x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Media Online Merapikan Barisan

Di tengah kompetisi ketat berbasis kecepatan, para jurnalis media online dituntut untuk tetap menyampaikan informasi akurat, jujur, berimbang, dan mandiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

 

Kesepakatan para pengelola media online untuk merapikan barisan dengan berhimpun dalam Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) patut disambut baik. Ini adalah sebuah cara yang, saya rasa, disadari benar oleh pengelola media online untuk memilah mana media online yang ‘bekerja dengan benar’ dan mana yang ‘bekerja semau gue’. Pengertian bekerja dengan benar ialah mengikuti kaidah-prosedur, aturan, maupun etika jurnalistik yang sudah diatur dan disepakati oleh ekosistem media di sini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dengan berhimpun dalam organisasi yang besok (Selasa, 18 April 2017) akan dideklarasikan, mereka bermaksud membuat pembedaan yang tegas dari media abal-abal maupun media personal (blog, facebook). Seperti dikatakan Ismoko Widjaya, yang didapuk jadi Ketua Panitia Deklarasi AMSI, dan dikutip tempo.com, organisasi ini selanjutnya menjadi stakeholder Dewan Pers, seperti halnya organisasi pers lainnya. Artinya, tanggung jawab pertama mereka kepada masyarakat.

Kita sudah tahu benar bahwa di era digital yang serba bergegas ini, kecepatan dianggap bagai dewa yang harus dipatuhi tanpa reserve. “Cepat, cepat, cepat!” teriak redaktur pelaksana kepada reporter ketika melihat media online tetangga sudah menayangkan berita mutakhir tentang peristiwa X. Reporter ingin mematuhi kaidah dan etika yang pernah diajarkan kepadanya ketika baru menjadi jurnalis: akurat, berimbang, dan jujur—tak ada yang disembunyikan, diplintir, direkayasa, serta tidak dilandasi dengan niat buruk.

Persaingan kecepatan antar media online dalam menayangkan berita terbaru membuat reporter atau jurnalis yang bertugas sangat tertekan. Teriakan redaktur membuatnya berusaha menulis lebih cepat. Sayangnya, pilihan ini kerap mengorbankan dua hal dasar tadi: akurasi dan keberimbangan dalam pemberitaan.  

Ketidakakuratan mungkin terjadi karena jurnalis tidak sempat melakukan riset dengan baik, sehingga ia mungkin salah kutip data, salah mengetik, salah mengeja nama, dan seterusnya.  Ini bukan kesalahan sepele, sebab dapat menyangkut sesuatu yang sangat besar dan amat penting terkait fakta yang berusaha ia sajikan kepada pembaca.

Keberimbangan juga dapat terkena imbasnya, terutama bila berita yang sedang ia kerjakan terkait dengan pihak-pihak yang berselisih. Ada kecenderungan media online bersikap ‘kejar tayang’ dengan mengunggah (upload) berita yang baru didapat dari satu sumber saja. Dalam sekejap, berita ini mampu memengaruhi persepsi pembaca, padahal sebenarnya berita itu belum berimbang. Sangat mungkin, persepsi yang telanjur tidak utuh ini akan melekat, sebab ketika penulis berita mengunggah pandangan pihak lain dalam perselisihan itu, pembaca tersebut tidak mengetahui dan tidak membaca berita baru ini.

Dua landasan itu, akurat dan berimbang, juga dapat dicederai oleh ketidakmandirian para jurnalis media online dalam menyikap berbagai fakta dan peristiwa.  Kecondongan atau preferensi karena alasan tertentu (politik, balas budi, kekerabatan) dapat mendorong jurnalis untuk berpihak dalam menulis beritanya. Kemandirian para jurnalis menjadi isu penting saat ini mengingat kepemilikan dan sponsor di balik media telah memengaruhi ruang redaksi (newsroom). Tekanan ini menyebabkan para jurnalis yang tidak mampu bersikap mandiri akan mengikuti kehendak dan kemauan pemilik modal.

Interaktivitas antara media online dan pembacanya juga patut memperoleh perhatian. Banyak pengelola media membiarkan komentar-komentar buruk—kotor, kasar, rasis—tetap bercokol di kolom-kolom komentar media mereka. Jika kita cermati, ujaran kebencian bukan hanya berkeliaran di media sosial, tapi juga di kolom-kolom komentar pembaca media online yang dikelola jurnalis profesional.

Ikhtiar para pelaku dan pengelola media online untuk merapikan barisan dan membuat pembedaan yang jelas dengan media abal-abal menghadapi tantangan pertama-tama dari internal mereka sendiri. Masyarakat menghendaki penyampaian informasi yang akurat, berimbang, jujur, dan mandiri dalam bersikap. Di tengah luberan informasi yang berlangsung setiap waktu, tugas para pengelola media online untuk menjalankan fungsi clearing house of information menjadi semakin menantang. **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler