x

UIN Yogyakarta

Iklan

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 6 Agustus 2019 17:01 WIB

Catatan dari The 1st International Confrence on Islamic Guidance and Counseling (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

The 1st International Conference on Islamic Guidance and Counseling dengan tema Islamic Counseling Without Border telah selesai diselenggarakan pada 19 November 2018 di Convention Hall Building UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menjadi salah satu presenter dalam agenda tersebut merupakan salah bentuk proses pembelajaran dan menghasilkan banyak catatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Catatan dari The 1st International Confrence on Islamic Guidance and Counseling (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Oleh : Tatang Hidayat*)

The 1st International Conference on Islamic Guidance and Counseling dengan tema Islamic Counseling Without Border telah selesai diselenggarakan pada 19 November 2018 di Convention Hall Building UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menjadi salah satu presenter dalam agenda tersebut merupakan salah bentuk proses pembelajaran dan menghasilkan banyak catatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Setelah sehari sebelumnya saya berkeliling kota Yogyakarta, maka pada hari Senin 19 November 2018 tibalah untuk menghadiri agenda inti yakni The 1st International Conference on Islamic Guidance and Counseling. Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bertindak sebagai keynote speaker. Adapun pembicara utamanya ialah Nizeyumikiza Emanuel, M. Sc. (Burundi, East Africa), Dr. Md Noor bin Saper (President of Syar’I Counseling Malaysia), dan Nanag Erma Gunawan (Lecturer of Yogyakarta State University).

Nizeyumikiza Emanuel, M. Sc. memaparkan bawa konseling berfungsi untuk membantu seseorang untuk menyelesaikan permasalahan dan mengurangi rasa stress yang ada dalam dirinya. Konselor membantu mereka dalam segi pendidikan dan untuk kesejahteraan mereka.

Adapun Dr. Md Noor bin Sapep memaparkan bahwa dalam dunia barat  terbagi dua konseling, ada religius konseling dan spiritual konseling.  Islam bukan hanya sekedar agama, dan aturannya bukan hanya sekedar cocok untuk  umat Islam saja, padahal cocok untuk semua orang dan bangsa, baik dari segi isi, dan teknis dalam ajaran Islam. Agama sangat cocok dengan fitrah manusia, bila kita lihat satu contoh mengenal satu film, sebuah kapal titanic berada di lautan, sampai ada yang mengatakan Tuhan tidak bisa melakukan apa-apa,ketika hancur kapal itu, dan ternyata yang dikatakan Rose dan Jak, mereka katakan “Oh My god”. Why ? karena agama memang sangat cocok dengan fitrah manusia, dalam konseling harus ada elemen yang dikaitkan agama.

Sedangkan Nanang Erma Gunawan, M. Ed. Memaparkan bahwa  ada banyak perdebatan posisi konseling, hanya saja sering kali konseling ini dipandang sebelah mata, karena dianggap mungkin tidak memiliki kecakapan yang tidak sesuai, untuk menghendle. Banyak negara yang menaruh perhatian sedikit untuk baget terhadap kesehatan mental, apalagi profesional yang ada, jumlahnya masih sedikit. Dimana peran konseling ? beberapa literature mengatakan konseling adalah provesi peran mental, ada yang mengatakan fungsi psikolog, dan fungsi perawat.

Menambahkan Nanang Erma Gunawan, M. Ed. bahwa yang menarik disini, paradigma konseling menganggap suatu kunci psikologi berubah, konsep tersebut dibantah seburuk apapun individu memiliki sisi positif, yang mana itu merupakan satu sumbu, ujung satu dan yang lain jadi gangguan. Sebenarnya konseling itu menjadi alternatif, karena di setiap masyarakat sudah punya sistem untuk membantu orang lain. Missal orang datang ke ulama, dan konselor tidak bisa menggantikan peran ulama tersebut. Konselor berperan untuk menambahi apa yang belum ada yang disampaikan oleh ulama ketika menyelesaikan permasalahan orang yang data kepadanya.

Setelah pembicara utama memaparkan gagasannya, seminar pun diwarnai dengan diskusi yang cukup menarik. Nampak dari peserta mengajukan berbagai pertanyaan kepada pembicara, begitupun para pembicara bisa menjawab dengan singkat, padat dan jelas. Setelah agenda diskusi selesai, maka sesi pertama selesai dan diselangi dengan shalat, istirahat dan makan, sebelum dilanjutkan sesi seminar pararel.

Setelah waktu istirahat cukup, maka tibalah pada agenda selanjutnya yakni sesi seminar pararel, yakni sesi dimana para peneliti untuk menyampaikan hasil penelitiannya dalam sebuah forum. Adapun pesertanya terdiri dari presenter dari berbagai kampus dan mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam seminar kali ini saya menyampaikan hasil penelitian yang berjudul Alternatif Tindakan Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar (Studi Kasus di SMA Negeri 15 Bandung). Saya kebagian tempat seminar di Gedung Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan tak disangka ternyata saya orang pertama yang mesti memaparkan makalahnya.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa kesulitan belajar yang dialami oleh siswa disebabkan beberapa hal, diantaranya : kurangnya motivasi dalam belajar, semangat yang sering naik turun, latar belakang keluarga, kurang suka dengan salah satu mata pelajaran sehingga tidak dimengerti, sering tidak masuk sekolah, keadaan kelas yang kurang kondusif, dan memiliki riwayat penyakit tertentu. Pada dasarnya setiap kesulitan belajar yang dialami oleh siswa dapat diatasi, salah satunya melalui bimbingan dan konseling Islam yakni dengan proses pemberian bantuan berupa bimbingan dan nasehat kepada individu, baik yang mengalami masalah ataupun tidak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri supaya senantiasa selaras dengan ketentuan dan petunjuk yang berlandaskan ajaran Islam.

Metode bimbingan dan konseling Islam diantaranya konseling Alquran, terapi ṣalat, pembiasaan zikir, dan pembiasaan amal ṣalih lainnya melalui pendekatan tasawuf. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengirimkan siswa yang mengalami kesulitan belajar ke Pondok Pesantren Salafiyah, supaya bisa belajar dalam pembiasaan mengamalkan berbagai amal ṣalih dan menjauhi kemaksiatan. Adapun strategi dalam mendekati siswa yang mengalami kesulitan belajar yakni dengan cara yang halus dan mudah dimengerti, dengan menggunakan tiga metode yaitu al-hikmah, maui’ẓah hasanah, dan mujādalah.  Implikasinya bimbingan dan konseling Islam sangat penting untuk dipelajari, dihayati, dipahami, dikembangkan dan diimplementasikan dalam mengatasi kesulitan belajar.

Setelah menyampaikan hasil penelitian, kemudian dilanjutkan dengan diskusi, dan karena waktunya terbatas maka diskusi dicukupkan hanya untuk satu pertanyaan, dan presentasi dilanjutkan dengan presenter selanjutnya. Setelah semua para presenter selesai menyampaikan hasil penelitiannya, acara dilanjutkan dengan penutupan. Akhirnya acara dari pagi sampai sore selesai dengan lancar, begitu banyak pengalaman yang didapat, apalagi bisa bertemu para peneliti dan mahasiswa dari berbagai institusi.

Setelah acara selesai, saya tidak langsung pulang, tetapi menyempatkan waktu untuk berkeliling di kampus  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, namun karena  keterbatasan waktu, saya tidak bisa menyempatkan untuk mengunjungi semua fakultas, dikarenakan saya harus segera menuju stasiun untuk pulang, karena jadwal keberangkatan kereta sebentar lagi. Akhirnya saya segera menuju Stasiun Lempuyangan, jadwal keberangkatan pukul 18.15 dan diperkirakan sampai Bandung pukul 02.42.

Begitu banyak pesan yang didapat dari Kota Yogyakarta, berkesan kotanya, sangat baik dan ramah orang-orangnya, sehingga sepanjang perjalanan dari Yogyakarta dan Bandung sulit bagi saya untuk melupakan Yogyakarta, kota dimana menyimpan sejuta kisah dan keunikan didalamnya. Suatu saat saya pasti kembali, kembali untuk belajar di Kota Yogyakarta, kotanya Pergerakan. Wallahu ‘Alam bi ash-Shawab.

*)Presenter dari Prodi PAI SPs UPI

 

 

Ikuti tulisan menarik Tatang Hidayat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB