Pujian atau Godaan untuk Sandi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo alias Jokowi menyapa mantan Ketua Umum HIPMI Sandiaga Uno (kiri) di Jakarta, Rabu 15 Januari 2020. Keduanya bertemu dalam acara Pelantikan Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Masa Bakti 2019-2022. TEMPO/Subekti.

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 Januari 2020 06:26 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Pujian atau Godaan untuk Sandi

    Dibaca : 1.645 kali

     

    Sandiaga Uno, mantan calon wakil presiden pasangan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, tengah menikmati kebebasannya. Tanpa jabatan publik, kecuali sebagai orang penting Gerindra, Sandi leluasa untuk bergerak ke sana kemari. Latar belakang pengalamannya sebagai pebisnis juga membuat ia mudah diterima oleh komunitas bisnis. Inilah advantage yang berguna bagi Sandi bila ia mencalonkan diri untuk maju ke Pilpres 2024.

    Posisinya berbeda dengan rekannya yang masih menjabat Gubernur DKI, Anies Baswedan. Upaya untuk meredam Anies, yang mungkin juga akan mencalonkan diri di Pilpres yang sama, terlihat dari serangan bertubi-tubi terhadapnya. Posisinya sebagai pejabat publik sebenarnya dapat menjadi modal politik, namun ia menghadapi situasi yang tidak mudah karena minim dukungan partai politik. Terlebih lagi, Anies terkesan ‘kurang nurut’ pada keinginan pemerintah pusat.

    Apakah pujian Presiden Jokowi kepada Sandi dalam suatu acara merupakan isyarat potensi dukungan Istana? Agaknya terlalu dini untuk melihat seperti itu. Jokowi mungkin berkepentingan terhadap siapa yang akan menggantikannya kelak dan ia tengah mengirim sinyal penjajagan kepada Sandi. Namun, mungkin saja ini sejenis godaan untuk mengetahui seperti apa reaksi Sandi.

    Kapital ekonomi yang dipupuk Sandi selama bergelut dalam bisnis sudah mencukupi untuk bekal terjun ke gelanggang pilpres mendatang, karena itu yang ia lakukan sekarang adalah memperluas dan memperkuat simpul-simpul jejaring yang berguna kelak. Tak bisa dipungkiri bahwa Sandi dilirik antara lain karena kapital ekonominya.

    Latar belakang bisnisnya memberi hikmah bahwa agar bisnis maju, memperluas pergaulan merupakan syaratnya. Begitu pula dalam politik, ia akan memilih untuk bersikap terbuka kepada banyak pihak ketimbang berkubu pada kelompok tertentu sejak dini. Membangun kubu sejak awal hanya akan memudahkan lawan potensial untuk menjadikannya sasaran tembak bahkan ketika gelanggang pilpres masih terbilang jauh.

    Pengalaman Sandi dalam politik memang masih terbatas, tapi agaknya ia akan cepat belajar. Ketika sebagian kelompok mendorong istrinya untuk maju ke gelanggang pilkada Tangerang Selatan, Sandi dan istri memilih untuk tidak memenuhi godaan itu. Dengan begitu, ia kini leluasa untuk menguatkan jejaring yang diperlukan empat tahun mendatang.

    Pertanyaannya: kemana arah pujian Jokowi dan Budi Gunawan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), yang juga Ketua Pengurus Besar eSports kepada Sandi—yang baru saja didudukkan sebagai Dewan Pembina e-Sports? Apakah di balik pujian itu ada pesan yang ingin disampaikan dalam rangka skenario 2024, misalnya saja kemungkinan menyandingkan Sandi dengan Puan Maharani? Bagi Jokowi, setelah ia diberi kesempatan oleh Megawati untuk maju menjadi presiden, bukankah sekarang waktu baginya untuk membantu memudahkan jalan untuk Puan? Lagi pula, Gibran mulai terjun ke dunia politik dan ia memerlukan topangan untuk kariernya di masa mendatang.

    Akankah Sandi menyikapi pujian itu sebagai pujian yang tulus atau godaan yang berpotensi membawanya ke dalam perkubuan sedari awal yang membuat ia tak punya banyak pilihan menjelang pilpres nanti? Wallahu ‘alam. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.