Fahri Hamzah Bikin Resah, Pemberantasan Korupsi Fiksi, dan Bertanya Siapa Koruptor Sejati - Analisa - www.indonesiana.id
x

Fahri Hamzah

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 8 Oktober 2019 13:09 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Fahri Hamzah Bikin Resah, Pemberantasan Korupsi Fiksi, dan Bertanya Siapa Koruptor Sejati

    Dibaca : 50 kali

    Siapa yang akan menyangkal, bahwa tokoh di balik pengetukan palu disahkannya revisi UU KPK, adalah Fahri Hamzah. Saat memimpin sidang pengesahan revisi UU KPK di depan anggota dewan yang juga disorot kamera telivisi dan disaksikan jutaan rakyat Indonesia, dia begitu enteng dan terlihat begitu ngotot revisi UU KPK disahkan.

    Seharusnya, mahasiswa dan rakyat sipil mendemo dan menggadapi Fahri saja langsung karena dialah salah satu aktor utama pengesahan revisi UU KPK itu.

    Kini dia sudah lengser dan tak memiliki imunitas kekebalan berbicara di depan publik. Namun begitu, dasar karakter, dan masih ambisi dengan niat membikin partai, Fahri masih saja berkicau. Bahkan terbaru, lewat cuitannya, Fahri meganggap penangkapan koruptor sebagai fiksi pemberantasan korupsi di Indonesia. Parah dan keterlaluan. Fahri harus dihentikan dan jangan dibiarkan banyak berkicau. Nambah kisruh saja.

    Apa masalahnya bila ternyata KPK menemukan bukti dan menangkap koruptor yang memang wajib bersih dari bumi pertiwi? Meski yang ditangkap justru orang-orang yang dikenal bersih, bahkan mendapatkan anugerah antirasuah? Mengapa dan apa salahnya bila KPK ?menetapkan tersangka Direktur Utama Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro terkait korupsi pengadaan pekerjaan jasa konsultasi?

    Mengapa Fahri harus kebakaran jenggot hingga dalam laman artikel yang di-retweet Fahri Hamzah, Djoko Saputro ternyata pernah menyabet penghargaan Revolusi Mental Award sebagai salah satu the best leader?

    Hingga Fahri Hamzah melalui cuitannya di akun jejaring sosial Twitter @Fahrihamzah, menganggap fenomena ini termasuk fiksi pemberantasan korupsi di Indonesia.

    Tengok apa yang diujarkannya,

    "Tertangkapnya orang-orang yang dikenal bersih bahkan mendapat anugerah (award) antikorupsi (dari lembaga pemerintah atau swasta) atau mendapat opini WTP (opini terbaik) dalam pengelolaan uang/aset negara dari BPK adalah termasuk di antara fiksi pemberantasan korupsi di INDONESIA," cuit Fahri Hamzah melalui akun @Fahrihamzah, hari ini, Senin (7/10/2019).

    Aneh dan di luar nalar, orang seperti Fahri justru mempertanyakan banyak orang yang dikenal bersih malah tertangkap, lalu di mana penjahat dan koruptor sejati?

    "Kalau orang yang dikenal bersih tertangkap..kalau orang yang mendapat award bersih dan pengelola keuangan yang baik juga tertangkap, apa yang sebenarnya terjadi? Lalu dimana penjahat dan koruptor sejati? Kenapa sama saja? Atau malah bebas? Adalah serangkaian pertanyaan sulit dijawab," kicau Fahri Hamzah.

    Kicauan Fahri ini sungguh hanya memancing kisruh saja. Kicauan Fahri pun mengingatkan pada kelakar di lingkungan masyarakat bahwa saat orang-orang yang mengerti dan paham agama juga melakukan tindak korupsi, sebab mereka tahu caranya bertobat.

    Jadi, saudara Fahri yang saya hormati, mengapa anda bertanya hal logis dan dibikin seolah mustahil dan tidak masuk akal?

    Biar sudah mendapat award dan sebagainya, mengapa harus dibela bila faktanya korup? Kok Anda tanya di mana koruptor sejati? Kok Anda bilang fiksi?

    Anda juga mau melindungi orang partai yang ahli korup dengan ngotot mengesahkan revisi UU KPK.

    Mungkin harus ada yang menghentikan Fahri agar tidak semakin ngawur dan membikin geram rakyat.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.