x

Iklan

Rofiq al Fikri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Ucapan Selamat Ultah Jokowi ke Prabowo yang Tak Berbalas

Memahami Dua Karakter Pemimpin yang Ingin Ciptakan Persatuan atau Permusuhan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Memahami Dua Karakter Pemimpin yang Ingin Ciptakan Persatuan atau Permusuhan

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Oleh : Rofiq Al Fikri (Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu / JAMMAL )

 

Publik dibuat tersentuh saat dua hari yang lalu, Rabu (17/10/2018) Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat ulang tahun ke-67 kepada Prabowo Subianto, lawannya di Pilpres 2014 sekaligus Pilpres 2019 mendatang. Ucapan tersebut diposting Jokowi di semua medsosnya (Twitter, FB, dan Instagram) dengan kalimat “sahabatku Bapak Prabowo”. Rakyat pun bergembira dan menyebut “adem”. Namun, mengapa Prabowo tidak membalas ucapan Jokowi? Bahkan, saat Jokowi berulang tahun di tanggal 21 Juni 2018, Prabowo pun tidak memberikan ucapan sedikit pun di salah satu medsosnya?

 

Tentu saja hanya ada satu jawaban sederhana untuk menjawab hal ini, yaitu ini persoalan karakter kepemimpinan! Dengan sangat jelas kita bisa melihat siapa pemimpin yang dalam pertarungan politik menganggap lawannya sahabat untuk membangun bangsa atau siapa yang menganggapnya musuh. Apa yang dilakukan seseorang mencerminkan apa karakter atau sifat orang tersebut dan kita lihat begitu kontrasnya sifat Jokowi dan Prabowo.

 

Sifat Jokowi yang tidak pernah sedikit pun menganggap Prabowo musuh bukan saja ditunjukkan saat ia dengan tulus mengucapkan selamat ulang tahun ke Prabowo kemarin, melainkan jauh sebelum itu. Ingat saat Jokowi dalam sambutannya di hari pendaftaran dirinya sebagai Capres 2019 menyebut Prabowo adalah putra terbaik Indonesia yang juga ingin membangun bangsa? Padahal jelas Prabowo adalah lawannya.

 

Sementara Prabowo justru kebalikannya, saat memberikan sambutan di hari pendaftaran capres, ia sama sekali tidak menghargai lawannya dengan tidak menyebut nama Jokowi sekali pun. Bahkan, Prabowo malah mengatakan kemiskinan merajalela, dan menyalahkan pemerintah yang salah urus negara. Prabowo adalah tipe orang yang menganggap derajat orang lain rendah di bawahnya, sehingga ia merasa tidak perlu memberikan apresiasi.

 

Menjadi wajar jika kita tidak menemukan ucapan selamat ulang tahun kepada Presiden Jokowi di tanggal 21 Juni 2018 lalu dari Prabowo. Bahkan kemarin, saat ia diberi ucapan selamat ulang tahun oleh Jokowi ia pun tidak memberikan balasan terima kasih kepada Jokowi. Bagaimana pun, Jokowi itu Presiden. Apakah Prabowo betul-betul menganggap Jokowi sebagai musuhnya di kehidupan sehari-hari?

 

Dari sini rakyat seharusnya bisa menilai dengan terang benderang, siapa pemimpin yang menghendaki adanya persatuan (Jokowi) dan siapa (belum) pemimpin yang menghendaki permusuhan. Siapa pemimpin yang menganggap pertarungan politik adalah pertarungan untuk membangun bangsa, dan siapa pemimpin yang menganggap pertarungan politik adalah permusuhan pribadi di kehidupan sehari-hari. Jangan salah pilih!

Ikuti tulisan menarik Rofiq al Fikri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler