Berjuang Sampai Akhir: Perjuangan Mochammad Sroedji - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dave Kusuma

Classified
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Berjuang Sampai Akhir: Perjuangan Mochammad Sroedji

    Dibaca : 5.289 kali

    LAHIR di Bangkalan pada 1 Februari 1915, Mochammad Sroedji adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Orang tuanya, Hasan dan Asni, memutuskan pindah ke Kediri pada 1923, tepatnya ke Desa Gurah. Sebuah desa dengan toponimi yang terhitung kuno, bahkan disebut-sebut dalam salah satu folklore Jawa. Sroedji termasuk anak muda yang nekad dan beruntung; nekad dalam arti gigih berusaha melanjutkan sekolahnya, dimana sekolah merupakan barang mewah pada masa itu, dan beruntung karena orangtuanya merestui keinginan Sroedji, biarpun sempat keberatan. Terbukti, Sroedji berhasil lulus dari Ambacht Leergang (sekolah kejuruan) di Malang. Sebuah prestasi dan prestise yang cukup tinggi pada jaman itu, terlebih mengingat Sroedji berasal dari keluarga pedagang biasa. Pada 1938 ia bekerja di Jember, kota perkebunan di bagian timur Pulau Jawa. Jember terhitung regentchap (kabupaten) baru di wilayah Karesidenan Besuki, karena baru resmi menjadi regentschap tahun 1929. Sroedji bekerja sebagai mantri malaria di sebuah rumah sakit di Kreongan (kini masuk Kecamatan Patrang). Sehubungan dengan “job desk”-nya, Sroedji aktif keluar masuk kampung untuk melakukan tugasnya, juga giat dalam seni (keroncong, sebagai pemetik ukulele) dan olahraga (bulu tangkis). Sebagai mantri pula, Sroedji mempersunting Mas Roro Rukmini, gadis asal Madura sebagai istri. Mereka menikah tanggal 28 September 1938.

     

    Tahun 1942, Hindia-Belanda “gulung tikar” setelah dipukul remuk oleh balatentara Kekaisaran Jepang/Dai Nippon. Tahun 1943 Nippon membuka rekrutmen tentara sukarela Pembela Tanah Air di Jawa atau disingkat PETA. Sroedji bergabung sebagai kadet PETA angkatan pertama, mengikuti pendidikan keras di Jawa Boei Giyugun Kanbu Rensetai di Bogor pada Oktober 1943. Akhir tahun 1943, para kadet ini dilantik di Lapangan Ikada, kemudian disebar ke daerah sesuai domisili pendaftaran. Sroedji pun kembali ke Jember sebagai C?danc? Mochammad Sroedji, komandan kompi Daidan II PETA berkedudukan di Besuki, Bondowoso. Daidan adalah satuan PETA setingkat batalion, dan di wilayah Karesidenan Besuki ditempatkan lima daidan;

    1. Daidan I di Kencong (Jember)
    2. Daidan II di Bondowoso
    3. Daidan III di Sukowidi (Banyuwangi)
    4. Daidan IV di Rambipuji (Jember)
    5. Daidan V di Benculuk (Banyuwangi)

    .

    PETA yang dipersiapkan sebagai pasukan pertahanan wilayah ternyata tidak pernah berperang dengan musuh sebagaimana diperkirakan Nippon. Alih-alih digdaya, kekuatan Jepang di Pasifik kian terdesak. Tanggal 6 Agustus 1945, B-29 Enola Gay menjatuhkan Little Boy di Hiroshima, dan 9 Agustus 1945 giliran B-29 Bockscar melepas Fat Man di atas Nagasaki. Kedua kota luluh-lantak, dengan cepat Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat. Kekuatan Jepang di Indonesia goyah, namun masih sok jaim.

    Para founding fathers sepakat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945 PETA dibubarkan oleh Jepang, anggotanya dipersilakan kembali pulang namun senjata mereka dilucuti. Nasib PETA betul-betul berakhir dalam rapat “Panitia Kecil” yang dipimpin Oto Iskandar di Nata tanggal 19 Agustus 1945, salah satu keputusannya adalah bahwa PETA secara resmi dibubarkan.

     

    Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) berdasarkan hasil sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia) tanggal 22 Agustus 1945 memberi harapan baru pada pemuda-pemuda eks-PETA untuk ambil bagian dalam Republik Indonesia (RI) yang merdeka. Bersama-sama mantan anggota organisasi bentukan Jepang maupun Belanda, mereka menggabungkan diri ke dalam BKR. Eks-PETA di Karesidenan Besuki melakukan regrouping ke dalam dua Resimen BKR; Resimen I berkedudukan di Bondowoso dan Resimen II berkedudukan di Jember. Eks-C?danc? Sroedji bergabung dengan Resimen II dan dipercaya sebagai Komandan Batalion Sroedji dengan pangkat Mayor. Menyusul keputusan Presiden Soekarno tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, BKR Resimen II Jember berubah menjadi Resimen IV TKR Divisi VIII. Batalion Sroedji pun direorganisasi sebagai Batalion Alap-Alap.

     

    Konstelasi konflik pasca kemerdekaan memuncak di berbagai daerah di Indonesia seiring kedatangan tentara Inggris. Di Surabaya, perang segera menjelang setelah A.W.S. Mallaby, tewas dan penggantinya, E.C. Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya agar menyerah per 10 November 1945. Batalion Alap-Alap dipimpin langsung Mayor Mochammad Sroedji diperintahkan bergerak ke Surabaya untuk membantu perjuangan. Batalion Alap-Alap kemudian ditugasi mempertahankan Sidoarjo dari kemungkinan perembesan pasukan Inggris menuju wilayah pedalaman. Sekembalinya dari tugas, Mayor Mochammad Sroedji mendapat promosi kenaikan pangkat dan jabatan sebagai Letnan Kolonel (Letkol) dan dipercaya mengomandani Resimen 39/Menak Koncar yang berkedudukan di Lumajang, kabupaten yang letaknya persis di sebelah barat Jember.

     

    Kemerdekaan Indonesia kembali mendapat ujian saat Belanda dan unit tentaranya yang pernah dikepruk Jepang, Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) kembali datang. Konflik demi konflik segera pecah di berbagai tempat, dan puncaknya pada 21 Juli 1947 Belanda menggelar Operatie Product. Besuki menjadi salah satu target Belanda, karena wilayah ini pada masa Hindia-Belanda merupakan “kantong uang” Nederland dari hasil perkebunan, khususnya Jember yang bekend dengan komoditas tembakau Besuki Na Oogst. Operasi amfibi digelar di Pantai Pasir Putih, Situbondo dan Teluk Meneng, Banyuwangi untuk “menjepit” Besuki dari kedua penjuru. Tanggal 23 Juli Jember jatuh seiring masuknya KNIL ke kota dan menguasai jalan utama, namun perlawanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara gerilya dan serangan-serangan rakyat terhadap patroli KNIL secara sporadis masih terus berlangsung.

     

    Sadar bahwa menghadapi KNIL secara linear banyak kerugiannya, siasat baru disusun TNI dengan membentuk Commando Offensief Guerilla (COG). Empat unit COG dibentuk di Jawa Timur dimana kekuatan KNIL cukup kuat, yaitu

    1. COG I, meliputi wilayah Residen Malang bagian Timur dan Utara
    2. COG II, dipimpin Letkol Hamid Roesdi
    3. COG III, dipimpin Letkol Mochammad Sroedji
    4. COG IV, dipimpin Letkol Prajoedi Atmosoedirdjo

     

    Dalam melaksanakan tugasnya, antara COG satu dengan COG yang lain harus berkoordinasi untuk menentukan siasat yang tepat dan saling tukar-menukar informasi. Komandan COG II, COG III, dan COG IV dalam suatu kesempatan mengadakan rapat secara rahasia di suatu malam (diperkirakan di hutan lereng Semeru). Letkol Sroedji, dalam kapasitas sebagai Komandan COG III di Lumajang menggalang persatuan gerilya bersama-sama dengan Sastrodikoro, seorang tokoh masyarakat Lumajang. Atas sepengetahuan Bupati Lumajang Abubakar Kartowinoto, Sastrodikoro dan Letkol Sroedji membentuk wadah perjuangan Volks Defensie Kabupaten Lumajang (VDKL) berkedudukan di hutan Pronojiwo, lereng selatan Semeru. Sastrodikoro menjadi ketua organ perjuangan gerilya ini, sementara Letkol Sroedji menjadi penasihat. VDKL berfungsi sebagai pemerintahan darurat di Lumajang, dengan tujuan tak lain adalah demi menegakkan kedaulatan RI secara de facto meski Belanda bercokol di kota-kota.

     

    Salah satu taktik Letkol Sroedji sebagai Komandan COG III adalah membentuk satuan kecil untuk melaksanakan serangan mendadak terhadap posisi KNIL. Salah satunya adalah “Kompi Sambernyowo” yang dipimpin Letnan Suhadi. Kompi Sambernyowo suatu ketika melakukan serangan mendadak terhadap KNIL di Desa Penanggal, yang terhitung sebagai daerah republikein. KNIL kemudian membalas dengan kekuatan besar dan patroli ketat, namun Kompi Sambernyowo berhasil mundur dan pada saat KNIL lengah, mereka kembali menyerang untuk kemudian menghilang lagi.

     

    HIJRAH DAMARWULAN

     

    Belanda yang tidak berhasil 100 % mengontrol wilayah yang mereka duduki, memakai strategi lain; perundingan. Melalui Perjanjian Renville, Belanda berhasil memaksakan pasal yang intinya mengharuskan TNI untuk meninggalkan wilayah “demiliterisasi” dan akan dibentuk wilayah “status quo”. Tidak sulit diduga bahwa Besuki akan menjadi salah satu wilayah status quo. Kekuatan TNI di wilayah ini adalah Resimen 40/Damarwulan yang dipimpin Letkol Sroedji, yang sebelumnya adalah komandan Resimen 39/Menak Koncar. Tidak bisa tidak, Resimen 40 harus meninggalkan zona pertahanan sekaligus basisnya, untuk menuju daerah Blitar, Talun, Galuhan dan sekitarnya. Medio Februari 1948 akhirnya Resimen 40/Damarwulan disertai satuan Kepolisian, ALRI, laskar serta warga sipil mulai bergerak meninggalkan Jember. Perjalanan darat yang ditempuh lamanya sekitar 45 hari, rute “hijrah” ini cukup berat karena harus melintasi hutan, menyeberangi sungai, dan menghadapi berbagai tantangan alam lainnya.

     

    Sekitar empat bulan di tempat “hijrah”, tugas baru sudah menanti. Pada 18 September 1948 koalisi sayap kiri FDR-PKI (Front Demokrasi Rakyat – Partai Komunis Indonesia) yang dengan pentolannya Musso dan Amir Sjarifudin mengumumkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Pemerintah menanggapi tegas dengan menggelar GOM I (Gerakan Operasi Militer I). Kekuatan kiri kocar-kacir, dan menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Madiun. Letkol Sroedji mendapat tugas sebagai Komandan Staf Gabungan Angkatan Perang (SGAP) untuk menumpas sisa-sisa anasir komunis di sekitar Madiun. Tugas ini selesai akhir Oktober 1948. Resimen 40 kemudian mempersiapkan reorganisasi sebagai bagian dari kebijakan ReRa yang dikeluarkan pemerintah pusat/Kabinet Hatta. Tanggal 18 Desember 1948, secara resmi Resimen 40/Damarwulan dikukuhkan sebagai Brigade III/Damarwulan dengan komandan Letnan Kolonel Mochammad Sroedji. Pada kesempatan ini, Panglima Tentara dan Teritorium Jawa, Kolonel A.H. Nasution berkenan beraudiensi singkat dengan Letkol Sroedji, terkait tugas pemberantasan sisa PKI Madiun dan juga kondisi para prajurit.

     

    Baru sehari Brigade III dibentuk, tugas lain kembali menanti. Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melanggar pernjanjian gencatan senjata denga menggelar Operatie Kraai (Operasi Gagak). Ibukota RI di Yogyakarta jatuh, Presiden, Perdana Menteri dan pejabat teras ditawan. Namun Panglima Besar APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia), Letnan Jenderal Soedirman sudah meninggalkan kota sebelum KNIL menampakkan batang hidungnya. Panglima Besar memutuskan memimpin langsung Perang Gerilya Semesta dari medan gerilya, disertai pasukan pengawalnya yang setia. Beberapa saat sebelumnya, Panglima Besar mengeluarkan Perintah Kilat Nomor 1, melalui stasiun pemancar RRI (Radio Republik Indonesia) yang belum sempat dikuasai musuh, perintah ini dipancarluaskan ke seluruh Jawa. Radio-radio di luar Yogyakarta menangkap berita ini dan satuan-satuan TNI segera mempersiapkan diri.

     

    Hari itu juga, Letkol Sroedji selaku Komandan Brigade III/Damarwulan menerima perintah untuk melakukan “wingate action”. Brigade III harus menyusup kembali ke basis di Besuki, melakukan Perang Gerilya Semesta dan membina unsur-unsur republikein untuk menegakkan kedaulatan RI secara de facto di daerah-daerah. Rute yang ditempuh mirip dengan rute “hijrah” namun kali ini adalah kebalikannya, plus bahaya yang lebih besar. Dalam perjalanan, Brigade III sempat terlibat dalam beberapa kali kontak senjata dengan KNIL. Salah satu yang paling menegangkan adalah front Tempursari, Lumajang pada 1 Januari 1949. Pasukan Brigade III berhasil memukul mundur unit KNIL yang bercokol di sana, namun ternyata mereka mundur demi memanggil bantuan udara. Tempursari disapu habis dengan mitraliur dan bom-bom dari pesawat-pesawat Mustang, Kittyhawk dan Mitchell. Beruntung, sebelumnya Letkol Sroedji mencium ketidakberesan dari gelagat KNIL yang terlalu cepat mundur. Pasukannya diperintahkan mengevakuasi warga menuju perbukitan yang lebih aman, sesaat setelah “pengungsian paksa” tersebut pesawat-pesawat KNIL muncul dan melakukan dua kali sorti pemboman. Tempursari hancur luluh, namun warga dapat diselamatkan.

     

    Setelah memasuki wilayah Karesidenan Besuki, Letkol Sroedji membagi pasukannya menjadi beberapa kolone. Beliau sendiri bergerak memimpin kolone Staf Brigade III menuju Wuluhan, di selatan Jember. Namun rupanya pergerakan kolone Staf Brigade III terdeteksi lawan, berkali-kali posisi mereka disergap. Akhirnya Letkol Sroedji memerintahkan kolone bergerak menuju Desa Karang Kedawung, wilayah Kecamatan Mumbulsari yang terletak di sebelah tenggara pusat kota Jember. Tanggal 7 Februari 1949 malam hari mereka tiba di Karang Kedawung dan beristirahat, kebetulan kondisi Letkol Sroedji sedang kurang fit. Pagi harinya tanggal 8 Februari 1949, unsur Staf Brigade III mengadakan musyawarah dengan Kepala Desa Karang Kedawung, Abdul Amin serta tokoh masyarakat setempat. Namun sebelum sempat merundingkan langkah lanjutan, terdengar tembakan yang menandakan adanya sergapan musuh. Letkol Sroedji kemudian memerintahkan sisa pasukannya bersiaga, tidak lama kemudian pertempuran tak terhindarkan. Kepala Desa Abdul Amin gugur bersama sejumlah warganya. Letkol Sroedji sendiri tertembak dan terluka parah, perwira medis merangkap Residen Militer Besuki, Letkol dr. Soebandi berusaha memberikan pertolongan dengan membawa komandan brigade ke parit. Namun naas bagi Letkol Soebandi, posisinya kurang terlindung sehingga tertembak di bagian kepala dan gugur seketika. Melihat staf sekaligus sahabatnya gugur, komandan brigade memutuskan melakukan perlawanan sampai akhir. Letkol Sroedji bertanya pada ajudan pribadinya, Abdul Syukur, apakah dia masih punya peluru. Kemudian beliau melompat keluar dari parit sambil memegangi lukanya dengan satu tangan, dan tangan satunya menembakkan pistol ke arah KNIL sampai peluru terakhir. Beberapa KNIL terjungkal tewas, namun yang lain membidikkan senjata ke arah Letkol Sroedji dan menghujani beliau dengan peluru. Beliau akhirnya gugur menyusul para prajuritnya. Abdul Syukur sendiri terluka dan tidak sadarkan diri, namun selamat dan belakangan menjadi saksi sejarah yang penting.

     

    Pasukan KNIL berhasil mengenali jenazah Letkol Sroedji. Mereka menggunakan jenazah sebagai media propaganda dengan mengikatkan di belakang truk dan membawanya keliling kota Jember, sebagai peringatan bagi TNI dan pejuang. Kemudian jenazah Letkol Sroedji diletakkan begitu saja di Hotel Djember, sebelah timur alun-alun. Hotel ini digunakan sebagai markas oleh KNIL (sekarang hotel ini sudah tidak ada).

     

    Kabar gugurnya Letkol Sroedji menyebar hingga terdengar oleh Kiai Dahnan, pemuka agama dari Kreongan. Kemungkinan beliau mengenal Sroedji saat masih menjadi mantri malaria dulu. Kiai Dahnan kemudian menghadap komandan KNIL (tidak disebut pangkat maupun nama) untuk meminta jenazah Mochammad Sroedji guna dimakamkan dengan layak. Setelah melalui negosiasi alot, perwira tersebut menyetujui dengan syarat kain penutup jenazah tidak boleh dibuka. Kiai Dahnan menyanggupi tanpa berpanjang kata.

     

    Kiai Dahnan kemudian diantar menuju kediamannya di Kreongan yang hanya beberapa km dari Hotel Djember dengan truk dan pengawalan sejumlah serdadu KNIL. Sesampainya di kediamannya, Kiai Dahnan mengatakan bahwa jenazah akan disucikan sesuai dengan ajaran Islam. Para serdadu yang tidak mengetahui ihwal larangan dari komandan mereka hanya “manthuk-manthuk” sambil berjaga-jaga. Bersama dengan masyarakat sekitar, Kia Dahnan kemudian memandikan jenazah Letkol Sroedji. Para pelayat terkejut melihat kondisi jenazah yang penuh luka cabikan bayonet serta beberapa ruas jari terpotong, serta kedua bola mata almarhum juga hilang. Terang saja beberapa dari mereka langsung pingsan. Di antara pelayat ternyata ada Kepala Staf Brigade III, Mayor Imam Soekarto yang datang dalam penyamaran sebagai rakyat biasa. Mayor Imam mendengar kabar gugurnya komandan brigade, dan bermaksud mengkonfirmasi hal ini.

     

    Setelah disucikan, Kiai Dahnan memotret jenazah dari sudut pandang yang menurutnya paling baik, dalam arti kerusakan jenazah tidak terlihat. Beliau perpendapat bahwa keluarga almarhum yang saat itu diungsikan di Malang, harus mengetahui bahwa suami dan ayah mereka telah gugur. Kemudian jenazah diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman umum Kreongan. Letkol Sroedji pernah berwasiat, jika suatu saat wafat ingin dimakamkan di tempat yang sama dengan rakyat. Pemakaman ini dihadiri ribuan rakyat Jember yang ingin memberikan penghormatan terakhir, dan hal ini menjadi perhatian komandan KNIL yang merasa kecolongan. Esoknya Kiai Dahnan ditangkap lantaran “saat pemakaman jenazah Letkol Sroedji ditutupi bendera Merah Putih”. Namun setelah tiga hari ditahan, beliau dilepas karena masyarakat Jember menggeruduk Hotel Djember dan dikhawatirkan terjadi amuk massa.

     

    Keluarga Letkol Mochammad Sroedji baru mendapat kepastian wafatnya almarhum sekitar sebulan setelah Pertempuran Karang Kedawung terjadi. Nama Mochammad Sroedji kini diabadikan sebagai nama jalan dan nama perguruan tinggi di Jember. Patung Mochammad Sroedji dan dr. Soebandi menghiasi jalan utama memasuki Jember, sedangkan patung Letkol Mochammad Sroedji dalam sikap berdiri tegap dipasang di depan Kantor Bupati Jember menghadap alun-alun. Pemerintah RI memberikan sejumlah penghargaan secara anumerta kepada Letnan Kolonel Mochammad Sroedji, diantaranya:

    1. Tanda Jasa Pahlawan Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno, 5 Oktober 1949
    2. Tanda Kehormatan Bintang Sakti dari Presiden Soeharto, 18 Maret 1975
    3. Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dari Menhankam Jenderal Poniman, 3 Oktober 1986
    4. Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Joko Widodo, 3 November 2016

     

    Keterangan tambahan:

    • Letkol Mochammad Sroedji sempat dua kali diajukan sebagai Pahlawan Nasional.
    • Kisah perjuangan Letkol Mochammad Sroedji ditulis-ulang dalam bentuk novel “Sang Patriot” yang ditulis oleh Irma Devita, cucu Mochammad Sroedji.
    • Jenazah Residen Militer Letkol dr. Soebandi sempat dinyatakan hilang, namun akhirnya berhasil diidentifikasi dan dpindahkan ke Taman Makam Pahlawan. Nama beliau diabadikan sebagai nama rumah saki, nama jalan, dan nama perguruan tinggi.

     

    Dirangkum dari:

     

    A.H. Nasution, (1979). Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia jilid 10, Perang Gerilya Semesta II. Bandung: Angkasa.

     

    A.H. Nasution, (1991). Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia jilid 9, Agresi Militer Belanda II. Bandung: Angkasa.

     

    DHC Angkatan 45 Kabupaten Jember, (1996). Usul Pengangkatan Julukan sebagai Pahlawan Nasional bagi Bapak Letkol Moch. Sroedji, Komandan Brigade III Damarwulan Divisi I TNI Jawa Timur. (tidak diterbitkan).

     

    Indra G Mertowijoyo. (2015). Letkol Moch. Sroedji. Jakarta: Penerbit Inti Dinamika Ahmad.

     

    Kodim 0824 Jember, (1972). Sejarah Alm. Letkol Moch. Sroedji, Komandan Brigade III Divisi I TNI Jawa Timur. (tidak diterbitkan).

     

    Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. (1993). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.

     

    Sumarno Kardi, (1996). Sejarah Perjuangan Letkol Moch. Sroedji 1945 – 1949, Keteladanan dan Etika Kepemimpinan. Pidato Dies XV dan Wisuda Sarjana IX Universitas Moch. Sroedji Jember, tanggal 8 Juni 1996.

     

    “Operatie Product” dalam https://www.dekolonisatie.com/mariniersbrigade/product.htm

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.