Pemimpin yang tidak Mempermainkan Harapan Rakyatnya - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 4 November 2019 23:23 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pemimpin yang tidak Mempermainkan Harapan Rakyatnya

    Dibaca : 654 kali

     

    Di tengah zaman yang berubah cepat, di negeri manapun, rakyat membutuhkan pemimpin yang hadir dan terjangkau. Hadir bukan dalam pengertian wajahnya selalu tampak di layar televisi dan media cetak serta online, atau mengirim cuitan di twitter, melainkan ia ada ketika rakyat memerlukan dukungannya, ia menanggapi dengan cepat keluhan rakyatnya, ia tidak akan berkelit, bersikap seolah-olah, dan menunda-nunda mengambil keputusan penting yang ditunggu-tunggu rakyatnya.

    Pemimpin yang mencintai rakyatnya akan berusaha menyelami perasaan dan pikiran rakyat, merasakan kecemasan rakyat, berempati pada penderitaan rakyat, membela yang lemah dan terpinggirkan, menekan yang kuat agar tidak semena-mena menggunakan kekuatannya, menunjukkan dan memimpin rakyat ke jalan yang benar, serta meluruskan apa yang bengkok. Jika ia membiarkan yang bengkok terus berjalan, apa lagi diam-diam mendukungnya, maka ia telah melalaikan kewajiban pemimpin sebagai penunjuk jalan [show the way].

    Pemimpin yang hadir dan amanah selalu menjadikan kebenaran dan keadilan bagi rakyat sebagai pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Ia tidak galau dan cemas memikirkan pendapat teman sejawatnya. Ia tidak akan ‘menyuap’ teman sejawatnya dengan jabatan hanya agar mereka tidak ribut dan membikin repot. Bahkan ia akan hadapi kerepotan itu agar keadilan bagi rakyat dapat ditegakkan, sebab ia berpikir tentang masa depan yang baik bagi rakyatnya, bukan kelanggengan kuasanya dan bukan rasa senang teman sejawatnya.

    Pemimpin yang terjangkau [affordable] membuat rakyat merasa dekat dengannya, sebab rakyat memperoleh perhatian utama dari pemimpinnya dibanding yang lain. Ia tidak akan meremehkan cita-cita rakyatnya, memain-mainkan harapan rakyatnya, dan ia tidak akan pernah memanipulasi rakyatnya. Rakyat adalah sandaran manakala ia merasa lelah, rakyat adalah sumber semangat tatkala ia nyaris putus asa, dan rakyat adalah inspirasi baginya ketika pikiran sedang pening. “Siapalah saya tanpa rakyat,” adalah buah renungan setiap pemimpin manakala ia tengah sendirian, dan itu menjadi pengingat, mestinya.

    Keterjangkauan merupakan manifestasi kerendah-hatian pemimpin yang peka dalam merasakan apa yang dirasakan dan dipikirkan rakyat. Ia tidak merasa paling tahu dan paling benar, sehingga dengan senang hati mendengarkan suara-suara yang tidak setiap hari ia dengar—yang memang tidak selalu menyenangkan. Terjangkau itu bermakna mudah ditemui, mau mendengarkan, tidak meremehkan, tidak mendiamkan, serta tidak merasa benar sendiri.

    Pemimpin yang terjangkau akan berempati pada penderitaan yang dialami rakyatnya: kemiskinan, terpinggirkan, diabaikan, kehilangan pekerjaan, hingga kematian karena kekerasan. Pemimpin yang terjangkau akan berusaha keras memastikan bahwa rakyatnya merasa aman dan benar-benar aman, tidak membiarkan mereka menderita tanpa berempati, sebab ia percaya bahwa ia terpilih karena rakyat memercayai dirinya—ia tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan dan amanah itu. Karena itu, ia semestinya juga percaya bahwa ia tidak boleh berpaling dari rakyat, sebab hal itu merupakan pengingkaran terhadap asal-usulnya dan sungguh merupakan perilaku yang tidak sopan. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.