Majunya Bobby Nasution dan Gibran ke Pilkada 2020 Tak Salah. Bagaimana Secara Etika Politik? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 5 Desember 2019 08:41 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Majunya Bobby Nasution dan Gibran ke Pilkada 2020 Tak Salah. Bagaimana Secara Etika Politik?

    Dibaca : 2.069 kali

    Akhirnya, menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) Bobby Nasution mendaftarkan diri ke Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sumatera Utara untuk maju dalam pemilihan Wali Kota Medan 2020.

    Bobby Nasution mengaku mertuanya, Presiden Jokowi. tak mempersoalkan langkah politiknya tersebut. "Kalau masalah restu, pak Jokowi, kan, anak menantunya terserah mau jadi apa, mau ke bisnis, birokrat, profesional, terserah," kata dia di Kantor DPD PDIP Sumut, Medan, Selasa, 3/12.

    Langkah politik Bobby ini mendapat sorotan kembali, seperti halnya ketika putera Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, dulu menunjukkan minatnya untuk maju dalam Pilkada Wali Kota Solo. Langkah dua anggota keluarga Jokowi ini dinilai sebagai ikhtiar membangun dinasti politik. Selain itu juga ada yang mempersoalkan aspek etika politik-nya.

    Sorotan itu tak ayal menuai respon dari Istana Kepresidenan. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan majunya Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution bukan dalam rangka untuk membangun dinasti politik keluarga Jokowi. Kata dia, Gibran dan Bobby hanya menjalankan hak politiknya sebagai warga negara.

    "Ini kan proses pembelajaran politik bagi masyarakat. Jadi jangan terus menjustifikasi dinasti politik," kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 4/12. Moeldoko menjamin tak akan ada campur tangan dari Istana. "Itu kan balik lagi hak politik seseorang. Terserah.”

    Bagaimanapun Bobby dan Gibran memang punya hak untuk maju dalam Pilkada 2020. Demokrasi memungkinkan hal itu. Tetapi benarkah tak ada problem etika politik dalam soal ini?

    Kita bisa berandai-anda, kalau saja Joko Widodo saat ini tidak menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia apakah Gibran dan Bobby tetap punya niatan maju dalam Pilkada 2020? Andikan Joko Widodo bukan presiden, dan keduanya tetap maju sebagai calon kepala daerah dalam Pilkada, kalkulasi politik seperti apakah yang membuat mereka yakin bisa menang?

    Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mengatakan realitas politik Indonesia mirip klan perguruan pencak silat. "Kekuatan klan itu yang selalu menjadi magnet elektoral utama bahkan penentu kemenangan," ujar Adi kepada Tempo. Sehingga nama-nama seperti Bobby Nasution, juga akan diuntungkan.

    Pada saat yang bersamaan, kata dia, budaya politik Indonesia masih permisif dan tidak terlampau melihat rekam jejak kandidat sebagai preferensi utama menentukan pilihan politik. "Faktor utama yang dilihat karena klan dan trah politik keluarga besar itu. Jadi, kans menang itu terbuka," ujar Adi.

    Ada yang berpendapat bahwa gejala berkembangnya dinasti politik telah mencederai esensi demokrasi. Sudah jadi pemahaman umum bahwa demokrasi dicirikan tiga karakter, yakni pembagian kekuasaan ala trias politika (eksekutif, yudikatif dan eksekutif), suksesi kepemimpinan yang terbuka, dan rakyat adalah pemegang kedaulatan--bukan pemerintah apalagi politisi.

    Membiaknya dinasti politik dicemaskan bakal mengancam tiga pilar demokrasi tersebut. Misal, asas  check and balances tidak berjalan efektif dan peralihan kekuasaan hanya terjadi seperti giliran antara kerabat atau oligark saja.

    Setelah era reformasi berusia lebih 20 tahun, kini ternyata kita kembali menghadapi munculnya benih-benih karakter politik ala Orde Baru. Tak ada jalan lain, alarm demokrasi harus terus dinyalakan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.