Langkah Mudah Bangun Podcast Sendiri (Bagian 1) - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

ilustrasi mic podcast

Dewa Made

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 17 Januari 2020 07:18 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Langkah Mudah Bangun Podcast Sendiri (Bagian 1)

    Entah apa yang merasuki saya. Pertengahan tahun 2019, saya merelakan diri tercebur ke dunia baru. Dunia itu bernama podcast alias siniar.

    Dibaca : 1.014 kali

    Entah apa yang merasuki saya. Pertengahan tahun 2019, saya merelakan diri tercebur ke dunia baru. Dunia itu bernama podcast alias siniar.

    Ini adalah bagian pertama dari tulisan saya soal membangun podcast. Namun sebelum menuju ke langkah-langkah teknis, saya ingin berbagi cerita bagaimana podcast bisa membangkitkan ‘indra’ saya. 

    Awalnya saya tidak menaruh perhatian pada format konten yang tergolong baru di Indonesia ini. Hingga akhirnya saya iseng mengulik tren di Google. Pencarian kata kunci “podcast” di Google merangkak naik sejak akhir 2018. Pencariannya semakin melesat di 2019. Di situlah saya sadar bahwa terdapat dunia baru yang sumringah di luar dunia video yang biasa saya geluti.

    Awalnya, saya tahu mulai ada tren podcast bukanlah dari platform audio semacam: Spotify, Apple Podcast, Google Podcast, dan sejenisnya, melainkan dari ranah video: Youtube. Beberapa pesohor mulai membuat konten podcast yang sekaligus video, layaknya seperti podcast Deddy Corbuzier-yang mirip format show podcast Joe Rogan- ataupun Raditya Dika.

    Pemahaman awal di benak saya, podcast tidak lebih dari bentuk baru siaran radio di era digital. ‘Cuap-cuap’ di depan mikrofon lalu menyebarkannya ke khalayak. Bedanya hanya terletak di media siarannya. Tapi saya salah.

    Semakin masuk ke dunia per-podcast-an, saya semakin menyadari perbedaannya. Podcast berasal dari layanan audio milik Apple. Nama podcast diambil dari kata ‘iPod’ dan ‘broadcast’. Podcast memberikan keleluasaan pada pendengarnya untuk mengaksesnya kapanpun mereka mau. Jika kita telah mengenal 'video on demand', maka podcast saya sebut sebagai 'audio on demand'.

    Menyelami dunia podcast, konten podcast video ala Deddy ataupun Raditya ataupun Arief Muhammad ternyata masih kalah saing dibanding konsistensi Adriano Qalbi dalam membangun podcast (murni audio). Podcast Awal Minggu milik Adriano adalah yang melegenda di Indonesia karena sudah produksi sejak 2015. Namanya juga besar lewat platform audio Soundcloud. Saya pun tidak menyangka ada banyak orang yang tertarik pada bentuk konten audio berjam-jam ini di tengah arus konten video yang kencang dan melimpah.

    Saya kurang akrab dengan berbagai produk Apple yang serba premium. Tapi tanpa disadari, konten podcast ini justru telah saya konsumsi sejak lama lewat layanan website BBC Radio -sekarang tergabung dalam BBC Sound. Beberapa program yang yang sudah uzur adalah 6 Minute English dan The English We Speak.

    Jika kesadaran orang di Indonesia soal podcast baru terlihat di akhir 2018, di luar sana konten ini sudah tumbuh sejak 2005. Luar biasa bukan, kita ketinggalan sekitar 13 tahun! Tapi tidak apa, kita tidak bisa memaksakan selera konsumen.

    Dengan tumbuhnya ranah podcast, sepertinya ada tren media yang akan berubah. Kita (Indonesia) yang sering diidentikan sebagai orang yang lebih gemar menonton dan didongengi secara visual, justru membuka peluang konten baru berbentuk audio. Kontennya beragam, mulai dari komedi, cerita horor, konseling, berita, ceramah agama, hingga puisi.

    Yang menarik dari podcast di Indonesia sejauh ini adalah programnya tidak dikuasai radio mainstream (sebagai penguasa konten audio). Kalau iseng buka podcast chart di Spotify, isinya bukan menjual nama-nama besar radio, melainkan program-program yang dibangun personal dan independen. Meski tidak ditampik pula kalau penguasa chart-nya banyak berasal dari penyiar radio.

    Namun para penyiar radio yang membangun podcast ini berhasil melepas embel-embel nama besar radio tempat mereka bekerja. Mereka sukses menumbuhkan komunitas-komunitas kecil yang loyal dan menantikan berbagai cerita mereka sebagai podcaster. Hal ini terbukti dari 10 peringkat teratas podcast Indonesia yang tidak banyak berubah tiap minggunya.

    Konten podcast tidak hanya untuk anak-anak audio tapi anak-anak visual pun membutuhkannya. Ada masanya mereka butuh rebahan sembari memakai headset. Mendengar podcast hanya butuh konsentrasi untuk mendengar, jauh tidak melelahkan dibanding menonton yang butuh konsentrasi untuk mendengar dan melihat.

    Pertumbuhan pendengar juga bisa kita lihat dari makin beragamnya podcast yang lahir. Beberapa perusahaan media juga sedang berlomba memproduksi podcast. Saya pun telah membuktikannya, walaupun penggunanya belum sebesar Youtube. Tapi percayalah, pendengar podcast itu ada dan terus tumbuh.

    Membangun program podcast yang independen sangat mudah. Catat, sangat mudah dan murah! Tidak butuh investasi besar layaknya membangun stasiun radio. Beda halnya jika kamu membangun sebuah perusahaan podcast, tentu investasinya akan lebih besar.

    “Hei, kenapa tulisan ini masih belum menunjukkan langkah teknis membangun podcast?” Hm…. bukan bermaksud click bait, tapi saya akan sambung mengenai hal itu di bagian kedua.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.