Kasus Audrey dan Sanksi Sosial - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Kasus Audrey dan Sanksi Sosial

    Dibaca : 280 kali

     

    Melalui sebuah akun media sosial, kasus yang dialami Audrey di kota Pontianak segera menyedot perhatian netizen. Rasa simpati dengan cepat menguar dan kabar dari akun itupun viral tak terbendung. Respon berdatangan dari beragam pihak, termasuk selebritas yang tampak berlomba menunjukkan perhatian kepada Audrey.

    Di media sosial pula, pelaku penganiayaan yang disebut berjumlah 12 remaja dikecam. Komentar yang sangat sengit biasanya memang sukar dibendung. Sebagian pelaku mengaku telah dibuli lewat medsos dan bahkan merasa telah diancam akan dibunuh—pengakuan yang harus diperiksa kebenarannya. Mereka juga mengaku tidak melakukan penganiayaan, melainkan berkelahi satu lawan satu—pengakuan yang juga harus dicek kebenarannya.

    Ada pelajaran berharga yang dapat diambil dari peran media sosial dalam menyebarluaskan peristiwa semacam ini. Bahwa kejadian tersebut segera memperoleh perhatian dan penanganan oleh pihak-pihak berwenang jelas merupakan sisi positifnya. Persoalan muncul ketika netizen menerima informasi tersebut tanpa sikap kritis dan tanpa pembanding dari sumber-sumber lain namun memberi respon reaktif.

    Netizen umumnya cenderung menganggap informasi yang beredar benar sepenuhnya. Netizen condong untuk segera bereaksi ketika mengetahui kabar yang menyentuh sisi kemanusiaan tanpa didasari kecukupan informasi, padahal kecukupan informasi akan menentukan proporsi dan kadar reaksinya. Sikap berlebihan dalam memberi tanggapan mungkin saja dikarenakan ketidakcukupan informasi. Misalnya, tersiar kabar tentang perusakan alat vital, yang ternyata tidak benar.

    Betapapun kita tidak menyukai kandungan sebuah informasi, bersikap adil tetap diperlukan dengan pertama-tama mencari kebenaran isinya. Dalam konteks kasus Audrey, kita perlu meletakkan persoalan pada proporsinya—tidak mengurangi dan tidak melebih-lebihkan. Juga sangat penting untuk mendengarkan versi kejadian dari sudut pandang pelaku. Sangat banyak orang yang belum mengetahui persis seperti apa kejadiannya, atau menerima informasi sepotong-sepotong, tapi bereaksi keras.  Penting untuk mendengarkan sumber yang valid dan akurat mengenai suatu kejadian sebelum kita bersikap dan berkomentar yang mungkin jadi berlebihan.

    Tidakkah kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah media dan publik—kita, dalam hal ini melalui komentar-komentar kita—telah mengekspos kejadian secara tidak adil? Anak-anak remaja itu memang telah melakukan kesalahan, tapi perlu juga diingat bahwa anak-anak itu masih punya masa hidup yang panjang (bila Allah menghendaki) dan masih terbuka peluang bagi mereka untuk memperbaiki perilaku. Tanpa mengurangi rasa empati dan simpati kepada Audrey, yang mengalami peristiwa traumatis ini, remaja pelaku itu mungkin juga tidak akan mudah melepaskan diri dari ingatan buruk mengenai perilaku mereka. Ini akan menjadi hukuman yang berbekas lama.

    Di sisi lain, remaja pelaku kekerasan itu juga mempunyai hak untuk berubah menjadi lebih baik, jadi berilah kesempatan. Sanksi sosial sejauh ini sudah diberikan melalui media sosial, dan mudah-mudahan saja mereka dapat memetik pelajaran berharga. Hal penting selanjutnya ialah memulihkan kondisi Audrey secara fisik maupun psikologis, serta tidak menjadikan para pelakunya korban baru perundungan yang dilakukan oleh masyarakat, yang berpotensi pada memburuknya perilaku mereka. Ini hanya akan menambah korban-korban baru. Tidak kalah penting ialah melakukan perenungan: “Apakah yang sebenarnya sedang terjadi dalam masyarakat kita? Apakah ini fenomena biasa ataukah merupakan tanda-tanda yang harus dicermati? Mungkinkah Audrey dan remaja pelaku itu korban dari ketidakberesan dalam masyaraakat kita?” **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.