Virus Corona, Menghantui Ramadhan dan Ekonomi Bangsa - Analisa - www.indonesiana.id
x

Deni Kurniawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Februari 2020

Selasa, 24 Maret 2020 16:12 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Virus Corona, Menghantui Ramadhan dan Ekonomi Bangsa

    Dibaca : 446 kali

    Bulan Ramadhan sudah di depan mata. Bulan yang paling dinanti-nanti oleh seluruh umat Muslim di dunia, tak terkecuali umat Muslim di Indonesia. Semua berharap melewati Ramadhan dengan penuh kekhusyukan ibadah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Namun, apakah di tahun ini harapan tersebut akan menjadi nyata?

    Dilansir tempo.com per 23 Maret 2020, juru bicara RI, Ahmad Yurianto, update positif corona sejumlah 579 orang, 30 orang sembuh dan 49 meninggal dunia. Hal ini menempatkan Indonesia pada Case Fatality Rate (CFR) atau tingkat kematian 9,3% di dunia.

    Hingga kini Indonesia terus bergelut melawan virus corona. Beberapa daerah mulai menggencarkan lockdown, hingga penanganan preventif misalnya, cuci tangan dengan sabun, pemakaian masker, hand sanitizer, dan lain-lain. Sekolah dan kampus ditutup, semua aktivitas sekarang berbasis online, mulai dari kerja, sekolah, kuliah, dan kebutuhan yang lain.

    Meskipun beberapa daerah telah memerintahkan untuk lockdown guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19, nampaknya pemerintah pusat belum berpikir untuk mengambil keputusan yang sama.

    Bahkan dikutip dari berbagai media per 22 Maret 2020, salah satunya tempo.co, memaparkan bahwa pemerintah Indonesia dalam hal ini Pak Jokowi tidak akan mengambil langkah lockdown. Hal ini diungkapkan oleh Kepala BNPB sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo.

    Hal ini diperparah dengan kesiapan peralatan kesehatan dari pihak rumah sakit yang masih minim untuk menangani Covid-19.

    Menurut dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Agus Dwi Santoso, peralatan kesehatan di rumah sakit rujukan penanganan virus ini tidak cukup. Ketersediaan alat bantu napas, ventilator, dan alat bantu diagnostik virus semakin menipis. (bbc.com).

    Bila hal ini tidak ditangani dengan massif dan sungguh-sungguh, maka kemungkinan besar Ramadhan akan terlewati bersama dengan Covid-19. Bahkan dari grafik proyeksi kasus Covid-19 di Indonesia, diperkirakan kasus wabah Covid-19 akan meningkat tajam di pertengahan April 2020.

    Dipandang dari pendekatan model matematika yang diteliti oleh Nuning Nuraini, Kamal Khairudin, Mochamad Apri, 3 peneliti dari Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi ITB serta kelompok kerja Matematika Industri dan Keuangan FMIPA ITB. Dari pihak BNPB sendiri sebenarnya sejak awal, 29 Februari 2020, telah menyatakan status masa darurat ditetapkan hingga 29 Mei 2020.

    Tentu hal ini menyayat hati, bagi kita warga Indonesia. Masyarakat tidak hanya butuh dihimbau untuk bekerja, sekolah, dan beribadah dari rumah demi memutus wabah Covid-19.

    Masyarakat butuh penanganan lebih dari itu. Penanganan ini harus dilakukan secara komprehensif. Tidak cukup hanya dengan social distancing, tetapi juga melalui pemeriksaan dan karantina yang memadai untuk menyelamatkan jiwa dan memutus mata rantai penularan. Entah mengapa pemerintah semakin terkesan tidak serius dalam menangani kasus ini, padahal efeknya bila dibiarkan sangat berbahaya.

    Tidak hanya masalah keselamatan dan keamanan, tetapi juga nyawa seluruh penduduk Indonesia.

    Menurut penulis, alasan utama pemerintah Indonesia tidak melakukan lockdown sebagaimana negara-negara lain adalah karena permasalahan ekonomi.

    Bila segala aktivitas keuangan diberhentikan, hal inilah yang akan mempengaruhi kestabilan bangsa ini. Masyarakat level menengah dan pekerja-pekerja formal akan merasa tenang-tenang saja dengan adanya lockdown, karena pemerintah menggratiskan 100% pajak penghasilan (PPh) pekrja dengan pendapatan hingga Rp16 juta per bulan.

    Lantas bagaimana dengan masyarakat yang bekerja di sektor informal atau dengan penghasilan yang tidak menentu setiap hari? Siapa yang akan memastikan hajat hidup dan keselamatan mereka?

    Tentu saja pemerintah tidak akan sanggup menanggung beban itu.
    Lagi-lagi mindset kapitalis masih menjadi pilihan pemerintah dalam mengatur masyarakatnya. Mindset meraih untung belum juga hilang meskipun negeri dilanda wabah yang mengerikan.

    Masalah ekonomi kapitalistik ini terus mengahantui di tengah-tengah masyarakat, baik dalam keadaan normal, ataupun keadaan genting. Diperparah lagi dengan keadaan wabah akibat pandemi ini. Masyarakat semakin dibuat tak tahu arah kemana harus mengadu dan memutuskan nasib hari esoknya.

    Watak kapitalis semakin kejam di tengah-tengah bahaya kematian di depan mata. Demi meraup keuntungan, rela mengorbankan nyawa umat manusia. Alat tes corona yang seharusnya bisa didapatkan secara mudah dan gratis, ternyata hanya ilusi semata. Alat tes virus yang diimpor dari China oleh PT Rajawali Nusantara Indoensia (RNI), Kementerian BUMN menyatakan bagi RS yang menginginkan alat tes tersebut dengan harga terjangkau, harus membeli dahulu dari PT RNI selaku pengimpor. Total telah ada 500 ribu alat tes yang tiba di Indonesia.

    Tentu musibah akan semakin parah ketika pemerintah Indonesia tidak mampu memutus ketergantungan kepada asing.

    Tidak hanya musibah pandemi Covid-19, tetapi juga ekonomi yang semakin terpuruk. Sebelum wabah terjadi, APBN 2020 mengalami defisit hingga menccapai RP125 triliun, disertai pula dengan utang luar negeri akhir Januari yang mencapai Rp6.079 triliun, bila dibiarkan hal ini akan semakin rentan diserang.

    Maka wajar saja jika keadaan ini kemudian dijadikan asing dengan mindset kapitalistiknya untuk meraup untung dari negeri-negeri di bawah cengkramannya, termasuk Indonesia. Seperti IMF yang telah mempersiapkan pinjaman sebesar US$50 miliar untuk negara berkembang yang membutuhkan dana guna menangani virus Corona.

    Pinjaman ini pun tak serta merta tanpa bunga, tentu saja disertai dengan bunga sebesar US$40 miliar dalam jangka waktu lima tahun. Bagi Indonesia pun tidak mustahil klausul ini akan diambil, mengingat Indonesia tidak bisa lepas dari asing dan sangat ‘terbuka’ dengan asing.

    Jika mindset ini terus dipakai, maka kita hanya tinggal menunggu jumlah pasien positif corona yang semakin meningkat setiap harinya karena tidak mendapatkan pelayanan yang memadai. Alih-alih mendapatkan tes gratis, masyarakat malah diminta membayar dengan biaya yang tinggi.

    Apalagi bagi mereka yang pekerja tak tentu atau pekerja di sektor informal, ada atau tidak adanya pemberlakuan lockdown akan membuat masyarakat dilema, di lain sisi mereka ingin terus menyambung hidup dengan bekerja, tapi di sisi lain wabah Covid-19 ters menghalagi mereka kelar rumah. Sebab, pemerintah tak mampu menanggng hajat masyarakatnya sendiri.

    Penanganan wabah ini tentu sangat berbeda ketika Eropa dilanda peristiwa The Great Hunger atau The Great Irish Famine pada tahun 1845-1852.

    Bantuan besar didatangkan oleh Khalifah Abdul Majid I dari masa Khilafah Utsmaniyah berupa 3 kapal besar berisi makanan, sepatu dan keperluan lainnya beserta 1000 poundsterling tanpa mengharap imbalan apapun.

    Berbeda dengan bantuan asing yang kini ditawarkan kepada negeri-negeri yang dilanda wabah, tentu di balik bantuan itu tersimpan maksud besar untuk meraup keuntungan.

    Menyelesaikan permasalahan di Indonesia tidak cukup hanya dengan memutus rantai penyebaran virus, tetapi juga memutus ketergantungan kepada asing dan sistem kapitalistik itu sendiri dan mencari alternatif sistem yang lebih mutakhir dan komprehensif dari segala sisi untuk mengatur umat manusia yang mampu menjadi Rahmatan lil ‘alamiin. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah Al-Ma’idah ayat 48 :

    “Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah peraka meraka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…..”

    Sungguh Islam telah datang dengan membawa aturan dan jalan yang terang, maka tugas kita saat ini adalah dengan menerapkan aturan tersebut secara kaffah hingga membawa umat kepada jalan yang terang. Wallahu ‘a’lam bissowab.

    Deni Kurniawan
    Penulis adalah Mahasisa Ekonomi

    Referensi :

    https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1323002/update-corona-579-kasus-30-orang-sembuh-49-meninggal

    https://www.google.com/amp/s/www.bbc.com/indonesia/amp/indonesia-51924204

    https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1322445/doni-monardo-presiden-jokowi-menginstruksikan-tak-ada-lockdown

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.

    Oleh: Mala Hayati

    16 jam lalu

    Analisis Wacana

    Dibaca : 101 kali




    Oleh: honing

    21 jam lalu

    Terlalu Sulit Menjadi Perempuan

    Dibaca : 106 kali

    Seorang pemikir perancis bernama Jacques Rousseau pernah berkata: “Manusia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara.” Kira-kira begitulah nasib perempuan. Ia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara. Di penjara oleh apa? dipenjara oleh sistem kolot yg ingin mendominasi. Jadi musuh utama perempuan adalah mental patriarki. Apa itu mental patriarki? mental patriarki adalah mental yang menindas perempuan dengan menggunakan ajaran-ajaran tradisional yang ditafsirkan secara bodoh dan serampangan. Mental ini seringkali dibiarkan dan akhirnya semacam menjadi sistem sosial yang di legalkan. Dalam kebudayaan kita, sistem ini begitu halus sehingga sebagian perempuan pun tidak merasakannnya. Jadi untuk menjelaskan hal ini, saya punya satu contoh cerita dalam keluarga saya. Ceritanya begini: Saya punya seorang sepupu (laki-laki) yang seusai tamat SMA, ia kembali ke kampung. Disana ia menikah dengan seorang perempuan yg ia kenal saat berkunjung ke sebuah kecamatan. Keluarga akhirnya berkumpul untuk melangsungkan acara adat (Masok minta). Setelah itu mereka akhirnya dikarunia 3 orang anak. Dalam beberapa tahun, keluarga kecil mereka baik-baik saja. Hanya saja, semua berubah saat sepupu saya mulai bekerja di kantor koperasi. Ia sering kali keluar ke beberapa kecamatan untuk menagih utang. Karna pekerjaan inilah, saudara saya akhirnya bertemu dan berkenalan dengan perempuan lain. Setelah berkenalan, kehidupan keluarga mereka berubah. Sepupu saya sering marah-marah dan memukul istrinya. Ia pun menyuruh istrinya untuk meninggalkan rumah mereka. Beberapa bulan kemudian, sepupu saya mulai membawa perempuan yang ia kenal ke rumah mereka. Ia kenalkan perempuan baru ini kepada ayah dan ibunya. Istri sah-nya yang memiliki 3 orang anak ini hanya bisa menangis. ia tidak tau harus mengadu kemana. Ia pun malu dan bingung karna sudah diusir oleh suaminya. Jika ia memilih untuk tetap bertahan, ia sudah tidak dianggap lagi. Sedangkan kalau dia memilih untuk meninggalkan suaminya, bagaimana dengan tiga orang buah hatinya. Oh iya, dalam bahasa daerah kita (bahasa dawan) , diceraikan biasa disebut dengan mpoli. Mpoli artinya diceraikan/dibuang/ditinggalkan. Sungguh, ini adalah sebuah kata yang justru semakin mendiskrimanasi seorang perempuan. Lanjut soal cerita diatas. Singkat cerita, istri sah dari sepupu saya ini akhirnya memilih meninggalkan suaminya. Ia membawa tiga orang anaknya kembali ke orang tuanya. Sesampainya dikeluarganya, 3 orang anaknya ia titipkan kepada kedua orang tuanya, lalu beberapa bulan kemudian ia memilih menjadi TKW di Malaysia. Cerita ini adalah kisah nyata yang terjadi sekitar 5 tahun lalu. Dalm tulisan ini, saya hanya mau mengajak kita untuk coba memikirkan masalah-masalah seperti ini dari sudut pandang perempuan. Coba bayangkan, sudah punya 3 orang anak lalu suaminya memilih bersama perempuan lain. Pertanyaan yang muncul setelah ini adalah bagaimana nasip 3 orang anak tersebut yg akan tumbuh dan besar tanpa kasih sayang orang tua? lalu coba kita pikirkan perasaan seorang perempuan yang diceraikan dan diperlakukan seolah tidak berharga. Bayangkan, laki-laki yang adalah sepupu saya, membawa perempuan lain ke rumah mereka. Kebetulan selama ini mereka tinggal dirumah tua atau tinggal bersama orang tua laki-laki. Salah satu hal yang membuat saya tidak bisa bayangkan adalah saat diceraikan, diusir dari rumah, bagaimana perasaan perempuan tersebut? Ia harus malu pada keluarga laki-laki, juga malu pada orang kampung yang sudah mengnggap rendah perempuan yang telah di ceraikan. Dalam kondisi seperti itu, tentunya perempuan akan depresi, dan sangat rentan pada banyak masalah-masalah sosial lainnya. Cerita seperti yang terjadi diatas sangatlah banyak dalam kehidupan kita. Sayangnya, dalam masalah-masalah seperti itu sudah dianggap biasa dalam kebudayaan kita. Dalam banyak kasus, laki-laki bahkan tidak pernah disalahkan. Yang sering terjadi adalah perempuan yang dianggap tidak mampu memuaskan suami, tidak becus urus keluarga dan lain-lain. Cerita diatas hanya salah satu contoh saja bahwa dalam kebudayaan kita, masih tersembunyi sistem patriarki yang membuat posisi perempuan selalu berada dibawah. Untuk itu, kita perlu dengan jeli untuk mendeteksi hal-hal dalam kebudayaan kita, agar hal-hal seperti diatas bisa kita tolak dan kalau bisa kita hilangkan sistem patriarki ini. Untuk melawan hal itu, perempuanlah yang harus berani untuk bersuara dan melawan. Perempuan harus betul-betul mampu melihat setiap masalah yang terjadi dgn jernih. Ini penting agar tidak malah menyalahkan perempuan dengan cepat-cepat mendukung posisi laki-laki. Banyak berita yang kalau kita baca di berbagai media. Perempuan hanya disuruh mengurus anak dan masalah-masalah rumah tangga lainnya, sedangkan laki-laki bebas bepergian kemana pun. Saat anak kekurangan susu, laki-laki masih terus santai dengan menarik rokok tanpa henti. Jika ada masalah dalam rumah tangga, perempuanlah yang akhirnya dikorbankan. Kalau perempuan dikorbankan, makan anak juga ikut dikorbankan. Selanjutnya, kita perlu menghilangkan sistem patriarki ini dengan mendidik anak laki-laki dan perempuan tanpa membeda-bedakan. Jangan menanam sistem patriarki pada anak laki-laki dengan membiarlan memukul saudara perempuannya, karna kalau tidak, ini akan terus terbawa sampai kelak ia berumah tangga. Kita semua memasuki gerbang kehidupan melalui perempuan. Sebagian besar manusia menjadi penghuni rahim perempuan selama sembilan bulan. Disanalah kehidupan tercipta. Ketika pertama kali menginjak dunia, kita juga dibimbing oleh perempuan. Cara-cara hidup dunia juga pertama kali diajarkan oleh perempuan. Perempuanlah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa kasih sayang perempuan, keluarga akan tersesat di jalan. Sayangnya, hampir di seluruh penjuru dunia, perempuan dipenjara. Budayalah yang memenjarakannya. Masyarakat menjajahnya. Perempuan memberi, namun ia tak pernah sungguh dihargai. Dia tak boleh belajar. Kecerdasan dianggap sebagai sumber pemberontakan yang menganggu harmoni masyarakat. Dia bahkan tak boleh bekerja. Seumur hidupnya, semua keputusannya didikte oleh lingkungan sosialnya, terutama para laki-laki. Sebagai ibu dari kehidupan, perempuan harus keluar dari penindasan ini. Ia mesti sadar, bahwa peran sosial yang ia jalani bukanlah sebuah kemutlakan. Berbagai pilihan ada di tangannya. Kaum perempuan perlu sadar bahwa kehidupan bertopang di bahu mereka. Mereka mesti bangkit dari perasaan tak berdaya yang ditimpakan oleh masyarakat. Namun, ini semua tergantung dari perempuan itu sendiri. Bisa dibilang, kunci perubahan sosial ada di dalam cara perempuan memandang dunianya. Menjadi perempuan berarti menjadi perawat kehidupan. Menjadi perempuan juga berarti hidup dalam dilema. Ia dipuja dan dibutuhkan, namun dijajah sepanjang jalan kenangan. Sudah waktunya, dilema ini diakhiri. Kita perlu mendorong pembebasan kaum perempuan. Sekarang.


    Oleh: honing

    23 jam lalu

    Perbedaan Identitas kok Jadi masalah?

    Dibaca : 129 kali

    Terlalu banyak konflik di Indonesia terjadi karena perbedaan identitas. Perbedaan ras, suku, agama, sampai dengan pemikiran hampir setiap hari kita saksikan di berbagai media. Perbedaan ini seringkali dijadikan sebagai pembenaran untuk memupuk dendam, saling hujat, hingga saling menaklukan. Lingkaran kebencian dan dendam pun seakan berputar pada masalah identitas semacam ini. Sayangnya, kita tak pernah belajar dari berbagai konflik yang diakibatkan dari kesalahpahaman kita akan identitas ini. Kita punya setumpuk pengalaman akibat perbedaan identitas, mulai dari deskriminasi mayoritas terhadap minoritas, perpisahan sepasang kekasih akibat berbeda suku, hingga tawuran antar pelajar yang adalah contoh kongkrit dari kesalahpahaman kita akan identitas. Lantas apa itu identitas? dan kenapa perbedaan identitas selalu menjadi masalah? Identitas itu adalah label sosial yang ditempelkan kepada kita. Label itu ditempelkan kepada kita, karena kita menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas tertentu. Nah, didunia ini ada beragam bentuk identitas atau label yang berpijak pada kelompok tertentu, mulai dari organisasi, ras, agama, suku, negara, hingga gender. Lalu dari mana kita menerima label-label itu? Kita menerima label atau identitas itu dari tempat, keluarga atau komunitas dimana kita dilahirkan. Kita menerima label atau identitas ini sejak lahir tanpa diberi pilihan. Identitas itu pun bisa berubah kapan saja, jika diinginkan. Bahkan identitas diri sendiri seperti nama pun bisa kita ubah kapan saja. Bisa kita buatkan julukan, samaran dan sebagainya. Sekali lagi, semua itu dimungkinkan, jika kita mau. Hal itu sama dengan berbagai identitas lainnya, salah sagunya adalah agama. Siapapun bisa masuk ke agama tertentu, dan juga bisa keluar atau berpindah ke agama yang lain, jika diinginkan. Perubahan keyakinan atau agama itu sejatinya adalah suatu hal yang lumbrah dalam proses kehidupan ini. Bukankah kita semua sepakat bahwa dalam hidup ini semuanya berubah? bahkan kata orang, yang tak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Masalahnya adalah, kita sering menyamakan dan melekatkan diri kita pada identitas sosial yang kita punya. Akhirnya banyak konflik terjadi akibat dari orang menyamakan dirinya dengan identitasnya. Kemelekatan akan identitas atau label ini menjangkit banyak kalangan tanpa kenal usia dan jabatan. Contoh dari kemelekatan seperti ini bisa kita temukan dimana saja. Banyak pembela agama yang berlagak melebihi Tuhan adalah hasil dari kesalahan mereka dalam memahami identitas. Mereka akhirnya begitu cepat tersinggung hanya karna menganggap agama sebagai diri mereka sendiri. Bahkan tak sesekali menafsirkan dan bertindak melebihi Tuhan itu sendiri. Para plitisi bermental feodal yang suka membangun politik dinasti adalah contoh lain dari kesalahan memahami identitas. Mereka menyamakan jabatan dengan dirinya, atau keluarganya sendiri. Akibatnya, saat kita mengkritisi posisinya sebagai kepala daerah, ia sangat mudah tersinggung karena merasa kita sedang menghina dirinya. Contoh lain dari kemelekatan seperti ini juga bisa kita temukan dalam hubungan (pacaran) kawan-kawan muda. Banyak yang saat masih berpacaran, sudah cepat-cepat menyamakan dan menganggap bahwa kekasihnya adalah miliknya. Padahal dalam hubungan berpacaran, semua bisa berubah kapan saja. Akhirnya, saat kekasihnya memutuskan hubungan atau berselingkuh, ia mengalami depresi yang sangat berat hingga bunuh diri hanya akibat dari kemelekatan semacam ini. Kemelekatan pada identitas atau label ini juga seringkali membuat kita sangat sensitif. Ketika salah satu label yang kita pegang itu dikritik, kita pun merasa terhina. Saat ada salah satu anggota dari komunitas (agama) kita berpindah keyakinan, kita pun menghujat karena merasa identitas kita tak dijaga atau tak diistimewakan. Tapi pada saat anggota dari komunitas yang lain masuk ke komunitas kita, kita justru merasa bangga. Tahun lalu, dalam sebuah seminar disalah satu kampus swasta di Surabaya. Salah seorang Dosen filsafat asal Surabaya, Rizal A Watimena, pernah berkata bahwa identitas itu punya dua karakter dasar, yakni kesementaraan dan kerapuhan. Orang yang melekatkan dirinya pada identitasnya, sama dengan ia melekatkan dirinya pada sesuatu yang sementara dan rapuh. Saya sepakat dengan beliau, identitas itu sementara dan rapuh, karena ia bisa berubah kapan saja. Konsep-konsep identitas, seperti ras, suku, agama, profesi dan aliran pemikiran, adalah ciptaan dari pikiran manusia. Karena ia adalah hasil ciptaan dari pikiran manusia, maka ia pun bisa kita ubah kapan saja, jika diinginkan. Orang bisa menjadi bagian dari suatu ras, suku atau agama tertentu, tetapi ia juga bisa melepaskan diri dari semua label atau identitas tersebut, kalau ia mau. Semua ini penting untuk dipahami. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan label atau identitas dalam hidup. Tapi kita menjaga jarak dari identitas itu sendiri agar kita tidak terjebak dalam lingkaran kebencian, saling hujat, memuja fanatisme buta, atau jatuh pada diskriminasi yang justru kita langgengkan sendiri. Sudah saatnya kita sadar dan belajar bahwa banyak konflik di Indonesia ini terjadi bukan karna perbedaan identitas, tapi karna banyak orang salah memahami perbedaan identitas. Hanya dengan menyadari hal ini, kita bisa dan mampu melihat setiap perbedaan dan pilihan identitas setiap orang bukan sebagai neraka, tapi sebagai kekayaan yang lahir warna-warni surga kehidupan itu sendiri. Salam



    Oleh: honing

    21 jam lalu

    Mendesain Sektor Pendidikan dan Pariwisata di Kabupaten TTS

    Dibaca : 96 kali

    Sebagian pemangku kebijakan didaerah memang masih ada yang beranggapan bahwa dengan menarik investor untuk mengelola sumber daya alam didaerah kita, maka seluruh permasalahan di kabupaten Timor Tengah Selatan akan terselesaikan. Pertumbuhan ekonomi akan meningkat, kemiskinan berkurang dan masyarakat akan sejahtera. Pertanyaannya apakah sesederhana itu? Menurut saya tidak. Pergerakan capital ke suatu daerah tanpa diikuti dgn pergerakan sumber daya manusia yang handal tidak akan menciptakan dampak ekonomi yang luas. Ini mungkin tepatnya seperti apa yang sedang terjadi saat ini. Saat pemerintah pusat mengalokasiskan dana ke daerah-daerah tertinggal atau menggelontorkan dana kesetiap desa, tapi tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Dana-dana yang digelontorkan itu seharusnya dimaknai sebagai stimulus saja. tidak lebih. Lalu, harus dimulai dari mana? Menurut saya, daerah kita akan semakin membaik jika kita memperkuat sumber daya manusia. Untuk meningkatkan sumber daya manusia Timor Tengah Selatan (TTS) yang handal bisa kita lakukan dengan jalan menjadikan Kota Soe sebagai kota pendidikan. Dimana ini nantinya akan menghasilkan efek ganda yang akan membawa perubahan mendasar pada sektor ekonomi yang juga berdampak pada peningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kita seharusnya tidak perlu malu-malu untuk belajar dari kota malang sebagai contoh. Mari coba dihitung, seandainya saat ini ada 300 anak TTS yang sedang menempuh pendidikan kota malang. Jika biaya hidup mereka (uang kos + makan minum) dalam sebulan adalah 1juta, maka setiap bulannnya uang dari kabupaten TTS yang seharusnya berputar di TTS harus keluar dan berputar di kota malang mencapai 300 juta (300 mahasiswa x 1juta). Ini mungkin salah satu contoh sederhana saja, bahwa kita sebetulnya juga ikut membangun kota Malang dan kota-kota lainnya. Nah, mari kita hitung ada berapa ribu mahasiswa TTS yang tersebar di Jogja, Salatiga, Malang, Surabaya, Kupang, Kediri dan lain-lain. Coba bayangkan, ada berapa banyak uang yang keluar dari daerah kita dalam setiap bulannya? Selain menata sektor pendidikan, Para pemangku kebijakan juga tidak perlu kaku untuk menata sektor pariwisata di Timor Tengah Selatan dengan memberi julukan bagi daerah ini. Seperti halnya Jogja dengan julukan kota pelajar, atau Malang dengan julukan kota pendidikan. Hanya dengan julukan seperti itu, sudah membuat jutaan orang datang ke kota-kota ini, dan ikut membangun kota ini tanpa disadari. Lalu bagaimana dengan daerah kita? Apakah kita masih ingin terus bertahan dengan julukan kota dingin? Selanjutnya, saya percaya bahwa kalau SDM yang handal ini kemudian hadir bersamaan dengan pergerakan modal, pasti akan mendorong kemajuan ekonomi didaerah kita. Jika langkah ini sudah kita lakukan, maka selanjutnya tugas kita adalah terus menerus memastikan agar SDM tersebut kemudian juga mengakumulasi capital, sehingga menciptakan inovasi dan mencetak SDM yang lebih handal. Hal ini penting, supaya dalam konteks pergerakan capital dan SDM itu harus mampu mendorong terciptanya pusat penelitian, fasilitas sosial dan pendidikan yang lebih baik secara berkala. Sekali lagi, coba bayangkan jika daerah kita ini dijadikan sebagai salah satu kota pendidikan, lalu dengan adanya sekolah dan kampus-kampus ini, para pengajarnya mendapatkan bea siswa keluar negri. Pastinya, kampus-kampus dan sekolah ini akan menjadi sumber penyebaran pengetahuan, dan tentunya akan terus menciptakan SDM yang handal. Belum berhenti disitu, dengan adanya kampus-kampus dan sekolah ini, tentunya akan ada pusat-pusat penelitian, dan dengan fasilitas yang ada maka sudah pasti akan menjadi corong inovasi dan teknologi yang selanjutnya akan kita gunakan untuk membangun daerah kita. Jika hal ini ditangkap oleh para pemangku kebijakan dan dengan pelan-pelan menata kembali birokrasi, menyediakan regulasi yang mendukung dan memfasilitasi masyarakat lokal, maka kedepan daerah kita akan memiliki aset baru yaitu berupa generasi dan tenaga kerja yang handal, yang kemudian akan menciptakan nilai ekonomi baru. Lalu pertumbuhan ini tentu akan menarik tenaga kerja handal di daerah lain untuk masuk ke wilayah ini dan menciptakan pertumbuhan lagi. Ini pasti akan berlangsung terus sehingga menjadi sebuah siklus yang berulang. Memang tugas para pemangku kebijakan di daerah kita ini kedepan haruslah benar-benar melihat kebutuhan daerah dalam jangka panjang, lalu membuat skala prioritasnya sambil pelan-pelan bergerak menuju apa yang sudah direncanakan dan apa yang ingin dituju. Menata tempat wisata di TTS Disamping fokus untuk menata dan memperbaiki pendidikan di TTS yang berfokus pada kualitas. Pemerintah juga perlu pelan-pelan memoles beragam wisata yang ada di TTS agar terintegrasi dengan aktivitas masyarakat, dan juga mampu menghasilkan efek ganda pada sektor ekonomi sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Beragam potensi wisata yang ada di TTS juga perlu dikaji dan di rencanakan dengan matang supaya tidak mengesampingkan masyrakat yang ada disekitar tempat-tempat wisata. Disamping itu, setiap bangunan kantor pemerintah, rumah warga, vila dan lain-lain disekitar tempat wisata perlu untuk dikawinkan dengan motif dan corak lokal yang ada di TTS. Hal ini penting agar ciri khas dari daerah kita benar-benar menyatu dengan bangunan dan budaya yang kita punya. Khusus untuk pembangunan vila di sekitar tempat wisata, menurut saya perlu untuk dibatasi agar dampak langsung dari tempat-tempat wisata ini tidak hanya nikmati oleh sekelompok orang saja yang mempunyai modal. Jadi, yang perlu diperkuat oleh pemerintah adalah rumah-rumah warga yang ada disekitar tempat wisata. Setiap rumah yang ada disekitar tempat wisata, minimal ada satu kamar yang harus diperbaiki untuk disewakan. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton disekitar tempat wisata. Disamping itu, makanan-makan lokal, kerajinan tangan dan lain-lain juga bisa langsung dijual kepada para pengunjung disekitar tempat wisata yang ada. Terkahir, tidak berlebihan jika saya beranggapan bahwa tugas pemerintah daerah ini haruslah seperti memoles Nona Timor. Tidak perlu mengumbarnya, tapi memolesnya pelan-pelan, memberikan pendidikan, mengajarkan budaya halus dan memasak, sehingga kelak ia bisa memenangkan hati seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Dan untuk memulai hal ini, para pemangku kebijakan haruslah benar-benar memiliki komitmen yang kuat, dengan hadir untuk memberikan stimulus terlebih dahulu.