x

Seorang mahasiswa bersalaman dengan anggota Polwan saat aksi unjuk rasa mahasiswa dan pelajar di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis, 26 September 2019. Di tengah aksi demonstrasi mahasiswa menolak RUU bermasalah, terdapat beberapa momen keakraban antara polisi dan mahasiswa. ANTARA

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 30 September 2019 13:30 WIB

Jangan Korbankan Kemanusiaan Kita!

Bagian penting yang terlupakan dari segala kehebohan yang tengah berlangsung ini ialah bagaimana kita seharusnya tetap mampu menjaga kemanusiaan kita, selalu mengingat bahwa kita manusia dan orang lain juga manusia. Tak perlulah kekerasan itu.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Demonstrasi memang berpotensi memicu terjadinya aksi kekerasan, dari yang ringan seperti pelemparan batu hingga yang membikin hati miris seperti pengeroyokan terhadap seseorang yang telah lunglai. Ketegangan yang berlangsung berjam-jam, yang membuat semua orang menjadi letih secara fisik maupun psikis, memang berpotensi memicu adrenalin dan membangkitkan kemarahan. Aksi kekerasan seringkali terjadi ketika pikiran jernih mulai digerus oleh rasa lelah dan amarah, hingga hasrat untuk merusak dan menghancurkan pun tak sanggup lagi dicegah.

Dari foto dan video yang beredar secara umum kita dapat menyaksikan betapa kemanusiaan kita pada titik tertentu dikalahkan oleh amarah. Amarah itu dilampiaskan melalui aksi kekerasan terhadap benda lain maupun orang lain—menjadikan manusia lain sebagai objek kekerasan. Suasana chaos dijadikan pembenar bagi aksi kekerasan yang pada titik tertentu membuat kita yang menyaksikan terhenyak dan bertanya: “Bagaimana bisa ia atau mereka melakukan tindakan seperti itu?”

Demonstrasi yang melibatkan massa cenderung menjadikan manusia inidividual kehilangan identitas dirinya sebagai makhluk yang dilengkapi akal dan hati nurani—dua unsur penting yang membedakannya dari makhluk lain lantaran tingkatannya yang lebih tinggi. Akal dan nurani yang tenang dan sehat membuat manusia mampu memilah apakah sebuah tindakan itu baik bagi kemanusiaan atau sebaliknya, menghancurkannya. Individu yang terjun ke dalam massa sangat mungkin terbawa arus massa—massa, dalam pengertian ini, bukan hanya massa demonstran tapi juga massa aparat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Manusia individual akan mengalami perubahan manakala terjun ke dalam massa—massa demonstran maupun massa aparat keamanan. Tingkat keberanian yang biasanya relatif rendah akan meningkat ketika massa mulai bergemuruh—massa demonstran dengan teriakan tuntutan dan yel-yelnya, massa aparat dengan suara derap sepatu larsnya. Kedua massa membangun spiritnya, yang pada titik tertentu membuat kita lupa bahwa kita ini sama-sama rakyat sebangsa dan sama-sama manusia yang sangat mungkin satu sama lain memiliki pertalian darah yang dekat.

Tatkala berada di medan demonstrasi yang panas, kita saling berhadapan seolah kita ini saling memusuhi hanya karena kita sedang menjalankan peran kita masing-masing. Dalam drama kehidupan yang berlangsung singkat, apa lagi dalam demonstrasi, peran kita mungkin saja berbeda. Massa mahasiswa menuntut apa yang dianggap benar, aparat pun melakukan apa yang dianggap benar. Namun perbedaan itu semestinya tidak merusak kesamaan yang kita punya: rasa kemanusiaan. Dua kebenaran dari sudut pandang peran yang berbeda itu tidak semestinya membuat keduanya saling marah, sebab ada kebenaran lain yang menyatukan: rasa kemanusiaan.

Amarah yang dahsyat mampu meruntuhkan akal dan hati nurani hingga ke tingkat yang sangat rendah. Kita memperoleh kepuasan saat melempar, memukul, menendang, dan mengeroyok seolah objek kekerasan kita itu bukan manusia. Saat itu terjadi, tidakkah kita ingat dan membayangkan bahwa suatu saat di suatu tempat mungkin saja objek kekerasan itu adalah anak kita, adik dan kakak kita, atau bahkan ayah dan ibu kita. Barangkali, ingatan ini dapat membantu kita meredakan amarah dan menghentikan kekerasan, memulihkan kembali kemanusiaan kita, menormalkan kembali rasa sayang kita kepada sesama manusia.

Bagian penting yang terlupakan dari segala kehebohan yang tengah berlangsung ini ialah bagaimana kita seharusnya tetap mampu menjaga kemanusiaan kita, selalu mengingat bahwa kita manusia dan orang lain juga manusia.

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler