LGBT dan HIV/AIDS, Histeria Tanpa Dasar

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari-hari ini begitu banyak yang menguarkan kebencian pada LGBT, mengutip pernyataan yang mengaku diri sebagai dokter Ani Hasibuan, konon dari RSCM

Hari-hari ini begitu banyak yang menguarkan kebencian pada LGBT, mengutip pernyataan yang mendaku diri sebagai dokter Ani Hasibuan, konon dokter ahli syaraf di RS Cipto Mangunkusumo. Pelacakan di website RSCM tidak menghasilkan ada dokter syaraf yang bernama Ani Hasibuan sehingga mungkin sosok ini hanya fiktif belaka. Siapa tahu RSCM yang dimaksud Ani di sini ada di dunia paralel yang kuliah kedokterannya ditemani gas helium yang bikin mabok melayang-layang :) 
 
Celakanya, tulisan Ani Hasibuan yang entah ada di mana itu menyebar dengan cepat di medsos. Tak sedikit yang menelan mentah-mentah isinya, sambil berkomentar yang tak kalah mengerikan, tanpa membaca dan mengkaji isinya lagi. Ada beberapa poin yang saya catat dari tulisan Ani Hasibuan tersebut. Mari kita simak dengan kepala dingin, siapkan es batu jika perlu, AH (Ani Hasibuan), S (Saya):
 
AH: Ani menyebut PBB mendanai LGBT sebagai bagian dr agenda zionisme
 
S: Ini contoh pemikiran konspiratif yang seolah-olah gagah tapi susah dicari dasar nalar dan faktanya. Presiden Amerika Donald Trump, kita ambil contoh mudah, yang sekarang bikin heboh karena mengklaim Yerussalem sebagai ibu kota Israel, jelas bukan gay. Dia heteroseksual. Jika bu dokter itu membaca koran, dia akan tahu bahwa justru PBB yg menolak klaim Trump.
 
Silakan cek juga, banyak resolusi PBB yang mendukung Palestina, termasuk resolusi penghentian pembangunan pemukiman di wilayah Palestina. Yang fenomenal, pada 2014, pengakuan bahwa Palestina adalah negara ke-135 yang secara resmi menjadi anggota PBB. Pengakuan ini memicu reaksi keras dari Israel, tentu saja. Jadi, di mana logika bahwa PBB mendanai LGBT untuk menjalankan agenda zionisme? 
 
AH: Homoseksual disebut sebagai predator yang agresif
 
S: Betul, ada homoseksual yang agresif tapi tentu ini tak bisa digeneralisir. Dan, bukankah ini juga berlaku untuk heteroseksual. Namanya manusia, tentu ada bermacam-macam, seperti halnya dokter, juga ada yang baik dan ada yang songong seperti halnya lulusan fakultas kedokteran dari dunia paralel itu. Tak sedikit pemerkosa, pelaku pelecehan seksual, pedofil, yang heteroseksual. Contohnya buanyakkk. Salah satu yang sedang jadi pembicaraan dunia adalah Harvey Weinsten yang adalah predator seksual kelas kakap dan "memangsa" ratusan perempuan selama bertahun-tahun. Siapa dia? Silakan cek paman gugle, ya. 
 
AH: HIV / AIDS begitu berbahaya, fatal, dan berisiko membawa kematian yang mengerikan.
 
S: Betul dan kita paham dahsyatnya bahaya HIV ini sejak awal bertiup di awal dekade 90an. Faktanya begitu, apalagi jika pasien tidak ditangani secara memadai. HIV adalah virus yang punya daya tangguh merontokkan daya tahan tubuh. Apa yang digambarkan ibu dokter tersebut tentang bahaya HIV/AIDS, bagaimana virus ini merontokkan kekebalan tubuh, dari ujung kaki sampai ujung kepala, memang betul. 
 
Namun, teknologi kedokteran terus berkembang. Seperti yang dijelaskan Natasya Sitorus, teman saya yang aktivis Lentera Anak Pelangi, saat ini HIV/AIDS tidak lagi dianggap sebagai mematikan tetapi penyakit kronis yang bisa dikontrol dengan penggunaan obat. Statusnya sama seperti diabetes dan hipertensi. Dengan obat-obatan, kadar virus HIV bisa ditekan supaya tidak mengganggu kekebalan tubuh dan si pemilik tubuh tetap bisa beraktivitas normal. 
 
Ingat Magic Johnson, kan? Dia pemain basket terkenal yang HIV positif dan tetap setrong di usianya kini, yang 52 tahun. 
 
AH: HIV/AIDS hanya menyerang homoseksual?
 
S: Bu dokter perlu mengecek buku kuliah. Jika buku kuliah AH cuma fotokopian yang sudah luntur tulisannya, silakan belajar dari situs-situs kesehatan bermutu dan hratis yang banyak tersedia di internet. Nah, virus HIV menular melalui pertukaran cairan tubuh, yakni darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu yang mengandung virus HIV. 
 
Memahami cara penularan virus adalah kunci memahami rantai menyebarnya HIV/AIDS. Karena menyebar melalui cairan tubuh, maka tentu saja bukan hanya yang homoseksual yang memiliki faktor risiko tertular HIV. Tak sedikit kasus penularan melalui jarum suntik narkoba yang digunakan beramai-ramai. 
 
Tak sedikit istri yang tak tahu-menahu tertular virus dari suaminya, yang ternyata hobi berganti pasangan dan tak pakai kondom. Seorang ahli epidemiologi (yang mempelajari rantai perjalanan penyakit) dari FKUI pernah meneliti rantai penularan HIV di kalangan sopir truk di jalur pantura. Seorang sopir truk bisa menularkan HIV pada beberapa perempuan sekaligus (istrinya dan pacar-pacarnya di jalur pantura). 
 
Tak sedikit pula bayi yang tak berdosa yang terinfeksi HIV, hanya karena proses persalinan tak diantisipasi dengan baik agar si bayi tak tertular ibunya yang membawa virus HIV --ya, dengan metode persalinan yang dimonitor dokter yang ahli, penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah. 
 
AH: LGBT menular sehingga anak-anak dengan mudah terbawa jika dibiarkan bergaul dengan LGBT?
 
S: LGBT adalah orientasi dan preferensi perilaku dan seksual, jadi basisnya adalah rasa dan kecenderungan yang sudah pada orang  bersangkutan. LGBT tidak seperti flu yang menular hanya karena kita terkena bangkis pasien flu, yang bersinnya muncrat sampai jarak sepuluh meter. 
 
Saya bersahabat dengan banyak teman LGBT, yang kreatif dan punya kepedulian tinggi pada kemanusiaan. Bertahun-tahun saya bergaul dengan mereka dan saya tidak menjadi LGBT. Tidak ada rasa deg-deg syerrr kalau berdekatan dengan teman LGBT. Kalau pun seandainya betul saya LGBT, terus mengapa? LGBT tidak merugikan kepentingan publik, tidak seperti koruptor yang harus kita benci sampai ubun-ubun. 
 
AH: Dokter ini menyebut dirinya masih setia dengan sumpah Hipokrates, sumpah suci para dokter untuk menolong pasien, siapa pun dia.
 
S: Baiklah, bu dokter, terima kasih untuk tetap menolong mereka yang sakit, termasuk yang didera HIV/AIDS. Tapi, du dokter, jangan jijik ya melihat pasien HIV/AIDS yang ditemani pasangannya, sesama jenis atau bukan.
 
Oya, jangan mengajak orang ramai-ramai memukuli LGB, apalagi sampai menyuntik orang --siapa pun itu-- dengan zat kimia dosis tinggi yang bikin mokat, ya, dok. Itu namanya kriminal tingkat tinggi, jahat banget. 
 
AH: Keheranan kenapa pemerintah tidak mengatasi bahaya HIV/AIDS ini.
 
S: Nah, saya juga heran, dok. Salah satu fokus pemerintah mestinya adalah memastikan pendidikan kedokteran sampai ke para mahasiswa dan dokternya, sehingga pemahaman tentang HIV/AIDS sampai secara benar. Kita tak mungkin berharap penanganan HIV/AIDS bisa efektif jika di level dokter saja pemahaman HIV/AIDS kurang pas dan malah menyebarkan kebencian pada LGBT.  Jika pendekatan keliru seperti ini yang muncul, masyarakat akan bingung dan justru yang muncul adalah histeria, kepanikan dan kebencian pada LGBT. 
 
AH: Bu dokter ini menyebut dr. Sjamsuridjal, salah satu ahli HIV/AIDS yang telah lama mengingatkan bahaya HIV/AIDS
 
S: Benar, Prof. Dr. Sjamsuridjal sudah lama mengingatkan masyarakat akan bahaya HIV/AIDS. Sebagai jurnalis yang lama meliput persoalan kesehatan, saya menghormati dan sering mewawancarai Prof Sjamsuridjal. Namun, Prof. Dr. dr. Syamsuridjal TIDAK PERNAH menggunakan kebencian sebagai sarana membangun kesadaran publik, bahkan Profesor ini mendirikan Yayasan Pelita Ilmu yang mendampingi para pasien dan ODHA (orang dengan HIV positif). Dia tidak membenci, malah merangkul mereka yang terkena HIV/AIDS -- inilah dokter sesungguhnya yang harus ditiru AH. 
 
Dokter Sjamsuridjal mengajak masyarakat untuk mencegah HIV/AIDS dengan cara melakukan hubungan seksual yang aman, setia pada psangan, menjauhi risiko hubungan seks yang tidak aman (heteroseksual maupun homoseksual), tidak menggunakan narkoba dan apalagi dengan jarum suntik bergantian. 
 
Begitulah tanggapan saya kepada dokter Ani Hasibuan. 
 
Salam buat yang para dokter di dunia paralel sana, 
Mardiyah Chamim

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Mardiyah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

LGBT dan HIV/AIDS, Histeria Tanpa Dasar

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua