Jika Gerindra Masuk Kabinet, Perlukah Rakyat Kecewa? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo mengundang Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat 11 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 14 Oktober 2019 15:03 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Jika Gerindra Masuk Kabinet, Perlukah Rakyat Kecewa?

    Dibaca : 1.396 kali

    Banyak hal berubah cepat setelah pilpres dan pileg, banyak pula agenda yang tidak pernah diungkap saat itu tiba-tiba mencuat, seperti revisi UU KPK dan amendemen konstitusi. Para elite politik yang semula berkompetisi dan berebut dukungan rakyat tiba-tiba saling bersekutu dan mengabaikan aspirasi rakyat. Mereka kompak dalam agenda revisi UU KPK walaupun ditentang oleh rakyat—kekompakan ini hanya mungkin terjadi karena kesamaan kepentingan di antara mereka.

    Dalam beberapa hari terakhir menjelang pelantikan Jokowi untuk periode kedua kepresidenan, 20 Oktober, pertemuan antar elite terlihat semakin intensif. Mungkinkan pertemuan Prabowo-Jokowi dan SBY-Jokowi akan memengaruhi susunan kabinet yang sudah atau sedang disusun, rakyat tidak tahu. Dan jikalaupun Gerindra serta Demokrat akhirnya memperoleh kursi kabinet, perlukah rakyat yang memilih keduanya merasa kecewa?

    Rakyat umumnya percaya bahwa demokrasi yang sehat mestilah ada perimbangan kekuasaan antara pemerintah dan DPR, sehingga DPR dapat berperan mewakili rakyat untuk mengontrol jalannya pemerintahan oleh eksekutif. Namun kepercayaan ini tampaknya akan tergerus oleh kenyataan bahwa mayoritas anggota DPR mewakili partai pengusung Jokowi, dan mungkin saja dapat ditambah dengan anggota DPR dari Gerindra dan Demokrat jika ada wakil dari kedua partai atau salah satunya di kabinet yang baru.

    Sejauh ini, hanya PAN dan PKS yang tidak diajak ngobrol oleh presiden terpilih. Kedua partai ini akan menjadi minoritas di DPR yang tidak akan mampu menjadi kekuatan penyeimbang yang mengingatkan jika jalannya pemerintahan kurang baik. Lagi pula, berharap bahwa kedua partai tersebut akan jadi penyeimbang mungkin juga terdengar muluk, sebab dalam sejumlah isu strategis, keduanya kompak seperti halnya partai-partai lainnya. Kesamaan kepentingan mereka telah menjadikan revisi UU KPK berjalan mulus tanpa rintangan sekecil apapun.

    Rakyat sudah terbiasa diombang-ambingkan oleh sikap elite politik yang berubah-ubah tergantung arah angin. Sudah terlihat jelas bahwa elite politik tidak menjadikan aspirasi sebagian besar rakyat sebagai kompas yang memandu sikap mereka. Mereka punya mesin penghitung sendiri yang bekerja atas dasar kepentingan mereka sendiri. Berharap bahwa Presiden akan berdiri tegak di sisi rakyat, tampaknya juga bisa membikin hati semakin nelongso.

    Mengingat semua itu, masih pentingkah menanti sikap Gerindra apakah akan bergabung atau tidak dengan barisan pemerintahan Jokowi? Masih perlukah rakyat kecewa bila Gerindra akhirnya memilih untuk masuk ke dalam pemerintahan Jokowi? Rasa-rasanya, rakyat sudah mulai terbiasa harapannya diombang-ambingkan oleh sikap para elite politik yang lebih banyak berpikir dalam bingkai kacamata kepentingan mereka. Bukan hanya dalam soal koalisi atau oposisi, tapi juga dalam isu-isu yang lain.

    Jadi, apabila ternyata para elite lebih suka ngobrol di antara mereka sendiri untuk, dalam istilah keren yang sering mereka pakai, “membicarakan masa depan bangsa”, maka menjadi semakin jelaslah bahwa rakyat memang harus memperjuangkan nasib dan martabatnya sendiri. Rakyat tidak perlu lagi berharap banyak kepada elite politik maupun elite-elite lainnya dan tak perlu lagi kecewa jika tiba-tiba mereka berubah sikap. Banyak berharap dan sering kecewa karena sikap elite politik hanya akan membikin kita stres sendiri. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.