x

Iklan

ariyani syahniar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Januari 2020

Selasa, 4 Februari 2020 08:37 WIB

Nikmatnya Beribadah di Bumi Arraayah

Artikel ini menceritakan tentang kehidupan ma'had Aly Arraayah di Asrama Putri yang penuh dengan kenikmatan luar biasa tak ternilai harga

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Salah satu kenikmatan yang paling diidamkan kaum muslimin adalah kenikmatan beribadah. Manisnya iman akan terasa ketika kita memiliki kebebasan dalam melakukan kewajiban ibadah sebagai hak Allah subhanahu wataala. Untuk mencapai hal tersebut, banyak orang menciptakan suasana takwa dengan mendirikan tempat-tempat untuk para pemburu pahala.

Arraayah adalah penjara suci, di dalamnya terdapat para penghuni yang selalu menghiasi penjara itu dengan amal-amal kebaikan setiap hari. Keindahan alam yang dikelilingi oleh pepohonan ini membuat takjub setiap mata yang melihatnya. Kesejukan udaranya mengalahkan kesegaran taman di alun-alun kota. Kedamaian tempat ini menambah rasa syukur setiap orang yang bertafakur. Kokoh bangunannya seakan menceritakan betapa besarnya perjuangan para penuntut ilmu di tempat itu. Angin yang berembus seakan membisikan para penghuninya agar selalu beramal dengan niat yang tulus. Arraayah, sebuah tempat memenjarakan diri dari kejamnya kehidupan luar yang banyak dikelilingi perbuatan tanpa arti.

Bel berbunyi pada pukul 02.30, diiringi oleh suara kokok ayam yang seakan bekerja sama menghasilkan ritme indah menembus ruang mimpi memecah sunyi bumi Arraayah malam hari. Membangunkan para penghuninya untuk meneruskan mimpi dengan doa dan salat, merayu Sang Pemberi indahnya mimpi agar menjadikan mimpi itu sesuatu yang nyata. Berjuta mimpi penduduk Arraayah untuk kebaikan terangkat ke langit di sepertiga malam hari. Betapa indahnya menikmati ibadah di bumi Arraayah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Azan subuh berkumandang dengan lantunan yang indah menggiring setiap pendengarnya agar segera pergi ke mesjid untuk shalat berjamaah. Berjalan dalam setengah kegelapan diantara hembusan udara pagi yang segar membuat perjalanan ini selalu dirindukan. Setelah melewati lorong kecil, sampailah di pintu lantai dua dengan melangkahkan kaki kanan memasuki mesjid sambil berdoa.

Mengikuti salat berjamaah dengan qiroah imam yang indah menambah kekhusyukan para jamaah. Keindahan pagi hari Arraayah dilanjutkan dengan tilawah dan tahfizh quran di aula madrasah persis setelah melaksanakan salat berjamaah. Alangkah nikmatnya beribadah di bumi Arraayah.

Matahari mulai terbit seakan tersenyum indah menampakkan sinarnya menemani sarapan pagi ahli Arraayah. Kesibukan selanjutnya adalah bersih-bersih piket pagi hari, dengan berniat ibadah karena menjaga kebersihan adalah bagian dari iman. Kemudian, tibalah waktu untuk beranjak ke medan perang melawan kejahilan.

Suasana pagi yang tenang ini bertambah indah dengan membaca dzikir pagi dan suara murotal dari jihaz yang didengarkan untuk menemani perjalanan dari asrama ke gedung perkuliahan. Kedamaian pun semakin tampak dari tebaran ucapan salam setiap orang yang saling berpapasan di jalan. Betapa nikmatnya beribadah di bumi Arraayah.

Pukul 10 adalah waktu istirahat para mujahid. Meletakkan pedangnya sejenak untuk kembali berjuang dua puluh menit kemudian. Setiap waktu yang berlalu di tempat ini tidak pernah terlewat dengan sia-sia. Para pejuang ilmu biasanya memanfaatkan waktu untuk salat duha dan murojaah quran. Alangkah indahnya menikmati ibadah di bumi Arraayah.

Terik matahari menjadi saksi perjuangan mahasantri dalam menggali ilmu syar’i. Waktu ini dilalui dengan makan siang setelah salat dzuhur berjamaah dan mendengarkan khitobah. Kemudian dilanjutkan dengan qailulah, memejamkan mata sejenak untuk mengembalikan energi setelah KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pagi hari. Dengan waktu 30 menit sudah sangat cukup untuk memulihkan mata menjadi fresh kembali.

Di waktu ini, banyak yang menghabiskannya dengan membaca buku, menghafal dan murojaah quran, ataupun mengulang pelajaran yang didapat di kelas. Sambil menunggu azan asar yang dilanjutkan dengan kegiatan ma’had di sore hari, biasanya mahasantri meluangkan waktu untuk mencuci, mandi, dan bersiap-siap salat berjamaah dengan keadaan bersih dan wangi. Maasyaa Allah, betapa nikmatnya beribadah di bumi Arraayah.

Belajar adalah amanat terbesar dari orang tua yang menitipkan anaknya untuk ditempa ilmu agama. Maka tak heran jika di pondok pesantren ini selalu dipenuhi dengan belajar dan ta’lim setiap waktunya. Tidak terkecuali di malam hari, para mahasantri mengisi waktu malam dengan belajar. Ada yang menyukai belajar secara berkelompok, ada pula yang lebih mendalami ilmu dengan belajar mandiri, baik di kelas, maupun di perpustakaan.

Suasana belajar di kampus ini memiliki sensasi tersendiri. Ketika ada yang merasa kesulitan dalam memahami pelajaran, banyak teman yang bersedia untuk mengulang penjelasan. Begitupun dalam kehidupan diluar jam pelajaran. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, teman-teman selalu hadir untuk memberi pertolongan. Begitulah kehidupan santri STIBA Arraayah.

Menuntut ilmu tidak sekedar formalitas, tapi aplikasi dalam kehidupan sehari-hari menjadi ciri pembelajaran di kampus ini. Karena sebagaimana pepatah indah mengatakan :“Al’ilmu bilaa ‘amalin kasy-syajari bilaa tsamarin” yang maknanya : “Perumpamaan ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah” artinya ketika ilmu itu tidak disertai amal salih, maka tidak ada sesuatu yang dapat dimanfaatkan.

Menuntut ilmu merupakan suatu bentuk ibadah, karena dengan ilmu dan pengetahuan seorang muslim dapat membaguskan ibadahnya berdasarkan perintah Allah dan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim, seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan dalam hadistnya : “Tholabul ‘ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslimin” yang artinya “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas semua muslim”.

Maka dari itu, ibadah utama mahasantri Arraayah disamping ibadah fardhu adalah menuntut ilmu. Menjalani kehidupan dalam samudera ilmu dibimbing para dosen yang tidak pernah lelah mendidik santrinya untuk meneruskan tongkat dakwah warisan para nabi dalam naungan panji Islam.

Ikuti tulisan menarik ariyani syahniar lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan