jumlah kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) meningkat menjadi 275 juta pergerakan. Posisi tahun 2014 adalah 250 juta pergerakan wisnus, Peringkat 30 Daya Saing Pariwisata Dunia (TTCI) tahun 2019. Posisi tahun 2014 adalah peringkat 70.
 
Dari target tersebut sudah jelas bahwa pemerintah sungguh-sungguh berharap mendapatkan pemasukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat termasuk masyarakat di Sumsel dari sektor pariwisata. Akankah hal itu  bisa terwujud ? tentu sangat mungkin mengingat Indonesia dan Sumsel secara khususnya memiliki segala destinasi wisata yang dibutuhkan pelancong. Hanya saja yang sering dikeluhkan oleh pelaku industri adalah minimnya promosi serta masyarakat belum dijadikan sebagai  pelaku utama melainkan baru sebatas piguran semata. Sementara pelancong juga belum menunjukkan keramahan serta sikap milindungi. 
 
Menyikapi kendala tersebut utamanya promosi, baik pihak pemerintah dan swasta dapat menggandeng pihak lainnya yang dikenal berkantong tebal dan berpengalaman dalam memajukan industri pariwisata. Jangan pernah hanya mengandalkan dana dari pemerintah baik bersumber dari APBD maupun APBN. Apalagi dewasa ini hampir seluruh kementerian mengalami pemotongan budget sehingga hal itu akan berdampak bagi daerah. Terkait dengan gaet-menggaet investor, insan pariwisata dapat berguru langsung dengan gubernur. Sebagaimana banyak pihak mengetahui Alex Noerdin merupakan sosok pelobi ulung diantara sekian banyak Gubernur di Indonesia. 
 
Sementara menyangkut peran serta masyarakat adalah penting bagi kita untuk menjadikan warga sebagai bagian tak terpisahkan dari kepariwisataan. Masyarakat harus dilatih untuk peduli terhadap siapapun yang datang ke sekitar mereka utamanya objek wisata. Sambutan dengan penuh keramahan dan kehangatan dapat membuat orang bisa berlama-lama ditinggal disuatu tempat. Ujung-ujungnya tidak terasa rupiah dan bahkan dolar mengalir deras masuk ke kantong warga. Masyarakat juga harus diajari cara sederhana menjadikan tamu merasa dihormati dan dihargai bukan sekedar hanya memberikan ilmu percakapan Inggris sehari-hari karena hal itu lebih mudah. 
 
Yang agak sulit adalah merubah sikap dan prilaku masyarakat terhadap orang asing baik itu bule maupun pelancong lokal. Karena seperti yang pernah dikatakan oleh mantan wakil menteri pariwisata Safta Nirwandar bahwa masyarakat kita kerap menjadikan pelancong sebagai 'tontonan'. Bahkan tidak jarang wisatawan dipaksa membeli produk cindera mata yang ditawarkan. Prilaku yang terlihat sederhana itu bisa jadi membuat wisatawan merasa terganggu kenyamanan. Merubah cara pandang masyarakat itu bukan perkara muda tetapi harus dilakukan mulai dari sekarang juga. 
 
Apa Yang Dapat Kita Lakukan
 
Bila pemerintah dapat melakukan promosi secara gencar, kita sebagai masyarakat dapat juga berperan dalam meningkatkan kedatangan wisatawan. Peran tersebut meliputi bersikap ramah, melayani dan yang terpenting pula adalah memperkenalkan Sumsel dan potensi yang ada dimanapun kita berada. Cara ini sangat sederhana tanpa perlu menghabiskan uang tetapi hasilnya nyata. Misalnya menempelkan stiker di kendaraan, menulis di media sosial yang isisnya destinasi wisata di Palembang atau membiasakan diri mengenakan pernak-pernik atau atribut khas daerah kemanapun kita bepergian. 
 
Saya mulai mencoba hal-hal sederhana ini misalnya dengan memakai kaos bergambar dan bertulisakn Di saat harus mengantri didepan petugas imigrasi di bandara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, saya disapa oleh salah seorang petugas. Petugas ini tertarik untuk mendalami tulisan yang tertera dibaju buatan lokal Palembang tersebut. Kebetulan siang itu saya mengenakan kaos oblong warna krem dengan tulisan agak besar Palembang, South Sumatera, Indonesia. Sementara dibagian bawahnya ada tulisan dengan hurup sedikit lebih kecil The Infamous Southeast Asia City of Water. Kaos tersebut memang agak eyecaching karena terdapat gambar perahu tradisional sedang melintas dibawah jembatan Ampera. 
 
Si-bapak penasaran dengan Penasaran dengan tulisan di baju yang harganya tidak sampai Rp100 ribu itu. Kesempatan tersebut saya jadikan untuk berpromosi sekenanya karena memang saya bukan seorang salesman apalagi sejarawan. Saya bercerita tentang Palembang, kerajaan Sriwijaya, destinasi wisata dan juga cara untuk mencapai kota Palembang. Mendengar cerita saya ia itu ia langsung membuka smartphone nya mencatat apa yang saya ungkapkan bahkan petugas berperawakan tinggi besar itu langsung googling mencari tahu Sumsel lebih jauh melalui dunia maya. (pharliza@gmail.com)
 
Parliza Hendrawan
Penyuka traveling, blogger tinggal di Palembang
                                                                                                    
 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Parliza Hendrawan

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua