#SeninCoaching: Pemimpin, Apa Anda Bahagia dan Merasa Bermakna? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 6 Januari 2020 13:16 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • #SeninCoaching: Pemimpin, Apa Anda Bahagia dan Merasa Bermakna?

    Dibaca : 3.898 kali

    #Leadership Growth: What Are You Going To BE?

     Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    “When I let go of what I am, I become what I might be,” Lao Tzu.

    Waktu dan ruang memungkinkan kita eksis. Menit-menit dan jam yang bergerak terus, angka-angka di kalender, pergantian siang menjadi malam dan malam bertukar kembali ke pagi, menghadirkan makna yang mendalam dan peluang bagi orang-orang yang menyadari, istilah Peter Drucker, “kemana waktu pergi.”

    Itulah golongan para eksekutif yang berperilaku efektif. “They start with their time. And they do not start with planning. They start by finding out where their time actually goes,” kata Peter Drucker.

    Di luar golongan itu, utamanya orang-orang berperilaku hubris, karena keangkuhannya atau akibat minder, pergantian tahun atau saat ulang tahun cenderung diartikan sebagai alasan perlunya pesta besar, perayaan, pengalihan masalah (denial), dan mengejar kehampaan. Semua itu penggalan events yang, jika dilakukan berlebihan, dapat menggerus kecerdasan.

    Kelamaan di tahap itu dapat menyebabkan mereka mereduksi diri –rela pula mengerahkan resources (uang dan waktu)– untuk jadi mangsa entertainment industry. Mereka terancam tidak eksis.

    Dr. Marshall Goldsmith dan Dr. Kelly Goldsmith beberapa tahun silam melakukan survei kaitan happiness dan meaning, untuk mengukur tingkat kepuasaan organizational dan personal dalam menjalani hidup.

    Kelompok partisipan yang menghabiskan banyak waktu untuk hiburan yang memang fun, tapi tanpa makna, mengaku telah mengalami kedangkalan hidup. Mereka tidak merasa puas di tempat kerja dan juga di rumah.

    Ini mengindikasikan, “an overpreoccupation with amusement may do harm than good,” tulis kedua Goldsmith (ayah dan anak perempuannya).

    Di sisi lain, para responden yang menghabiskan waktu lebih banyak untuk aktivitas-aktivitas penuh makna, tapi tidak membahagiakan, pada merasa seperti martir. Artinya, kalau Anda jungkir balik berkejaran dengan waktu hanya melulu menjalankan tugas, karena khawatir dimarahi atasan atau karena ketakutan lain, dan Anda melakukannya dengan (setengah) terpaksa, maka siap-siap jadi martir.  

    Kelompok ketiga perlu kita cermati: Para responden yang tercatat secara konsisten merasakan kepuasaan hidup di lingkungan kerja dan di rumah, terbukti merupakan golongan orang yang selalu memanfaatkan sebagian besar waktu mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang jelas memberikan kebahagiaan dan makna hidup.  

    Pada tahap itu, kita baru benar-benar eksis. Anda setuju kan, bahwa menjadi bahagia dan bermakna merupakan hal terbaik yang pantas kita lakukan dalam hidup?

    Excuse me, maaf, apakah di antara Anda sudah atau tengah menuju level itu? Berapa persen kira-kira di tempat kerja kita dan di lingkungan tempat tinggal kita orang-orang yang sudah berhasil benar-benar eksis?

    Sering pula kita dapati orang-orang di level eksekutif, atau mengaku dirinya sebagai leader, bekerja sangat keras –menghasilkan banyak uang-- lantas menghibur diri mereka dalam pelukan alkohol (bahkan narkoba), sebagiannya menghanyutkan diri dalam kesenangan (termasuk seks) tanpa batas. Apakah mereka benar-benar bahagia dan mendapatkan makna hidup?

    Kalau pun tidak hanyut dalam entertainment yang berlebihan, masih sering pula dapat kita temui kalangan eksekutif yang bekerja sangat keras kemudian mengalami burn out, seperti menghadapi jalan buntu.

    Gejala yang kelihatan antara lain berupa perilaku disparage people – merendahkan pihak lain (tim) demi mengamankan jabatan, ego, dan (kemungkinan juga) kepentingan pribadi. Dampaknya antara lain: organisasi mengalami bottleneck. Masalah bermunculan dari pelanggan, rekan kerja, vendors, dan diri mereka sendiri (para eksekutif senior tidak aligned). Para line managers berada pada kondisi constant alertness -- ini merupakan pemborosan kecerdasan. 

    Anda mengenali situasi atau kondisi seperti itu? Sekiranya di antara kita berada di dalam organisasi semacam itu, apalagi menjadi bagian dari unsur pimpinan di sana, apakah kita bisa hidup bahagia dan merasa bermakna?

    Kalau mau meraih kebahagiaan dan menjalani hidup bermakna, ada baiknya mendengar Peter Drucker, yang sejak puluhan tahun silam sudah mengingatkan pentingnya setiap organisasi, dan kita sebagai pribadi, memiliki misi, life purpose. Dalam khasanah pemikiran Jawa disebut mampu memahami sangkan paraning dumadi dan bernyali mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari.

    Untuk memiliki misi yang efektif, diperlukan upaya sungguh-sungguh memadukan tiga hal ini: peluang-peluang di hadapan kita; tingkat kompetensi; dan komitmen. Setiap pernyataan misi yang kuat mencerminkan ketiga hal tersebut.

    Kenapa perlu nyali untuk mewujudkannya? Masih sering dapat kita jumpai organisasi (dan pribadi) yang membuat misi dan visi hanya untuk pajangan ruang rapat, dinding lobi, dan ruang kerja mereka. Praktiknya? Jauh panggang dari api.

    Organisasi dan pribadi-pribadi yang konsisten pada misi mereka lazimnya memiliki keberanian (courage), sikap rendah hati, dan disiplin selalu melakukan asesmen ulang atas kompetensi masing-masing, bercermin diri, dan disiplin melakukan follow up setiap komitment. Misi utama bisa jadi tetap dipertahankan, tapi praktik operasional, budaya kerja, strategi, taktik, struktur, dan proses bisnis selalu berubah agar mampu menghadapi realitas sekarang.

    Jika ada eksekutif ngotot mempertahankan perilaku kepemimpinan sekarang, dengan alasan “kalau berubah bukan saya lagi, dong”, sesungguhnya ia telah mengubur dirinya sendiri – dalam lingkungan manajemen disebut jadi “deadwood”.

    Orang cerdas seperti Anda tentunya jauh lebih baik dari itu. Berani bercermin evaluasi diri, mampu menjadi eksekutif yang lebih efektif. Ujaran Lao Tzu lebih dari 2000 tahun silam tetap relevan sampai hari ini, “When I let go of what I am, I become what I might be.”

    Performance Anda menjadi ukuran utamanya.

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 jam lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 19 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.