x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 18 Desember 2019 09:12 WIB

Kuliah Sambil Menulis, Mahasiswa Unindra Unjuk Buku Liputan Jurnalistik

Gak mudah kuliah sambil menulis. Mahasiswa Unindra pun unjuk buku liputan jurnalistik dalam tajuk "Negeri hancur Akibat Korupsi"

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa bilang kuliah tidak bisa sambil berkarya?

Banyak orang berpikir, kuliah dan menulis adalah dua hal yang sulit disatukan. Kuliah ya kuliah, menulis ya menulis. Pantas banyak mahasiswa merasa tetap tidak bisa menulis. Kuliah bersemester-semester pun tidak mampu menghasilkan karya tulis.

Maka untuk membantah realitas itulah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) membuktikan melalui buku karya jurnalistik berjudul Negeri Hancur Akibat Korupsi, sebuah laporan investigasi jurnalistiak 120 mahasiswa PBI FBS Unindra dalam mengungkap fakta praktik korupsi yang terjadi di masyarakat. Berbekal buku pegangan kuliah “Jurnalistik terapan” karya Syarifudin Yunus, yang sekaligus dosen yang mengajar mereka, maka terjadilah “buku pegangan di sebelah kanan, buku karya di sebelah kiri”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kuliah sambil menulis berita.

Proses itulah yang dialami mahasiswa dalam perkuliahannya. Kuliah di kelas, lalu turun ke lapangan untuk meliput dan menulis berita. Hingga akhirnya mampu dipublikasikan secara resmi, buku yang ber-ISBN. Melalui unjuk karya buku jurnalistik ini, mahasiswa Unindra ingin menyampaikan pesan akan pentingnya praktik menulis sebagai perilaku, bukan hanya pelajaran atau teori.

Dengan panduan buku "Jurnalistik Terapan” karya Syarifudin Yunus terbitan Penerbit Ghalia Indonesia (cetakan ke-4), mahasiswa dilatih menulis sebagai proses. Agar mampu mengemas hasil liputan sebagai berita yang faktual. Sehingga kualitas berita yang disajikan lebih optimal.

Buku Negeri Hancur AKibat Korupsi” adalah buku yang diluncurkan oleh mahasiswa Unindra  peserta mata kuliah Jurnalistik pada 17 November 2019 lalu. Buku ini hadir sebagai protes kalangan generasi milenial terhadap maraknya praktik korupsi di Indonesia. Karena dengan menulis, kesadaran dan mentalitas koruptif pun dapat dibasmi.

Melalui buku ini, mahasiswa melakukan investigasi dan mengungkap fakta yang tersembunyi menjadi terang. Untuk menegaskan pentingnya budaya terjun ke lapangan, melihat fakta lalu menuliskannya, agar berita lebih akurat. Karena hari ini, betapa banyak orang yang “bicara” tanpa tahu fakta yang sebenarnya. Malas investigasi berarti malas menyelidiki kebenaran suatu informasi. Sebagai insan akademis, mahasiswa Unindra setidaknya sudah mempraktikkan prinsip investigasi jurnalistik. Agar tidak terlalu mudah bikin hipotesis, bikin prasangka tentang suatu peristiwa.

Kuliah sambil menulis. Ibarat “sambil menyelam minum air”, mahasiswa pun kuliah di kelas sambil praktik untuk mengenal cara kerja jurnalistik. Buku Negeri Hancur Akibat Korupsi adalah bukti nyata mahasiswa bisa menulis jurnalistik, berbekal aktivitas reportase dan wawancara di lapangan.

“Kuliah sambil menulis, itulah spirit yang selalu saya terapkan. Agar mahasiswa tidak sebatas belajar teori, Tapi harus mampu mempraktikkannya. Buku karya jurnalistik ini menjadi bukti bahwa mahasiswa telah terjun ke lapangan, meliput dan melakukan investigasi. Keterampilan ini yang harus dilatih pada mereka” ujar Syarifudin Yunus, dosen pengampu mata kuliah Jurnalistik saat membedah buku tersebut (18/12/2019.

Kuliah jurnalistik sambil menulis, secara filosofis, setidaknya telah mengajarkan mahasiswa untuk jujur terhadap dirinya sendiri.  Seperti “mulut yang diciptakan di depan agar tidak berbicara dibelakang”. Karena zaman now, terlalu banyak orang yang ingin memuji diri sendiri dengan cara membicarakan kejelekan orang lain. Salam jurnalistik

#KuliahJurnalistik #NegeriHancurAkibatKorupsi #JurnalistikTerapan

 

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler