Komitmen Jokowi Wujudkan Kedaulatan Pangan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mutiara Azizah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Komitmen Jokowi Wujudkan Kedaulatan Pangan

    Dibaca : 311 kali

    KOMITMEN JOKOWI WUJUDKAN KEDAULATAN PANGAN

    Oleh: Mutiara Azizah

     

    Komitmen dan kesungguhan Jokowi mewujudkan Indonesia sebagai Negara yang berkedaulatan pangan semakin nyata dirasakan oleh petani dan masyarakat.  Keseriusan pemerintahan Jokowi ini ditunjukkan dengan berbagai terobosan kebijakan dan program pembangunan pertanian yang berpihak pada petani.  Terobosan tersebut diimplementasikan melalui pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur, optimalisasi lahan dan penambahan luas tanam, penyediaan bantuan sarana usaha tani (alsintan, pupuk, benih pestisida), pendampingan dan penguatan SDM, penanganan pasca panen, dan pengendalian harga .  Muara dari kebijakan adalah pertama,tersedianya pangan yang cukup untuk masyarakat,  kedua menurunkan  angka kemiskinan dan ketiga,  meningkatkan kesejahteraan. 

     

    Membangun Bendungan, Embung, dan Irigasi

     

    Bendungan, embung dan irigasi merupakan insfrastruktur penunjang ketahanan pangan.  Selama empat tahun, pemerintahan Jokowi telah membangun secara massif bendungan, embung dan irigasi di seluruh wilayah tanah air.  Ada 65 bendungan yang dibangun terdiri dari 16 proyek bendungan lama dan 49 proyek bendungan baru.  Selain itu, melalui Inpres No 1 tahun 2018, Jokowi juga mendorong percepatan penyediaan embung kecil dan bangunan penampung air lainnya di desa. 

     

    Dalam kurun waktu 2015-2017 telah dibangun 5.121 unit embung desa melalui Kementerian PUPR 846 unit, Kementerian Pertanian 2.348 unit, dan Kementerian PDTT 1.927 unit.   Embung desa yang dibangun Jokowi ini memiliki kapasitas tampung air sebesar 2,11 Miliar m3. Disamping bendungan dan embung, pemerintah juga membangun jaringan irigasi baru seluas 860.015 ha, dan melakukan rehabilitasi jaringan irigasi seluas 2.319.693 ha. Layanan irigasi waduk 160.000 Ha, air baku 3,02 m3/detik, dan potensi energi 145 MW.

     

    Optimalisasi Lahan dan Penambahan Luas Tanam

     

    Penambahan volume air yang bisa ditampung memberi pengaruh yang besar terhadap luasan areal sawah irigasi.  Sebelumnya terdapat 7,1 juta hektar sawah, 10,5% diantaranya atau sekitar 760.000 hektar sawah merupakan sawah irigasi yang sumber air dari 230 bendungan, sementara sisanya masih berasal dari air non bendungan atau tadah hujan.

     

    Dengan dibangunnya 65 bendungan baru, luasan sawah irigasi bertambah 173.000 hektar atau secara total menjadi 933.000 hektar.  Luas areal sawah irigasi dari bendungan naik jadi 13,5% dari total luas areal sawah di Indonesia. Dengan sumber air dari bendungan dan embung, maka kebutuhan air pertanian atau sawah irigasi bisa terpenuhi sepanjang tahun.  Kini, setelah ada bendungan petani bisa tanam dan panen 2-3 kali dalam satu tahun, yan sebelumnya hanya satu kali setahun karena kekeringan.

     

    Optimalisasi lahan dan penambahan luas tanam juga dilakukan dengan cara memanfaatkan sawah terlantar, dengan mengoptimalkan manfaat jaringan irigasi, menyediakan tenaga kerja, menggunakan alsintan yang memadai, dan menyediakan benih dan pupuk secara mencukupi.

     

    Penyediaan Bantuan Sarana Usaha Tani

     

    Untuk menekan biaya produksi petani pemerintah membagikan pupuk, benih, dan mesin pertanian (alsintan) secara gratis.  Sehingga petani tidak lagi harus mengeluarkan biaya produksi yang terlalu banyak untuk membeli pupuk, benih, dan alsintan.  Insentif kepada petani tidak berhenti sampai di aspek produksi. Tertekannya biaya produksi  petani juga ditambah dengan insentif yang diberikan pemerintah berupa HPP sehingga petani memiliki jaminan produk padinya terbeli dengan keuntungan yang cukup. Perhatian pemerintah ini mendorong petani semangat untuk menanam karena dari mulai produksi sampai pascaproduksi mendapatkan bantuan dan proteksi dari pemerintah.

     

    Disamping itu, para petani yang mengalami gagal panen karena bencana dan faktor alam lainnya juga mendapatkan proteksi berupa asuransi pertanian. Asuransi pertanian ini belum pernah terjadi pada masa lalu.

     

    Pendampingan dan Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM)

     

    Upaya modernisasi pertanian tidak hanya terhenti pada pemberian bantuan. Pemerintah melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melakukan pendampingan intensif terhadap petani dalam pengoperasian alat pertanian modern. Lewat program Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPA), para penyuluh di daerah dikerahkan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada petani dalam memanfaatkan maupun merawat alat pertanian modern, seperti combine harvester, traktor roda empat, ataupun ekstravator. 

     

    Meningkatkan Produksi Pertanian dan Kesejahteraan Petani

     

    Kebijakan pembangunan pertanian pemerintahan Jokowi berhasil meningkatkan kesejahteraan petani.  Hal ini terbukti pada beberapa indikator _pertama_, menurunnya jumlah penduduk miskin di pedesaan.  _Kedua_, berkurangnya ketimpangan pengeluaran (menurunnya gini rasio) yang mencerminkan semakin meratanya pendapatan petani di pedesaan. _Ketiga_ membaiknya daya beli masyarakat petani di pedesaan. Hal ini dilihat dari Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) dan Indeks Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP).

     

    Keseriusan pemerintah membangun sektor pertanian menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan data hasil sinkronisasi BPS dengan Kementerian Pertanian (Angka Ramalan/ARAM II) menunjukkan bahwa produksi padi nasional sebesar 81,3 juta ton tahun 2017 atau naik 15 persen dibanding 2014. Begitu pun produksi jagung tahun 2017 sebesar 27,9 juta ton naik 37 persen, aneka cabai 1,90 juta ton naik 1,5 persen dan bawang merah 1,42 juta ton naik 15,3 persen dari tahun 2014.

     

    Peningkatan produksi pertanian ini memberi pengaruh pada kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di pedesaan turun 842 ribu jiwa atau turun 4,7 persen dari semula Maret 2015 sebanyak 17,94 juta jiwa turun 17,10 juta jiwa pada Maret 2017.

     

    Neraca Perdagangan Pertanian Meningkat

     

    Kemajuan pembangunan pertanian juga memberi dampak pada membaiknya kinerja neraca perdagangan sektor pertanian. Merujuk pada laporan BPS, nilai neraca perdagangan sektor pertanian Januari hingga Oktober 2017 sebesar USD 13,37 miliar atau tumbuh sebesar 70 persen dibanding periode yang sama di tahun 2016 yang nilainya hanya USD 7,86 miliar.  Pertumbuhan neraca perdagangan sektor pertanian yang cukup besar ini dipengaruhi oleh volume ekspor yang tumbuh mencapai 22,57 persen, sementara volume impor turun 0,46 persen.

     

    Beberapa komoditas pangan yang berkontribusi besar meningkatkan neraca perdagangan pertanian tersebut, di antaranya beras konsumsi, kedelai, bawang merah, daging sapi, daging ayam, telur unggas, gula rafinasi putih, pala, kelapa, kelapa sawit dan kopi. Volume ekspor semua komoditas ini pada bulan Januari hingga Oktober 2017 mengalami pertumbuhan positif dan volume impornya turun dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

     

    Selain beras konsumsi, komoditas pangan yang mengalami pertumbuhan ekspor yang fantastis yakni bawang merah. Volume ekspor bawang merah bulan Januari hingga Oktober 2017 sebesar 5.479 ton sedangkan pada Januari hingga Oktober 2016 hanya 625 ton.

     

    Menuju Lumbung Pangan Dunia

     

    Optimis…! Itulah semangat yang selalu digelorakan Jokowi sebagai seorang pemimpin nasional.  Optimisme diperlukan agar  seluruh rakyat Indonesia memiliki semangat dan kepercayaan diri sebagai bangsa untuk mewujudkan cita-cita perjuangan yaitu menuju Indonesia maju.  Tak berhenti mewujudkan kedaulatan pangan nasional, Jokowi juga telah meletakkan peta jalan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.

     

    Seluruh capaian maupun target tersebut tentu harus dibayar dengan kerja keras dan komitmen dari semua komponen bangsa dan rakyat Indonesia.  Semua pihak harus mendukung Jokowi agar pada periode berikutnya bisa melanjutkan kebijakan pembangunan pertanian untuk lebih mensejahterahkan petani dan seluruh rakyat Indonesia. Hanya pemimpin yang optimis yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju dan mensejahterahkan anak cucu.

     

    * Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Pengamat Sosial dan Politik


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.