x

Iklan

Rosse Hutapea

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

'Instalasi Bentang Bayangan' Kritik Sosial Mahasiswa Arsitektur UPH

Kreatifitas dalam menyampaikan suatu pesan melalui sebuah media baik itu gambar, model, maket atau prototype, merupakan bagian dari ilmu Arsitektur.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Zebra cross adalah tempat penyeberangan di jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki yang akan menyeberang jalan, dinyatakan dengan marka jalan berbentuk garis membujur berwarna putih dan hitam yang tebal garisnya 300 mm, dengan celah yang sama dan panjang sekurang-kurangnya 2500 mm. Pejalan kaki yang berjalan di atas zebra cross sudah seharusnya mendapatkan perioritas terlebih dahulu.

 

Prakteknya, masih banyak masyarakat kita yang tidak memahami fungsi zebra cross. Tidak usah jauh-jauh, berdasarkan pengamatan pada zebra cross yang ada di depan kampus UPH Lippo Village beberapa kali nyaris terjadi kendaraan yang hampir nyerempet penyebrang jalan. Padahal jelas ada lampu merah dan hijau yang mengatur giliran pengguna jalan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Menyikapi kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Arsitektur UPH semester 2, membuat projek yang mereka namakan  ‘instalasi Bentang Bayangan’ sebagai bagian dari tugas mata kuliah Studio Dasar Desain 2. Project ini dilakukan pada 18 April 2018, di ruas zebra cross yang terletak di depan kampus UPH Lippo Village.

 

Instalasi ini cukup sederhana, berupa bentangan kain putih 1.5m x 20m sepanjang ruas jalan. Kain putih dalam pengertian seni adalah sebuah wujud dari imajinasi. 

“Kain yang menghalangi adalah wujud nyata imajinasi dari HATI NURANI,” jelas  JoshMike, mahasiswa Arsitektur UPH 2017 yang juga ketua kelompok ini.

 

Melihat atraksi mereka saya sempat bingung. Tetapi para mahasiswa mempersilahkan para penyebrang untuk melintasi zebra cross dan sayapun berjalan tanpa ragu. Instalasi bentang bayangan itu mereka pilih berdasarkan pertimbangan dan diskusi tentang mewujudnyatakan hati nurani. Konsep ini memunculkan ruangan yang membentang panjang diantara zebra cross,  sebagai imajinasi dari bentuk 3 dimensi dari zebra cross.

 

Ternyata lewat instalasi tersebut, kelompok mahasiswa ini mermaksud menyampaikan  kritik terhadap kurangnya kepekaan orang Indonesia dalam menekan ego mereka di jalan raya.

“Seharusnya  mereka menuruti hati nurani mereka yang pastinya mengingatkan mereka saat akan melanggar lalu lintas. Jadi tujuan aksi kami adalah untuk kembali menyadarkan para pengendara bermotor untuk lebih peka pada lampu lalin (lalu lintas)  dan mereka lebih patuh pada hitungan mundur waktu lampu lalin seperti layaknya ‘hati nurani’, “ tambah JoshMike.

 

Tampaknya atraksi yang dilakukan oleh 16 mahasiswa ini cukup efektif. Atraksi ini dilakukan sebanyak 10x setiap 3 menit selama 1 jam. Setelah melewati beberapa kali atraksi baru kelihatan hasilnya. Kelihatan dari para pengendara yang dengan sigap dan tertib berhenti saat instalasi "hatinurani" dibentangkan..Sementara para penyebrang jalan juga mulai tertib dengan berjalan di atas zebracross  dan tidak sembarangan menyebrang. Bukan hanya itu, dari bebrapa komentar penyebrang yang melintasi zebracross dalam bentang bayangan, mereka mengaku merasa memiliki privasi dan keamanan yang terjamin. 

 

Kreatifitas dalam menyampaikan suatu pesan melalui sebuah media baik itu gambar, model, maket atau prototype, merupakan bagian dari ilmu yang dipelajari mahasiswa dalam mata kuliah Studio Dasar Desain 2. Hasil yang dituntut dalam Studio 2 ini adalah pengertian dasar akan logika operasi geometri dan kemampuan teknik ketukangan dari suatu material yang tidak dipergunakan sebagai bahan bangunan. Capaian pembelajaran mata kuliah ini adalah mahasiswa mampu mengaplikasikan kreatif seni rupa dan relevansinya serta dampaknya pada arsitektur. Selain itu mahasiswa mampu mengaplikasikan kreatif dari proses desain pada proyek studio desain dalam upaya melakukan konseptualisasi dan representasi.

 

Ternyata project ini tidak hanya membuat mahasiswa paham teori dan konsep tetapi juga mendorong mereka untuk kreatif dan peka terhadap isu-isu disekitarnya yang dapat disentuh oleh ilmu Arsitektur. 

“Kesan kami dan kelompok sangat senang jika semua orang bisa sama-sama sadar dan saling menaati peraturan di jalan raya,  apalagi dengan cara yang cukup menarik,” ungkap JoshMike. 

Ikuti tulisan menarik Rosse Hutapea lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler