Politik Bak Film Hollywood

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jika kita simak dan perhatikan sejak penangkapan AA pada Minggu (23/3/2019) kemarin banyak keganjilan.

Soal penangkapan politisi Demokrat  Andi Arief menggunakan narkoba di Tivi begitu heboh diberitakan di tivi maupun media portal online.

“Namun apa sebegitu spesialnya kah? Apa kabarnya dengan politisi lainya yang duluan diberitakan?. Perasaan gak seheboh ini banget deh,” ucap salah satu rekan saya yang menyaksikan siaran langsung disalah satu televisi Polri melakukan proses pemeriksaan wasekjen partai mercy itu di Bareskrim Khusus Mabes Polri, Senin (24/3/2019) malam.

Jika kita simak dan perhatikan sejak penangkapan AA pada Minggu (23/3/2019) kemarin banyak keganjilan. Keganjilan pertama ialah bareskrim melalui Kepala Bareskrim Polri Komjen Idham Azis. Dirinya begitu cepat menyimpulkan keterangan soal AA diamankan bersama seorang perempuan, namun setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, polri mengklarifikasi tidak ada orang lain (wanita) yang diamankan selain AA.

Tentu sebagai orang awam saya melihat Polri bekerja sangat TIDAK professional dalam memberikan keterangan kepada awak media. Sehingga banyak menimbulkan spekulasi-spekulasi liar bertebaran di media social. Terlebih Twitter.

Keganjilan kedua ialah, Polri dalam hal ini menyatakan tidak adanya alat bukti sabu disaat penggeledahan di kamar tempat AA menginap. Tetapi ditemukan alat bong (hisap sabu) dan satu buah tas wanita.

Terus, apa bisa polri menyimpulkan jika itu punya orang lain? Dan Polri menyatakan AA melalui tes urine hasilnya positif menggunakan shabu. Kok aneh ya rasanya, terdapat keterangan tidak masuk akal! Akhirnya hanya keterangan diduga. Dan rekomendasinya AA harus di Rehab, namun dampak kepada diri AA sebagai kader Demokrat tentu sudah buruk dimata relasi. Terkhusus bagi partai Demokrat. 

Di tahun politik seperti sekarang ini segala cara akan dilakukan untuk memenuhi hasrat berkuasa. Tak jarang kehidupan politik tersebut seperti di film-film holywod yang saya tonton. Saling jebak menjebak akan dilakukan untuk melumpuhkan lawan politik. Tak terkecuali jelang pileg dan pilpres 2019 mendatang.

Sabotas atau apalah namanya menggambarkan politik di Indonesia sudah sangat suram dan berbahaya. Partai Demokrat sebagai partai besar yang selalu dizolimi lawan politiknya harus tetap bersabar. Padahal, SBY selaku ketua umum sudah mengatakan tidak ikut dalam ajang pilpres 2019, kenapa masih saja menyerang partai yang didirikannya sejak 2004 itu?

Saya yakin seyakin-yakin nya. Kekuasaan Allah SWT akan menjawab semua kegelisahan saya sebagai masyarakat peduli politik tanah air. Padahal jika kita melihat kebelakang beberapa tahun belakangan, politisi lain sudah terlebih dulu ditangkap karena barang haram tersebut. Tapi kenapa nama Andi Arief begitu kencang digoreng oleh media massa tanah air?

Kader di Partai penguasa contohnya. Salah satu partai besar yang kadernya terciduk sebagai salah satu bandar narkoba kelas kakap adalah Nasdem. Kejadian itu terjadi pada pertengahan tahun 2018 lalu. Seorang anggota DPRD Langkat Fraksi Partai Nasdem bernama Ibrahim Hasan terciduk menyelundupkan 105 Kg sabu-sabu dan 30 butir pil ekstasi bewarna biru. Tapi kenapa tidak seheboh tertangkapnya Andi Arief?

Kemudian kader lainya dari Partai Golkar. Kader ini ditangkap di polres Tanjung Balai. Kasusnya pun cukup besar yakni jaringan internasional. Tak tanggung-tanggung, pelaku berinisial AG tersebut terbukti memiliki sabu seberat 15 kilogram.

Terus ada kader dari penguasa juga bernama Rika Verawati hampir pasti mengubur mimpinya untuk menjadi anggota DPRD Kabupaten Kuningan. Rika yang merupakan caleg PKB ini tersandung kasus narkoba.

Rika ditangkap Satres Narkoba Polres Cirebon karena kedapatan menjadi pengedar sabu. Saat ditangkap, ada satu paket sabu di tangan Rika.

Caleg asal Partai Hanura Dapil 5 Bone yakni Andi Ikbal alias Andi Baso Binti Andi M Dahlan (44) pada 2014 lalu. Juga berasal dari partai penguasa (koalisi pendukung Jokowi).

Selain diduga sebagai kurir sabu Dia juga merupakan penikmat sekaligus merupakan rekan bandar narkoba lintas Kabupaten, Sinjai, Bulukumba dan Bone yakni Ambo Petta Tinring Binti Jamaluddin (39). Ambo Petta adalah warga Jl Sunu, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai yang Ditangkap di BTN Biru Indah Permai, Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang.

Dan yang terakhir keterlibatan Ketua DPC PDIP Blora, Colbert Mangara Tua alias Hariman Siregar dalam pengungkapan yang dilakukan Direktorat Tindak Pidana (Dit Tipid) Narkotika terhadap sindikat 400 ribu butir ekstasi oleh Mabes Polri.

Setelah menjadi misteri akhirnya mengakui keterlibatan Colbert. Padahal sebelumnya, Bareskrim kerap bersikukuh tidak ada tersangka bernama Colbert dalam pengungkapan tersebut.

Jadi apa yang special dari ANDI ARIEF? Kenapa begitu media heboh banget sih dengan penangkapan yang baru diduga bukan pemakai!

 

 

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler