x

Iklan

PETRUS KANISIUS SIGA TAGE

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Discharge Planning Berkelanjutan Dalam Menurunkan Readmission Pasien

Discharge planning berkelanjutan dapat mendukung peningkatan pelayanan kesehatan menjadi lebih baik

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Proses menyiapkan pasien saat keluar dari rumah sakit dan berada di rumah adalah bagian yang penting dalam pelayanan kesehatan saat ini. Proses ini lebih dikenal dengan discharge planning atau perencanaan pulang. Discharge planning adalah suatu proses yang kompleks dan bertujuan untuk menyiapkan pasien dalam masa transisi dari rumah sakit sampai pasien tersebut kembali ke rumah (Nordmar et al., 2016).

Discharge planning memiliki pengaruh yang penting dalam pelayanan kesehatan. Dengan dilakukannya discharge planning, dapat menurunkan angka perawatan berulang dan kematian pada pasien (Shepperd et al., 2010), mempercepat penyembuhan pasien dan mengurangi angka kembalinya pasien ke rumah sakit akibat penyakit yang sama (Wong et al., 2011), serta pasien menjadi lebih nyaman, puas, kualitas hidupnya baik, dan mengurangi lama perawatan (Hager, 2010; Phillips et al., 2004).

Konteks Dan Urgensi Masalah

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Masih banyak masalah yang berkaitan dengan penerapan discharge planning. Studi yang dilakukan oleh Tage et al. (2016) di rumah sakit di Jakarta, ditemukan bahwa, penerapan discharge planning selama ini masih berfokus kepada pasien, saat pasien berada di rumah sakit, dan masih dilakukan sekali saja, saat pasien hendak pulang. Laporan Alper et al. (2014) menunjukan bahwa di Amerika telah terjadi angka perawatan berulang sebanyak 20% dengan kerugian ekonomi berkisar antara 15-20 miliar dolar setiap tahunnya sebagai akibat dari kegagalan melakukan discharge planning. Laporan Jayakody et al. (2016) mengungkapkan bahwa di Inggris kegagalan discharge planning memberikan dampak yang bervariasi dimana pasien dengan gagal jantung kronis telah dilaporkan mengalami perawatan berulang sebesar 26,9%, pasien dengan penyakit paru obstruktif (PPOK) dan diabetes mengalami perawatan berulang sebanyak 20%. 

Indonesia sendiri belum memiliki data yang pasti pengaruh kegagalan discharge planning terhadap kejadian perawatan berulang, namun hasil penelitian di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi menunjukan bahwa discharge planning yang dilakukan dengan baik akan meningkatkan efikasi diri pasien (Tuti et al., 2013). Di Kota Kupang, penelitian yang dilaksanakan pada ruang rawat dewasa Rumah Sakit X ditemukan, 38% perawat belum melaksanakan discharge planning secara utuh (Sari dan Tage, 2015) dan di Rumah Sakit Y di Kupang, 20% perawat belum melaksanakan perencanaan pulang (Luan et al., 2015)

Discharge planning yang baik harus mengandung unsur  (1) penilaian pasien, (2) pengembangan rencana yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, (3) penyediaan layanan, termasuk pendidikan keluarga dan layanan rujukan, dan (4) tindak lanjut atau evaluasi berkelanjutan (Yam et al, 2012). Unsur keempat berupa evaluasi selama ini tidak terlihat sama sekali, padahal Evaluasi ini, mestinya berlangsung hingga pasien berada dirumah. Pemantauan hingga kerumah menjadi sangat penting karena beberapa pasien dengan kasus tertentu membutuhkan pemantauan secara terus menerus karena mereka sangat rentan untuk mengalami serangan penyakit berulang (Langhorne et al., 2014; Wu et al., 2017; Bauer et al., 2009; Sunde et al., 2014). 

Pengembangan discharge planning berkelanjutan perlu untuk dilakukan Wu et al. (2017) menemukan bahwa tatap muka dan telepon tindak lanjut saat pasien dirumah dapat meningkatkan efikasi diri dan perilaku manajemen diri terhadap penyakit yang dialami pasien. Horwitz (2017) mengungkapkan bahwa untuk menumbuhkan sifat perawatan diri pada pasien terhadap penyakit yang dialami tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan tetapi juga harus dilakukan evaluasi berkelanjutan

Kritik Terhadap Kebijakan Yang Ada

Sejauh ini kebijakan discharge planning belum sampai pada tahap evaluasi berkelanjutan, proses discharge planning masih hanya berfokus pada pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien padahal menurut  Mor dan Besdine (2011) dengan adanya kebijakan yang utuh mengenai proses discharge planning, akan menurunkan angka perawatan berulang.

Panduan Instrumen Akreditasi Rumah Sakit Standar Akreditasi Versi 2012 telah mengatur mengenai kontinutas pelayanan pada APK 2 dan pemulangan pasien, rujukan, serta tindak lanjut pada APK 3 (Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 2012). Regulasi  ini seharusnya bisa dilihat sebagai peluang untuk menguatkan sistim discharge planning berkelanjutan yang sangat mendukung bentuk kontiunitas pelayanan kesehatan.

Pilihan Kebijakan

Salah satu cara untuk mendukung sistim discharge planning berkelanjutan bisa dilakukan dengan menciptakan metode evaluasi yang relevan dan mudah untuk diimplemantasikan. Pilihan yang paling mungkin karena murah dan mudah untuk dilakukan adalah dengan metode evaluasi berbasis goggle form yang dimodifikasi sesuai format discharge planning rumah sakit dan bisa disatukan dengan format clinical phatway masing-masing penyakit yang dialami pasien. Formulir dibuat oleh petugas dan diisi oleh keluarga pasien maupun pasien sendiri, kemudian diverifikasi oleh petugas. Selain google form dapat juga dilakukan melalui panggilan telpon oleh petugas dengan sitim kerja yang sama, dan jika memungkinkan bisa dilakukan visitasi kerumah pasien untuk melakukan pantauan langsung. Tiga bentuk jenis evaluasi ini bisa dikombinasikan dan disesuikan dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada di rumah sakit

Kelebihan Dan Kekurangan Kebijakan

Kebijakan discharge planning berkelanjutan memiliki beberapa kelebihan juga kekurangan. Kekurangan paling nyata dalam discharge planning berkelanjutan menurut Henderson et al. (2013) adalah semakin mahalnya biaya perawatan yang ditanggung pasien jika metode evaluasi dilakukan dengan sistim panggilan telpon atau tele health, serta tidak bisa langsung diterapkan dalam waktu cepat,  jika sumber daya tenaga kesehatan maupun pasien belum bisa mendukung penerapannya.

Kelebihan dari discharge planning berkelanjutan adalah dapat menekan perawatan berulang yang berujung pada menurunnya beban biaya jika pasien tidak mengalami perawatan berulang (Hesselink, 2014). Kelebihan yang lain adalah memudahkan perawatan lintas profesi karena sistimnya akan lebih mudah terintegrasi dengan metode clinical phatway yang selanjutnya dapat memudahkan pengaturan pembiyayaan pasien dan klaim jasa tenaga kesehatan terutama pada kasus-kasus pasien yang mendapat perawatan jangka panjang

Rekomendasi Kebijakan

Setelah melihat manfaat, kelebihan dan kekurangan, serta peluang mengenai implementasi discharge planning berkelanjutan, maka direkomendasikan beberapa hal sebagai langkah penerapan discharge planning berkelanjutan, seperti: 1) dibuatkan perencanaan melalui penetapan aturan dan regulasi seperti panduan dan SOP, 2) dibuatkan sistim organisasi, terutama mengenai siapa yang akan mengerjakan dan bertanggungjawab atas pengimplementasian discharge planning berkelanjutan, 3) dilakukan uji coba awal  dengan sampel yang kecil dan dengan sumber daya yang sesuai, 4) melakukan kontrol penerapan discharge planning berkelanjutan secara berkala sesuai besaran pencapaian implementasi dilapangan

 

Ikuti tulisan menarik PETRUS KANISIUS SIGA TAGE lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler